Beranda Gaya Hidup Revolusi Beras
Gaya Hidup

Revolusi Beras

Ilustrasi

Marknews.id – Pemahaman pada bisnis beras kini telah berubah dibanding ketika era 1970-an. Paling tidak pada sisi penyebutan yang berimbas pada harga dan pemahaman terhadap rasa ketika sedang dalam proses menanak nasi.

Yang orang sekarang ketahui ketika membeli beras hanyalah kualitas premium atau medium, dengan varietas yang sangat terbatas: Menthik, Menthik Wangi, Menthik Susu, C4, dan Delanggu.

Di masa saya kecil dahulu, orang membeli beras  atau yang dalam bahasa Jawa disebut nempur  dengan harga yang melekat tergantung varietas beras itu sendiri. Rata-rata kualitasnya adalah premium, sebab beras kualitas di bawahnya kurang disukai dengan alasan terlalu banyak menik atau beras pecah (kecuali memang akan dibuat meniran, makanan khas yang terbuat dari menir).

Orang dahulu kalau membeli beras, untuk kelas tertinggi adalah Rajalele, disusul beras Jawa. Keduanya termasuk pari jero, yakni padi yang memerlukan waktu lama mulai dari masa tanam hingga panen. Baru setelah itu beras lain yang varietasnya lebih rendah.

Seiring mulai adanya penggilingan gabah, muncul pula label tambahan: beras tuton atau giling mesin. Beras tuton adalah sebutan untuk beras yang prosesnya ditumbuk atau ditutu pada lesung, bukan digiling dengan mesin. Beras tuton memiliki harga yang lebih tinggi ketimbang yang digiling mesin, apalagi jika telah melalui proses sosoh atau tuton ulang agar makin bersih dan cemerlang.

Proses “pengupasan” gabah menjadi beras dahulu selalu meninggalkan sekam (mrambut), yang paling kasar. Kemudian yang lebih halus adalah dedak, dan limbah paling halus adalah bekatul atau katul. Katul, selain untuk pakan ternak, masih bisa diolah menjadi makanan manusia yang konon dapat membantu mencegah atau menyembuhkan penyakit beri-beri yang disebabkan kekurangan vitamin B1.

Era 1970-an memang menjadi masa awal penanaman pari jero tidak lagi dilakukan oleh petani kita. Pemerintah mengeluarkan bibit padi usia pendek yang dapat dipanen hanya dalam waktu 120 hari, bahkan 90 hari. Padi itu disebut PB.

Ketika perintah dari penguasa digaungkan, siapa pun yang menanam pari jero akan menghadapi kekuasaan. Tanaman padi akan dibajak dan dirusak oleh alat kekuasaan. Petani hanya bisa menyerah dan mengikuti perintah penguasa. Meski demikian, ada yang diam-diam menanam atau menyimpan bibit pari jero. Ini dilakukan oleh petani yang punya akses ke kekuasaan atau yang tinggal jauh di pelosok sehingga tidak terjangkau oleh tangan penguasa.

Beras PB inilah yang kemudian menjadi beras jatah bagi TNI, Polri, dan PNS. Tiap anggota keluarga yang tercatat sebagai istri/suami dan anak, masing-masing mendapat jatah 10 kilogram per bulan. Namun berasnya sering apek dan terkadang banyak kutu. Untuk mematikan kutu, beras biasanya disemprot obat anti-kutu, atau oleh orang zaman dulu dikatakan “diinjeksi”. Sebutannya pun menjadi beras injeksi. Baik PNS Golongan I maupun Golongan IV, atau TNI-Polri dari tamtama hingga perwira, menerima beras jenis yang sama.

Hanya orang yang punya uang saja yang kemudian menjual beras pembagian ini ke pasar dan membeli beras yang kualitasnya lebih baik. Akhirnya muncul pedagang beras yang menjadi langganan para abdi negara. Mereka membeli beras jatah dan siap mengirimkan beras sesuai keinginan pelanggan.

Muncul pula oknum nakal: beras yang dibeli dari pegawai pemerintah kemudian dijual ke pemasok beras untuk kepentingan abdi negara. Dan beras pun berputar dengan baik  pegawai menerima beras dari pemerintah, beras dijual ke pedagang, pedagang berhubungan dengan oknum, beras kembali masuk gudang, dari gudang kembali didistribusikan.

Kondisi ini diketahui setelah banyak PNS saat itu mengeluhkan beras yang ketika ditanak memunculkan bau busuk seperti “tai” (maaf). Mendengar situasi ini, Sri Sultan Hamengkubuwana IX langsung kembali ke Jogja. Tanpa mengutus orang, beliau membeli sendiri beras pembagian dan menanaknya. Benar apa yang dikeluhkan kawula Ngayogyakarta Hadiningrat. Satu perintah keluar: tak boleh ada lagi pembagian beras kualitas buruk untuk abdi negara di DIY. Klaar atau clear  bulan berikutnya situasi membaik.

Beras TEKAD

Untuk mengatasi sulitnya memenuhi kebutuhan beras bagi rakyatnya, selain pemerintah kemudian menyediakan bahan pangan murah, bulgur. Kata bulgur itu sendiri sebenarnya keseleo lidah orang dalam menyebut  nama sebenarnya adalah burgul atau bourghul. Bahan pangan ini berasal dari biji-bijian gandum utuh yang telah direbus, dikeringkan, dan digiling kasar. Di negara-negara Eropa, ini adalah pakan ternak.

Dalam upaya membantu mengatasi kesulitan bahan pangan, satu pabrik di Yogyakarta tepatnya di Jenggotan, Tegalrejo  membuat bahan pangan berbahan baku campuran tepung terigu, kedelai, dan kacang. Beras buatan ini dicetak berbentuk jajaran genjang kecil berwarna cokelat, mirip Wybert pastilles.

Namun upaya ini gagal mendapat pasar. Apalagi, tidak mudah memasak beras TEKAD. Ia harus dikukus, tidak boleh direndam. Mengukusnya pun tidak boleh terlalu lama, apinya harus dijaga stabil. Kalau tidak, ya blenyek.

Dan pula, orang Jawa bilang:

“Mbok arep wis mangan panganan sepirang-pirang, nek durung klebon sega yo durung mangan.”
(Mau sudah makan makanan apa pun, kalau belum makan nasi ya belum makan.)

Kesulitan pemerintah memenuhi kebutuhan beras memang sangat terasa. Apalagi kemudian pemerintah “memaksa” seluruh suku bangsa di negeri ini menjadikan beras sebagai makanan pokok. Padahal dahulu tidak. Bahkan di Jogja sendiri, banyak warga  bahkan yang kaya sekalipun  sarapan dengan thiwul, tidak harus nasi.

Sebelumnya

Fathul Izar: Kitab Seks di Tengah Badai Romantika Modern

Selanjutnya

Redmi K90 Pro Max Resmi Meluncur, Ponsel Flagship dengan Performa Gahar dan Desain Premium

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement