Warga Keluhkan Dentuman Musik Kafe di Bukit Pangol, Terdengar hingga 100 Meter Lebih
BANTUL, Marknews.id — Warga di sekitar Bukit Pangol, Kalurahan Srimulyo, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengeluhkan dentuman musik keras dari sebuah kafe yang berlangsung setiap malam. Selama sekitar tujuh bulan kafe itu beroperasi, suara musik terdengar sejak selepas Magrib hingga malam dan menjangkau permukiman yang berjarak lebih dari 100 meter.
Pada akhir pekan, musik dari kafe tersebut disebut berlangsung hingga sekitar pukul 23.00 WIB. Sementara pada malam hari biasa atau weekdays, suara musik masih terdengar hingga sekitar pukul 22.00 WIB.
Keluhan terutama datang dari warga yang tinggal di lereng barat dan barat laut Bukit Pangol, sekitar Padukuhan Payak Cilik RT 01 dan Bintaran Wetan RT 06.
Tujuh Bulan Mendengar Dentuman
Selama tujuh bulan terakhir, warga mengaku setiap malam mendengar suara musik dari kawasan kafe. Musik tersebut hadir dalam bentuk pertunjukan langsung maupun melalui pengeras suara.
Akhmad Fikri, warga RT 06 Bintaran Wetan, mengatakan kafe tersebut menampilkan musik dengan genre yang berganti-ganti. Namun, menurut dia, satu hal yang tetap sama adalah kerasnya suara yang terdengar sampai ke permukiman.
“Yang tidak berganti adalah dentuman suaranya yang begitu nyaring terdengar,” kata Fikri, Ahad, 6 September 2026.
Fikri mengatakan warga semula berusaha memaklumi aktivitas kafe tersebut. Ia memahami tempat usaha membutuhkan promosi dan hiburan untuk menarik pengunjung.
Namun, kata dia, persoalan muncul ketika suara musik terus terdengar setiap malam, mulai selepas Magrib hingga malam.
Bukan Keberadaan Kafe yang Dipersoalkan
Fikri menegaskan warga tidak mempersoalkan keberadaan kafe ataupun kegiatan bisnisnya. Warga, kata dia, hanya meminta pengelola mempertimbangkan lingkungan di sekitar Bukit Pangol yang berada di bawah kawasan kafe.
Menurut Fikri, suara musik yang keras dapat mengganggu berbagai aktivitas warga. Mulai dari orang yang sedang sakit, anak-anak yang belajar, hingga kegiatan masyarakat seperti kenduri.
Fikri sendiri mengatakan setiap malam menggelar pengajian serat bersama sejumlah santri di pondoknya. Suara musik dari arah Bukit Pangol ikut terdengar ketika kegiatan tersebut berlangsung.
“Cobalah sekali waktu turun ke lingkungan kami. Dengarkan dentuman live music itu dari tempat kami. Mungkin akan mengerti,” ujarnya.
Warga Tidak Meminta Kafe Tutup
Fikri mengatakan warga tidak meminta pengelola menghentikan kegiatan usaha. Mereka hanya berharap pengelola menurunkan volume musik sehingga kegiatan bisnis tetap berjalan tanpa mengorbankan ketenangan lingkungan.
Menurut dia, persoalan tersebut seharusnya bisa diselesaikan dengan mempertimbangkan kepentingan kedua pihak.
“Yang kami harapkan sederhana. Usahanya tetap berjalan, musik tetap bisa dimainkan, tetapi volumenya jangan sampai mengganggu lingkungan,” kata Fikri.
“Sithik Eding”, Soal Tahu Diri dan Tenggang Rasa
Fikri kemudian menggunakan istilah Jawa “sithik eding” untuk menggambarkan harapan warga kepada pengelola kafe.
“Sithik eding itu mudah dikatakan, tetapi sulit dijalankan. Kecilkan suaranya, jalankan bisnisnya dengan senang. Aku senang, kamu senang,” kata dia.
Dalam konteks keluhan tersebut, istilah “sithik eding” merujuk pada sikap tahu diri, tenggang rasa, dan kesediaan mempertimbangkan keberadaan orang lain sebelum melakukan sesuatu yang berpotensi mengganggu lingkungan.
Bagi warga, tenggang rasa menjadi penting karena karakter geografis kawasan Bukit Pangol membuat suara dari lokasi kafe dapat terdengar hingga permukiman di bawahnya.
Warga Berharap Ada Komunikasi
Fikri mengaku tidak mengetahui secara pasti perizinan maupun komunikasi antara pengelola kafe dan lingkungan setempat. Ia berharap persoalan suara musik tersebut dapat diselesaikan melalui komunikasi antara pengelola usaha dan warga yang terdampak.
Bagi warga, keberadaan usaha di kawasan perbukitan bukan persoalan utama. Mereka mempersoalkan suara musik yang merambat turun ke lembah dan permukiman ketika malam tiba.
Setelah tujuh bulan menghadapi kondisi tersebut, warga berharap pengelola mempertimbangkan volume musik. Bagi mereka, bisnis tetap bisa berjalan dan pengunjung tetap dapat menikmati hiburan tanpa membuat warga kehilangan ketenangan malam hari.
*****









