Beranda Jogja Tempo Doeloe Montor Keblak, Udhuk-udhuk, Edhek-edhek, dan Pespa
Jogja Tempo Doeloe

Montor Keblak, Udhuk-udhuk, Edhek-edhek, dan Pespa

Ilustrasi

Oleh : Agus U jurnalis

Marknews.id – Berbeda dengan anak-anak sekarang saat menyebut sepeda motor. Anak-anak masa kini langsung menyebut merek atau bahkan jenisnya. Mio J, King, Vega disebut tanpa menyebut Yamaha, atau PCX, Supra, Beat tanpa menyebut Honda. Begitu pula KLX tanpa menyebut Kawasaki.

Sementara pada masa 1970-an, anak-anak tidak menyebut nama merek. Nama atau merek sepeda motor baru akan diucapkan ketika melihat dari dekat. Lalu bagaimana anak-anak menyebutnya?

Montor Keblak, sebutan untuk sepeda motor besar yang biasanya dilengkapi dengan kereta tempel atau zijspan. Apa pun mereknya, jika sudah menjadi sepeda motor ber-CC di atas 250 dan dipasang zijspan di samping, akan disebut sebagai montor keblak.

Sedangkan yang tanpa zijspan biasa disebut Udhuk-udhuk. Motor besar lama ini umumnya menggunakan sistem 4-tak (four stroke engine) dengan gagang piston panjang, sehingga suaranya terdengar “antaal” — tidak menggebu, tetapi mantap dan menggetarkan: “Udhuk-udhuk-udhuk….”

Baik montor keblak maupun udhuk-udhuk kebanyakan merupakan motor buatan Eropa seperti Ariel, BMW, AJS, Norton, BSA, Condor, dan Harley Davidson (yang dulu sering disebut Harle Davidsen). Meski kini dikenal sebagai motor gede mewah, pada masa itu jarang terlihat.

Montor keblak dan udhuk-udhuk kalau di Kebumen dikenal dengan sebutan spedel.

Selain dua jenis tersebut, ada pula yang disebut Edhek-edhek. Sepeda motor ini biasanya ber-CC di bawah 125 CC, baik 4-tak maupun 2-tak. Termasuk dalam jajaran ini antara lain DKW Union, Sparta, Motobil, Kapitein Mobilette 125 CC (ada juga yang 48 CC), dan Adler.

Di bawahnya lagi, ada Edhek Ewer, yakni motor yang masuk golongan broomfiets atau sepeda kumbang. Jenis motor ini di antaranya DKW Hummel, DKW Super, Zundapp Sport, Ducati Luxor, Ducati Cucciolo (atau Ducati Garuda), Victoria, NSU, serta sepeda motor bermesin depan Solex. Solex ini memiliki mesin yang menggantung di depan, dengan roda putar kecil yang jika diturunkan akan bersentuhan dengan roda depan sepeda — dan sepeda motor pun berjalan.

Victoria, meski sama-sama buatan Jerman, kalah peminat dibanding DKW karena lampu depannya tidak ikut berbelok, sehingga disebut lampu celeng.

Pada era 1970-an kemudian muncul sepeda motor kecil bernama Labrettino, bermesin 48 CC dan matic. Namun, sistem matic yang digunakan berbeda dengan motor matic sekarang. Roda penggerak yang memutar roda belakang melalui rantai bekerja karena gaya sentrifugal dari roda di dalam lingkar roda pemutar.

Berbeda lagi dengan yang disebut Pespa. Semua jenis sepeda motor skuter, apa pun mereknya, akan disebut pespa. Jadi, Lambretta, ISO, Rabbit, dan sebagainya termasuk dalam golongan pespa.

Oh iya, dulu sempat ada sepeda motor buatan Cekoslovakia — kini terpecah menjadi Czech dan Slovakia — bernama Jawa. Sepeda motor ini dulu menjadi andalan dinas para Mantri Kesehatan.

Sebutan montor keblak, udhuk-udhuk, edhek-edhek, dan edhek ewer akhirnya tergusur dengan kedatangan sepeda motor buatan Jepang. Motor Jepang yang kecil, lincah, bertenaga, dan lebih murah membuatnya cepat populer. Honda menjadi merek yang paling merajai, hingga saat itu apa pun sepeda motornya disebut Honda. Untuk skuter, orang menyebutnya Vespa atau Lambretta, sementara jenis pespa lain mulai jarang terlihat.

Meski pada awalnya kedatangan motor Jepang sempat mendapat cibiran masyarakat — ada yang bilang besinya dari rongsokan kapal perang tenggelam, ada pula yang menilai mesinnya cepat rusak kalau panas, bahkan ada yang percaya motor Jepang sering “ketempelan arwah gentayangan” dari awak kapal perang yang tenggelam — namun perlahan motor Jepang berhasil membuktikan kualitasnya.

Secara perlahan tetapi pasti, motor Jepang menguasai pasar dan menggantikan dominasi motor Eropa. Pada era 2000-an, sempat muncul tantangan dari motor China seperti Jialing, Millenium, dan Garuda yang bentuknya hampir menyerupai Honda Supra. Namun, sepeda motor asal Jepang tetap mampu bertahan dan mempertahankan dominasinya di pasar.

Sebelumnya

KA Bangunkarta Tabrak Mobil dan Dua Motor di DIY, Tiga Orang Tewas dan Enam Luka-Luka

Selanjutnya

Achli Bikin Betul Djam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement