Gonsus 88 Kini Dipimpin Trimurti, Tiga Tokoh Rawat Persaudaraan Alumni Gontor
PONOROGO, Marknews.id — Alumni Gontor angkatan 1988, yang dikenal sebagai Gonsus 88, kini memilih pola kepemimpinan kolektif. Tiga tokoh dipercaya menggerakkan organisasi alumni tersebut: Bachtiar Nasir, Bambang Suryadi, dan Jamalullail.
Formasi yang mereka sebut Trimurti itu menyatukan tiga karakter dengan latar belakang berbeda. Bachtiar Nasir dikenal sebagai pendakwah. Bambang Suryadi merupakan profesor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sementara itu, Jamalullail dikenal lewat gaya komunikasi yang santai, humoris, dan cair.
Ketiganya membawa satu tujuan: memperkuat persaudaraan alumni Gontor angkatan 1988 sekaligus memperluas manfaat Gonsus 88 bagi anggota dan masyarakat.
Tiga Karakter, Satu Semangat
Bachtiar Nasir membawa warna dakwah melalui pengalaman dan jejaringnya di berbagai forum keislaman. Di sisi lain, Bambang Suryadi memberikan perspektif akademik serta pengalaman panjang di bidang pendidikan.
Jamalullail melengkapi keduanya dengan gaya komunikasi yang renyah dan penuh humor. Ia membuat suasana pertemuan tetap cair, bahkan ketika para alumni membicarakan persoalan organisasi dan kehidupan setelah puluhan tahun meninggalkan pesantren.
Karakter yang berbeda itu justru menjadi kekuatan Trimurti. Bachtiar menggerakkan semangat dakwah, Bambang memperkuat perspektif akademik, sedangkan Jamalullail menjaga suasana tetap hangat dan akrab.
Dari 288 Alumni, Kini Tinggal 201
Gonsus 88 awalnya memiliki 288 alumni. Namun, sebanyak 87 anggota telah wafat. Kini, jumlah alumni yang masih hidup mencapai 201 orang.
Angka tersebut membuat persaudaraan memiliki makna yang semakin dalam. Gonsus 88 tidak cukup hanya mengandalkan struktur organisasi. Para alumni juga perlu menjaga komunikasi, saling memperhatikan, dan membantu keluarga sesama anggota.
Karena itu, Gonsus 88 ingin menjadikan komunitas ini lebih dari sekadar tempat berkumpul dan bernostalgia. Para alumni dapat saling menguatkan, berbagi pengalaman, sekaligus membantu ketika salah satu keluarga menghadapi persoalan.
Kepedulian untuk Janda dan Anak Yatim
Semangat persaudaraan itu juga mereka wujudkan melalui santunan bagi para armilah atau janda dan yatama atau anak yatim.
Bagi Gonsus 88, perhatian kepada keluarga alumni tidak berhenti ketika seorang anggota meninggal dunia. Justru pada titik itulah persaudaraan mendapat ujian sekaligus menemukan maknanya.
Bachtiar Nasir menyampaikan hal tersebut dengan nada ringan. Ia mengatakan jumlah anggota Gonsus 88 tidak akan bertambah. Namun, jumlah armilah dan yatama justru dapat terus bertambah.
“Anggota tidak akan bertambah. Tetapi yang bertambah adalah janda (armilah/armalah) dan yatama (anak yatim),” kata Bachtiar sambil tersenyum.
38 Tahun Menjaga Nafroh Ma’an
Setelah 38 tahun berlalu sejak 1988, Gonsus 88 menghadapi fase yang berbeda. Para alumni tidak lagi sekadar mengenang masa-masa di Gontor, tetapi juga menghadapi perjalanan hidup masing-masing dengan pengalaman, profesi, dan keluarga yang beragam.
Karena itu, kepemimpinan Trimurti memberi ruang bagi setiap tokoh untuk berkontribusi sesuai dengan keahlian dan karakternya. Model tersebut sekaligus menjaga agar Gonsus 88 tetap menjadi rumah besar yang hangat bagi para alumni.
Semangat itu terlihat dalam acara tajammu’ Gonsus 88 di Pesantren Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Ponorogo pada 18-20 September 2026.
Pada akhirnya, semangat Gonsus 88 bukan lagi soal siapa yang berdiri paling depan. Setelah 38 tahun bersama, yang jauh lebih penting ialah bagaimana seluruh alumni tetap berjalan beriringan, saling membantu, dan menjaga kebahagiaan bersama dalam semangat nafroh ma’an.









