Berita Utama

Sugiarto Melawan Lokomotif 84 Ton, Bukan Hanya Adu Kuat di HUT ke-81 KAI

YOGYAKARTA, Marknews.id — Sugiarto menarik napas panjang. Kedua tangannya menggenggam tali yang terhubung dengan lokomotif CC 201. Di hadapannya berdiri mesin raksasa berbobot 84 ton.

Sebagai jurnalis senior, Sugiarto lebih terbiasa memegang pena, gawai, dan kamera daripada berhadapan dengan benda seberat puluhan ton. Namun, Rabu (23/9/2026), ia justru masuk ke arena Lomba Tarik Lokomotif di Balai Yasa Yogyakarta.

“Tidak ada persiapan. Begitu ikut, ya langsung tarik. Sampai ngos-ngosan dan kaki terasa pegal,” ujar Sugiarto seusai mengikuti lomba.

Sugiarto tidak datang dengan latihan khusus. Ia juga tidak memiliki rutinitas latihan fisik seperti sebagian peserta lain yang sehari-hari bekerja dengan aktivitas yang menuntut kekuatan tubuh.

Di arena, ia harus berhadapan dengan tim-tim yang berisi personel dari unsur polisi dan tentara. Ada pula peserta dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), polisi, petugas pemadam kebakaran, pegawai Balai Yasa, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Mereka terbiasa menjalani aktivitas fisik dalam pekerjaan sehari-hari. Kondisi itu membuat persaingan di arena semakin menarik.

Satu tim berisi 10 orang. Mereka harus menyatukan tenaga untuk menggerakkan lokomotif yang bobotnya mencapai 84 ton.

Ketika aba-aba terdengar, Sugiarto dan rekan-rekannya langsung menarik tali. Tubuh mereka condong ke depan. Kaki menghentak permukaan tanah. Napas mulai memburu.

Namun, lokomotif tidak langsung menyerah. Mesin raksasa itu tetap bergeming seolah menantang seluruh tenaga yang dikerahkan peserta. Sugiarto terus menarik. Beberapa saat kemudian napasnya mulai tersengal. Tenaga terkuras. Kakinya terasa semakin berat.

Bagi Sugiarto dan jurnalis lainnya, pengalaman itu bukan sekadar soal menang atau kalah. Ia ingin ikut menjadi bagian dari perayaan ulang tahun ke-81 Kereta Api Indonesia. Tidak membawa pulang piala. Namun, mereka membawa pulang cerita.

Ketika Jurnalis Turun ke Arena

Lomba Tarik Lokomotif menjadi bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-81 KAI yang digelar KAI Daop 6 Yogyakarta bersama Balai Yasa Yogyakarta.

Sebanyak 30 tim dengan sekitar 500 peserta dari internal dan eksternal Daop 6 Yogyakarta ikut ambil bagian. Mereka berasal dari berbagai unsur yang selama ini menjadi mitra dan stakeholder KAI.

Ada aparat keamanan, pemerintah daerah, unsur penanggulangan bencana, pemadam kebakaran, wartawan, railfans, hingga keluarga besar KAI.

Di antara ratusan peserta itu, Sugiarto menjadi salah satu peserta dari kelompok wartawan. Bagi seorang jurnalis, pengalaman tersebut terasa berbeda. Biasanya ia berdiri di luar arena, mengamati, mencatat, merekam, kemudian menulis. Kali ini ia dan kawan-kawan masuk ke dalam cerita.

Ia memegang tali yang sama dengan peserta lain. Ia merasakan tarikan yang sama. Ia juga merasakan sendiri bagaimana tubuh bereaksi ketika harus mengerahkan tenaga untuk menggerakkan lokomotif 84 ton.

Melawan Mereka yang Terbiasa Mengandalkan Fisik

Persaingan semakin menarik karena sebagian peserta datang dari profesi yang menuntut kesiapan fisik. Tim polisi, pegawai kereta api, dan tentara ikut turun ke arena. Begitu pula personel pemadam kebakaran dan BPBD.

Dalam pekerjaan sehari-hari, mereka sudah akrab dengan latihan fisik, kesiapsiagaan, serta aktivitas lapangan. Karena itu, kemampuan fisik menjadi salah satu modal penting ketika mereka berhadapan dengan lokomotif.

Sugiarto dan kelompok wartawan tentu menghadapi tantangan berbeda. Tidak ada latihan khusus untuk menghadapi perlombaan itu. Tidak ada persiapan berbulan-bulan untuk menarik lokomotif. Mereka datang untuk berpartisipasi dan ikut meramaikan perayaan HUT KAI.

Justru di situlah cerita menjadi menarik. Di arena yang sama, kekuatan fisik bertemu dengan semangat kebersamaan. Mereka yang sehari-hari bekerja dengan otot bertemu dengan mereka yang lebih sering bekerja dengan pikiran, kamera, mikrofon, dan tulisan. Namun, lokomotif tidak mengenal profesi. Ia hanya akan bergerak ketika seluruh tenaga tertarik dalam satu arah.

Bukan Lawan Orang, tetapi Lokomotif

Ada dua lokomotif seri CC 201 yang menjadi objek perlombaan. Masing-masing memiliki bobot sekitar 84 ton. Para peserta harus menarik lokomotif sejauh 10 meter sebanyak dua kali untuk melaju ke babak berikutnya.

Angka 10 meter mungkin terdengar pendek. Namun, ketika benda yang harus digerakkan berbobot 84 ton, jarak itu terasa panjang. Sugiarto merasakannya sendiri. Tarikan pertama menguras tenaga. Napas semakin cepat. Kaki mulai pegal. Tubuh meminta berhenti. Tetapi semangat untuk menyelesaikan tarikan membuatnya terus bertahan.

Kepala Balai Yasa Yogyakarta, Idrus Fauzi, sejak awal mengingatkan peserta agar tidak terlalu memaksakan diri. Ia melihat sebagian peserta mungkin sudah lama tidak melakukan aktivitas fisik. Idrus ingin lomba berlangsung dalam suasana santai dan menyenangkan.

“Kalau biasanya kita mengenal permainan tarik tambang, hari ini mungkin ceritanya berbeda. Bukan menarik tambang, tetapi menarik lokomotif,” ujar Idrus.

Kalimat itu kemudian menjadi gambaran yang tepat untuk lomba tersebut. Karena yang mereka hadapi bukan tambang yang ringan. Yang mereka hadapi adalah lokomotif sungguhan.

84 Ton Tidak Bisa Digerakkan Sendirian

Manager Humas KAI Daop 6 Yogyakarta Feni Novida Saragih mengatakan Lomba Tarik Lokomotif menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-81 KAI di Daop 6 Yogyakarta.

Menurut Feni, kegiatan itu juga menjadi ruang silaturahmi dan mempererat sinergi antara KAI dengan stakeholder yang selama ini mendukung serta berkolaborasi bersama.

Pemilihan lokomotif juga membawa pesan khusus. Lokomotif merupakan sarana penggerak kereta api. Filosofi itu kemudian dikaitkan dengan posisi KAI sebagai salah satu penggerak transportasi.

Sementara itu, format lomba yang mengharuskan peserta bekerja dalam kelompok menunjukkan satu hal penting: sebuah lokomotif tidak mungkin bergerak hanya dengan satu orang.

Begitu pula kemajuan transportasi. KAI membutuhkan kolaborasi banyak pihak untuk terus bergerak dan melayani masyarakat.

Pesan itu terasa nyata di arena Balai Yasa Yogyakarta. Polisi, tentara, pemadam kebakaran, BPBD, pegawai KAI hingga wartawan pun ikut menarik lokomotif. Profesi mereka berbeda. Seragam mereka berbeda. Tugas mereka berbeda. Tetapi hari itu mereka berdiri di belakang satu tali yang sama.

Balai Yasa Yogyakarta Menjadi Arena Kolaborasi

Bagi Idrus Fauzi, kegiatan tersebut bukan sekadar perlombaan. Ia ingin para peserta menikmati suasana dan pulang membawa pengalaman baru. Ia bahkan berharap para peserta bisa menceritakan pengalaman tersebut kepada keluarga di rumah.

Ada kemungkinan seorang peserta kelak bercerita kepada anaknya bahwa pada suatu hari ia pernah ikut menarik lokomotif. Atau kepada cucunya ia pernah berdiri di Balai Yasa Yogyakarta dan mencoba menggerakkan mesin seberat 84 ton bersama puluhan orang lainnya.

Kemenangan Bukan Satu-satunya Tujuan

Setelah melewati babak penyisihan hingga final, Balai Yasa Yogyakarta keluar sebagai juara pertama. Korem 072 Pamungkas menempati posisi kedua. Satpol PP Yogyakarta meraih posisi ketiga, sedangkan Basarnas berada di posisi keempat.

Panitia menyediakan total hadiah sebesar Rp20 juta. Sugiarto dan kawan-kawan jurnalis tidak masuk daftar juara. Namun, itu tidak masalah. Kakinya memang pegal. Napas ngos-ngosan. Tubuhnya juga merasakan langsung beratnya menarik lokomotif 84 ton. Tetapi pengalaman itu justru membuat senang.

Hari itu, Sugiarto dan kawan-kawan tidak hanya menjadi jurnalis yang meliput peristiwa. Tetapi menjadi bagian dari peristiwa yang diliput.

Sebelumnya

Dengan Program PMI Tirto Aji, Nasmoco Salurkan 1,3 Juta Liter Air Bersih

Selanjutnya

Kiai Abdul Ghoffar Libatkan Santri Bertani Organik, Mesin Panen Dibuat dari Rongsokan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement