Beranda Berita Utama Karhutla Kalimantan Meningkat, Geopix Ungkap 78,5 Persen Titik Api Berada di Habitat Orangutan
Berita Utama

Karhutla Kalimantan Meningkat, Geopix Ungkap 78,5 Persen Titik Api Berada di Habitat Orangutan

MARKNEWS.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan sepanjang periode pemantauan Juni hingga Agustus 2026 turut menimbulkan ancaman serius terhadap habitat orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus).

Temuan tersebut disampaikan Geopix melalui hasil pemantauan seri pertama mengenai karhutla dan dampaknya terhadap spesies payung, yakni orangutan Kalimantan. Analisis dilakukan menggunakan data resmi pemerintah, termasuk data titik api atau hotspot dari Kementerian Kehutanan pada periode 1 Juni hingga 28 Agustus 2026.

Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menyampaikan keprihatinannya terhadap dampak karhutla yang tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga satwa liar yang bergantung pada ekosistem hutan.

“Doa, pikiran, dan solidaritas kami untuk seluruh masyarakat Indonesia yang menjadi korban dan menderita karena sesak nafasnya akibat krisis kebakaran hutan dan lahan. Krisis ini adalah pukulan terberat bagi kita, tidak hanya bagi manusia tetapi juga satwa liar didalamnya” tutur Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix.

Agustus Jadi Periode dengan Lonjakan Hotspot Tertinggi

Berdasarkan analisis Geopix, jumlah titik api di habitat orangutan Kalimantan mengalami peningkatan ekstrem pada Agustus 2026. Sebanyak 17.375 titik api tercatat berada di habitat orangutan sepanjang bulan tersebut.

Jika dibandingkan dengan kondisi pada Juni dan Juli 2026, persebaran hotspot pada Agustus terlihat lebih padat dan masif. Geopix mencatat sebagian besar titik api tersebut berada tepat di dalam kawasan yang menjadi habitat orangutan.

Secara keseluruhan, terdapat 22.744 titik api yang terdeteksi di seluruh wilayah Kalimantan selama periode pemantauan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 17.865 titik atau sekitar 78,5 persen berada di wilayah habitat orangutan.

Data tersebut menunjukkan tingginya tingkat keterpaparan kawasan habitat orangutan terhadap karhutla. Kondisi ini berpotensi memberikan dampak lanjutan terhadap ekosistem yang menjadi tempat hidup satwa tersebut.

Lebih dari 25 Juta Hektare Areal Terbakar

Ancaman terhadap habitat orangutan juga terlihat dari luas areal yang terbakar selama periode pemantauan.

Geopix memperkirakan terdapat sekitar 25.812.699 hektare areal yang terbakar. Dari angka tersebut, sekitar 60,2 persen berada di dalam wilayah habitat orangutan yang secara keseluruhan memiliki luas sekitar 42.831.834 hektare.

Kebakaran dalam skala tersebut tidak hanya berpotensi mengurangi tutupan hutan. Dampaknya juga dapat menyentuh berbagai aspek penting bagi kelangsungan hidup orangutan, mulai dari ketersediaan sumber pakan hingga pohon yang digunakan sebagai tempat bersarang.

Kebakaran juga berpotensi memutus konektivitas antarkawasan habitat yang dibutuhkan orangutan untuk bergerak dan mempertahankan populasinya.

Sejumlah Habitat Orangutan Masuk Wilayah Kritis

Geopix kemudian menyusun matriks kerentanan berdasarkan interaksi antara jumlah populasi orangutan dan tingkat hotspot di masing-masing wilayah.

Hasil analisis menunjukkan setiap kawasan membutuhkan strategi konservasi yang berbeda sesuai tingkat ancaman dan kondisi populasinya.

Wilayah yang masuk Kuadran II, seperti Muller-Schwaner, Western Schwaner, dan Seruyan-Sampit, dinilai sebagai kawasan paling kritis. Kawasan tersebut memiliki populasi yang relatif kecil, sementara tingkat titik apinya tinggi.

Kondisi tersebut membuat wilayah-wilayah itu membutuhkan respons darurat terhadap karhutla guna mencegah tekanan yang lebih besar terhadap populasi orangutan.

Sementara itu, Belayan-Senyiur, Beratus, dan Sabangau berada di Kuadran III. Wilayah tersebut memiliki tingkat ancaman yang relatif lebih rendah sehingga upaya konservasinya dapat diarahkan pada pemantauan dan restorasi.

Adapun Rungan River, Katingan, dan Gunung Palung berada di Kuadran IV. Kawasan ini merupakan kantong populasi penting sehingga pencegahan kebakaran dan perlindungan habitat menjadi prioritas.

Geopix mencatat Kuadran I saat ini belum terisi. Namun, kondisi tersebut dapat berubah menjadi skenario terburuk apabila peningkatan hotspot secara ekstrem terjadi di wilayah yang masih memiliki populasi orangutan tersisa.

Geopix Soroti Perlindungan Hutan dan Penegakan Hukum

Annisa menilai kondisi karhutla yang terjadi saat ini menunjukkan masih besarnya pekerjaan yang harus diselesaikan dalam upaya perlindungan hutan dan satwa liar di Indonesia.

“Kita semua telah gagal memitigasi bencana ini, bahkan mungkin masih mencoba bermain api dengan berbagai upaya pelemahan perlindungan hutan yang membuat masyarakat dan satwa-satwa ikonik Indonesia kehilangan haknya atas lingkungan yang sehat”

Menurut dia, penanganan paling mendesak saat ini adalah memadamkan kebakaran dan menyelamatkan habitat orangutan yang masih tersisa. Penanganan juga perlu diarahkan untuk mengurangi dampak langsung karhutla terhadap masyarakat dan orangutan.

Namun, upaya tersebut dinilai tidak cukup jika tidak disertai langkah jangka panjang untuk menghentikan siklus karhutla.

“Yang paling penting saat ini adalah memadamkan api dan menyelamatkan habitat Orangutan sebanyak mungkin yang tersisa, sekaligus mengurangi dampak langsungnya terhadap manusia maupun Orangutan. Namun segera setelah krisis ini berakhir, ada pekerjaan rumah yang puluhan tahun belum selesai, yaitu memutus mata rantai karhutla dengan penegakan hukum yang tegas tanpa kompromi terhadap siapapun, korporasi manapun yang terlibat maupun lalai dalam mencegah karhutla. Semakin nyata bahwa perlindungan ekosistem hutan yang tersisa di Kalimantan dan seluruh Indonesia, tidak boleh hanya sekedar omon-omon., Agar kebakaran hutan dan lahan secara masif tidak terulang kembali dan berupaya secepat mungkin memulihkan ekosistem yang rusak di Kalimantan.”lanjutnya

Dorong Pendataan Ulang Populasi Orangutan

Selain penanganan kebakaran, Geopix mendorong adanya survei ulang secara menyeluruh terhadap kondisi habitat dan populasi orangutan Kalimantan setelah karhutla berakhir.

Survei tersebut dinilai penting untuk mengetahui dampak aktual kebakaran terhadap kawasan habitat, termasuk kondisi populasi, ketersediaan pakan dan bahan sarang, serta perubahan lain yang dapat memengaruhi keberlangsungan hidup orangutan.

Hasil pendataan ulang itu diharapkan dapat menjadi dasar untuk melakukan pembaruan terhadap PHVA Orangutan Kalimantan. Geopix menilai data dasar konservasi yang digunakan sebelumnya berpotensi tidak lagi menggambarkan kondisi terbaru setelah terjadinya kebakaran.

“Geopix mendesak agar dilakukan survei ulang menyeluruh terhadap habitat dan populasi Orangutan Kalimantan pasca kebakaran untuk mengetahui kerusakan aktual, kondisi populasi, ketersediaan pakan dan bahan sarang, serta perubahan-perubahan signifikan lainnya yang berpengaruh terhadap habitat Orangutan Kalimantan . Hasilnya harus segera menjadi dasar “reset” PHVA Orangutan Kalimantan, karena data dasar konservasi sebelumnya berpotensi menjadi tidak relevan lagi. Kami juga mendesak Pemerintah agar menyusun Rencana Aksi Darurat Penyelamatan Populasi dan Habitat Orangutan Kalimantan yang mencakup penyelamatan dan pemantauan populasi, perlindungan habitat dan koridor, pencegahan kebakaran berulang, penegakan hukum, serta pemulihan ekosistem .” pungkas Annisa.

Sebelumnya

Hari Pelanggan Nasional 2026, IDM Hadirkan Pengalaman Wisata Interaktif di Empat Destinasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement