Menyimak Pesan Luhur Lewat Lensa: Pameran Fotografi “Melik Nggendong Lali” Membaca Ulang Warisan Jawa
MARKNEWS.ID, YOGYAKARTA — Seni kontemporer kian menemukan jalannya sebagai medium refleksi kebudayaan. Hal ini kembali ditegaskan melalui pameran fotografi dan videografi bertajuk Melik Nggendong Lali yang digagas seniman Butet Kartaredjasa bersama tim kreatif lintas bidang. Menjadi kelanjutan dari pameran sebelumnya pada 2024, karya ini tidak hanya menampilkan estetika visual semata, tetapi juga membawa penonton menelusuri ulang jejak filosofi Jawa yang sarat makna.
Menghidupkan Falsafah Lewat Medium Digital
Dalam upaya menjaga relevansi ajaran leluhur, Butet menghadirkan narasi klasik ‘eling sangkan paraning dumadi’ — ajakan untuk selalu ingat pada asal-muasal diri manusia. Pesan ini dihidupkan melalui simbol ikonik: patung Petruk berwujud Pinokio Jawa berbusana raja, tokoh rekaan yang menyindir sifat angkuh manusia.
Berbeda dari tahun lalu yang didominasi lukisan, pameran kali ini memanfaatkan kekuatan medium fotografi dan videografi. Proses kreatif dilakukan di lokasi-lokasi bersejarah yang menyimpan jejak peradaban Mataram, seperti Gedung Agung, Alun-alun Utara, Situs Kerto Plered hingga Gumuk Pasir Parangtritis. Dengan latar otentik tersebut, figur Petruk seolah berdialog dengan ruang dan waktu, menumbuhkan tafsir baru akan nasib manusia yang terjebak tamak dan lupa diri.
“Butet dan tim memadukan artefak tradisi dengan teknologi digital. Ini cara cerdas membumikan ulang nilai Jawa ke generasi masa kini yang akrab dengan visual,” ungkap Ong Hari Wahyu selaku pengarah artistik.
Sebuah Peringatan Lewat Imaji
Simbol-simbol visual yang dihasilkan tak sekadar ornamen seni. Karya fotografi dan video ini menjadi semacam wirid visual—renungan kontemporer yang mengingatkan betapa mudahnya manusia tergelincir oleh ambisi buta. Properti tambahan, aksesoris, interaksi dengan hewan atau warga setempat, memperkaya narasi sekaligus membuka pintu interpretasi publik.
Dalam setiap tangkapan kamera, patung Petruk yang ‘menyamar’ jadi raja, berdiri di titik-titik keramat. Ia seolah menyindir penguasa mana pun yang lupa bahwa jabatan dan harta hanyalah titipan, bukan hak mutlak.
“Orang bisa celaka kalau hadir bukan sebagai dirinya. Itu pesan utama leluhur Jawa yang terus saya ulang melalui karya,” jelas Butet Kartaredjasa.
Kerja Kolektif Penuh Makna
Produksi pameran ini digarap oleh tim multidisiplin: Doni Maulistya dan Aralee Niken bertanggung jawab pada pengambilan gambar, Monica Ghiotto pada produksi video, sementara Basuki mendampingi proses pembuatan patung ikonik Petruk/Pinokio. Proses dokumentasi dilakukan intensif selama enam hari pada April dan Mei 2025.
Tak hanya sekadar pameran, karya ini diharapkan membangkitkan diskusi publik tentang cara manusia modern menempatkan diri di pusaran kekuasaan dan materi. Lewat bahasa visual, Butet menantang kita semua untuk menakar ulang: masihkah kita eling pada sangkan paraning dumadi?
Meneguhkan Seni Sebagai Penjaga Ingatan
Pameran Melik Nggendong Lali adalah bukti bahwa seni bukan sekadar soal estetika, tetapi juga medium perlawanan terhadap lupa. Dalam era digital yang serba cepat, ingatan kolektif kadang terpinggirkan oleh hiruk-pikuk informasi. Melalui karya ini, Butet Kartaredjasa dan timnya berupaya memahat ulang pesan kuno ke dalam format baru, menjadikannya jembatan antara masa silam dan masa depan.
Bagi penikmat seni, karya ini bukan hanya suguhan gambar, melainkan ajakan merenung—apakah kita masih ingat pada akar atau justru semakin asyik tertipu gemerlap dunia?











