Beranda Jogja Tempo Doeloe Wela… Lenthuk Isi Tempe…
Jogja Tempo Doeloe

Wela… Lenthuk Isi Tempe…

Gambar : Cookpad

Marknews.id – Puluhan tahun lalu, di pasar-pasar yang tersebar di berbagai pelosok Daerah Istimewa Yogyakarta, banyak dijual aneka makanan tradisional buatan rumahan. Tidak seperti sekarang, makanan jajanan lebih banyak buatan pabrik atau setidaknya industri kecil.

Berbeda pula dengan yang diperdagangkan. Di pasar tradisional masa kini, kebanyakan makanan dibuat dengan proses cepat dan bercita rasa manis. Sementara itu, banyak jajanan yang dulu pernah ada di pasar tempo dulu kini sudah tidak ditemukan lagi.

Dalam berbagai sajian kegiatan masa sekarang, makanan tradisional yang dihidangkan umumnya berupa rebusan seperti kacang, jagung, dan ketela. Semua diolah dengan cara direbus. Mengapa hanya itu? Karena paling mudah dicari dan paling mudah diolah. Bahkan kalau membeli di pasar, pilihannya juga hanya itu-itu saja. Sesimpel itu.

Jangan berharap menemukan gethuk, wajik, wajik klethik, atau gorengan seperti bakwan jagung, resoles (yang kini disebut rosol), lumpia, dan tempe goreng tepung yang disebut mendoan—meski sebenarnya bukan mendoan.

Bakpia? Jarang sekali makanan kondang ini masuk meja saji. Hampir tidak ada perusahaan bakpia yang membuat kemasan satuan.

Sedangkan di warung gorengan, warung makan, atau angkringan, jajanan yang tersaji biasanya hanya bakwan, tahu goreng, tahu susur (sebutan lama untuk tahu brontak), dan tempe goreng tepung.

Padahal dahulu, di pasar-pasar banyak ditemukan penjual ongol-ongol (jenang pelok—karena dibuat dari pelok atau isi mangga), balung kuwuk (manggleng ubi garut), thiwul, thiwul juruh, thiwul alus, trk bintul (thiwul kacang merah), gethuk, gethuk lindri khas Magelang, lopis, dan cethil (kini disebut cenil). Kipo? Tidak banyak diperjualkan. Makanan tradisional ini hanya ada di Kotagede.

Untuk jenis gorengan lainnya, masih ada timus, cemplon, empleng-empleng—mirip cemplon tanpa isi namun dibentuk gepeng—dan lenthuk.

Ada pula makanan yang tidak diketahui dengan pasti apa sebutannya. Bentuknya seperti lenthuk, tetapi ketika digigit ternyata berisi tempe. Katanya, ketika orang pertama kali menyantapnya, ia terkejut dan spontan berkata:

“Wela… lenthuk isi tempe…”

Akhirnya, makanan itu pun dinamai Wela. Dulu, di Pasar Ngringin (Pasar Legi) Patangpuluhan—yang kini menjadi lokasi kantor Bank Jogja—jajanan ini dijual di dalam pasar bagian selatan.

Namun kini, makanan itu masuk daftar yang sudah tak lagi ditemukan. Begitu pula dengan makanan mirip gethuk bernama Iwel, yang dahulu hanya bisa dijumpai di salah satu pasar di Tempel, Sleman.

Makanan jajanan di pasar saat ini pun sudah berganti dengan yang lebih modern. Bahkan jajanan di halaman sekolah kini didominasi gorengan khas Jawa Barat, seperti cireng dan cilok.

Sudah jarang pula ditemukan warung dekat sekolah yang menjual pecel atau gudangan, alen-alen, dengan minuman cao—bukan camcau. Cao hanyalah air putih yang diberi pewarna, serutan kelapa muda, dan pemanis sakarin.

Begitulah kisahnya.
Sekeping kenangan dari pasar-pasar tempo dulu yang kini tinggal cerita.
Wela… lenthuk isi tempe… sebuah seruan sederhana yang melahirkan nama jajanan legendaris. Kini, ia hilang ditelan zaman—menyisakan aroma nostalgia yang gurih di ingatan, tapi tak lagi bisa dicicip di lidah.

Sebelumnya

Sistem Pengelolaan Tak Terpadu, Ombudsman DIY Soroti Akar Masalah Sampah di Yogyakarta

Selanjutnya

Qurrotul Uyun, Kitab Erotis yang Etis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement