Dua Gonsus 88 Jadi “Alumni Istimewa” Gontor, Bachtiar Nasir dan Arifin Jayadiningrat Tempuh Jalan Dakwah Berbeda
PONOROGO, Marknews.id — Dua alumni Gontor angkatan 1988 atau Gonsus 88, Bachtiar Nasir dan Arifin Jayadiningrat, mendapat apresiasi sebagai “Alumni Istimewa” dalam momentum 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.
Nama keduanya tampil dalam tayangan Gontor TV yang menampilkan sejumlah alumni dengan kiprah pengabdian di berbagai bidang. Bachtiar Nasir diperkenalkan sebagai “Pendakwah Perkotaan”, sedangkan Arifin Jayadiningrat sebagai “Pendakwah Pedalaman”.
Keduanya menjadi bagian dari enam alumni yang ditampilkan dalam kategori Alumni Istimewa. Selain Bachtiar dan Arifin, nama lain yang ditampilkan ialah M. Kalend Osen, Achmad Nuril Mahyudin, Ahmad Fuadi, serta Didin Sirojuddin AR.
Bachtiar Nasir, Gonsus 88 dan Dakwah Perkotaan
Bachtiar Nasir merupakan alumni Gontor tahun 1988. Setelah menyelesaikan pendidikan di Gontor, perjalanan keilmuannya berlanjut ke Daarul Huffazh, Bone, Sulawesi Selatan, sebelum kemudian menempuh pendidikan di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi.
Selama berada di Madinah, Bachtiar aktif dalam berbagai kegiatan mahasiswa Indonesia. Sepulang dari Arab Saudi, ia menekuni dunia dakwah dan pendidikan Al-Qur’an.
Namanya kemudian dikenal luas melalui Ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center. Ia juga terlibat dalam pengembangan lembaga pendidikan yang berfokus pada pembelajaran dan pengkajian Al-Qur’an.
Dalam kiprahnya, Bachtiar tidak hanya menyampaikan dakwah dari mimbar. Ia mengembangkan pendidikan Al-Qur’an serta mendorong generasi muda memahami Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan.
Pada 2026, Bachtiar mengembangkan gagasan “Al-Qur’an sebagai Operating System Kehidupan”. Gagasan tersebut menempatkan Al-Qur’an bukan sekadar untuk dibaca, tetapi menjadi dasar pembentukan karakter dan perilaku manusia.
Perjalanan Bachtiar itu pula yang membuatnya ditampilkan Gontor sebagai sosok yang mewakili pendakwah perkotaan. Dakwahnya berkembang di tengah masyarakat dengan karakter kehidupan modern yang kompleks.
Arifin Jayadiningrat, Gonsus 88 yang Menembus Pedalaman
Jika Bachtiar bergerak di tengah masyarakat perkotaan, Arifin Jayadiningrat mengambil jalan pengabdian yang berbeda. Alumni Gontor 1988 itu dikenal melalui aktivitas dakwah dan pemberdayaan masyarakat di pedalaman Kepulauan Mentawai.
Salah satu wilayah pengabdiannya berada di Dusun Buttui, Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai.
Ketika pertama kali datang ke wilayah tersebut, Arifin menghadapi tantangan tidak ringan. Masyarakat setempat masih memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan berbagai fasilitas dasar.
Arifin kemudian memilih pendekatan melalui pendidikan dan pelayanan sosial. Bersama Yayasan Aksi Peduli Bangsa, ia ikut mendorong pembangunan fasilitas pendidikan untuk anak-anak di wilayah tersebut.
Pengabdian itu berkembang dengan hadirnya PAUD, TK, masjid, aula, klinik kesehatan, dan taman baca. Pembangunan tersebut menjadi bagian dari upaya membuka akses masyarakat pedalaman terhadap pendidikan dan pelayanan dasar.
Pendekatan Arifin dilakukan secara bertahap. Ia tidak hanya datang menyampaikan dakwah, tetapi membangun hubungan dengan masyarakat dan mendampingi mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Kiprahnya di pedalaman Mentawai kemudian membuat Arifin dikenal sebagai pendakwah yang sekaligus bergerak dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Dua Gonsus 88, Dua Medan Pengabdian
Bachtiar Nasir dan Arifin Jayadiningrat memperlihatkan dua jalur pengabdian yang berbeda setelah menyelesaikan pendidikan di Gontor.
Bachtiar mengembangkan dakwah dan pendidikan Al-Qur’an di tengah masyarakat perkotaan. Sementara Arifin memilih jalan pengabdian yang membawanya ke wilayah pedalaman Mentawai.
Namun, keduanya memiliki titik temu. Mereka sama-sama membawa nilai pendidikan Gontor ke tengah masyarakat melalui jalur pengabdian.
Dalam momentum 100 Tahun Gontor, Ketua Reuni Akbar 100 Tahun Gontor, Dr. Ahmad Suharto, mengatakan peringatan satu abad bukan sekadar perayaan. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kembali kiprah alumni dan melihat kesesuaiannya dengan cita-cita para pendiri Gontor.
“Pondok menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya atas pengorbanan dan dedikasi seluruh alumni,” kata Ahmad Suharto dalam keterangan pers pada 14 September 2026.
Menurut dia, alumni Gontor telah tersebar di berbagai bidang. Mereka menjadi pimpinan pesantren, ulama, akademisi, pengusaha hingga pejabat publik.
Keragaman kiprah tersebut menjadi bagian dari perjalanan Gontor memasuki abad kedua. Para alumni membawa pengalaman dan nilai yang diperoleh selama berada di pondok ke berbagai ruang pengabdian.
Bagi Gonsus 88, apresiasi terhadap Bachtiar Nasir dan Arifin Jayadiningrat menjadi bagian dari catatan perjalanan panjang hampir empat dekade setelah mereka lulus dari Gontor.









