Achli Bikin Betul Djam
Oleh : Agus U, jurnalis
Marknews.id – Tetangga di RK Ketanggungan, Bok II Ketanggungan Kulon, Kemantren Wirobrajan dahulu ada yang membuka usaha servis jam atau chronograph. Semua jenis jam mekanis — artinya yang ditenagai bukan baterai seperti jam model sekarang.
Tanpa papan nama, namun orang tahu. “S Pudjokartono” Achli Bikin Betul Djam. Hampir setiap orang di kampung ini akan tahu jika ada yang menanyakan alamat tempat memperbaiki jam. “Pak Pudjo Jam”, demikian disebutkan untuk membedakan dengan dua orang lainnya yang tinggal di kampung ini dan juga bernama Pujo. Pujo Rembyak karena rambutnya gondrong (rembyak), dan Pujo Becak yang berprofesi sebagai tukang becak sekaligus juragan becak di era 1960–1970-an.
Jam-jam mekanis ini pada dasarnya terdiri dari empat jenis: jam tangan atau arloji termasuk turnip — Nick Carter menyebutnya untuk jam saku (pocket watch), jam wekker, jam dinding, serta jam almari yang besar-besar.
Jam tangan dan turnip ukurannya kecil karena memang dibuat agar bisa dibawa ke mana-mana. Yang banyak dipakai masyarakat umum kala itu bukan Rolex atau Patek, melainkan merek seperti Nelson, Seiko, Orient, Citizen, Timex, dan sebagainya. Jam digital baru muncul di pasaran pada era 1980-an. Yang murah katanya jam selundupan yang dijual kiloan.
“Umuk-umukan” jam kala itu lebih pada berapa “batu” atau jewels pada mesin jam. Semakin banyak jewels dalam mesin jam, dianggap makin bagus. Jewels atau batu dalam jam berupa bulatan kecil berwarna merah muda yang menjadi penopang pada as roda putar, terutama pada roda yang terdapat pir kecil dan lembut yang disebut pir rambut. Kemudian muncul fitur lain yang disebut sebagai radium — ternyata fosfor — yang dipasang di pelat angka dan jarum jam agar tetap bisa terbaca saat gelap.
Jam wekker ditandai dengan adanya bel atau dering yang akan berbunyi sesuai jarum penunjuk alarm. Bel bisa ada di dalam mesin atau di atas badan jam itu sendiri. Sedangkan jam dinding biasanya agak besar dan dilengkapi dengan bel yang menunjukkan waktu secara tepat. Jam 1.00 bel berbunyi satu kali, jam 9.00 sembilan kali, jam 12.00 dua belas kali, dan seterusnya. Jam 13.00 hingga 24.00 tidak berbunyi 13–24 kali, tetapi tetap 1–12 kali.
Bahkan jam-jam mahal ada yang berbunyi setiap 15 menit. Tentu saja bunyi bel atau lonceng pada setiap 15 menit, 30 menit, dan tepat jam berbeda-beda. Yang paling indah adalah jam dengan bel atau lonceng yang melantunkan lagu Westminster. Keindahan nada pada bel jam Westminster ini kemudian menginspirasi seorang empu gending, KPH Notoprojo (KRT Tjokrowasito), menciptakan Ladrang Westminster.
Nah, semua jenis jam tersebut jika rusak atau perlu penggantian onderdil bisa diperbaiki oleh Pak Pujo Jam. Ongkos servisnya relatif murah. Memang ada tempat lain yang juga melayani servis jam. Bahkan, di tempat itu Pak Pujo sering membeli onderdil atau suku cadang jam. Ia bersepeda dari Ketanggungan melintasi Jalan RE Martadinata, Jalan KHA Dahlan, Jalan Bhayangkara, Jalan Reksobayan, kemudian A. Yani, belok ke utara dan menyeberang ke Toko Jam Rumus di Jalan Kidul Pasar. Kios paling barat adalah Toko Rumus, yang selain menjual aneka jenis dan merek jam, juga menyediakan berbagai suku cadang untuk jam mekanis.
Namun, keahlian memperbaiki berbagai jam ini akhirnya tergerus oleh usia, sementara penerusnya harus menghadapi perubahan zaman. Jam-jam mekanis murah telah dikalahkan oleh jam digital yang lebih murah dan mudah perawatannya. Ketepatannya tak diragukan, keandalannya sudah pasti, dan tentu saja waterproof serta tahan guncangan.
Kini, jam atau chronograph juga bergabung dengan ponsel, menjadi bagian yang selalu bisa dilihat melalui layar.
Satu pertanyaan yang sampai saat ini belum pernah terjawab. Orang hanya menjawab dengan kata-kata klise: mengapa hampir setiap iklan jam menunjukkan jarum pada angka 10 (jarum pendek) dan dekat angka 2 (sekitar jam 10 lebih 9)?
Kalaupun ada posisi jarum yang berbeda, biasanya itu bukan iklan profesional, melainkan foto jam yang diambil oleh penjual di marketplace.











