Cerita Lucu Bachtiar Nasir Saat Nyantri di Gontor
Marknews.id, Ponorogo – Ada satu cerita lucu yang masih melekat dalam ingatan Bachtiar Nasir sejak menjadi santri Pondok Modern Darussalam Gontor. Cerita itu terjadi puluhan tahun lalu di kamar santri, tepatnya di Rayon Arinda.
Malam itu, para santri hendak salat berjamaah. Di antara mereka ada seorang santri bernama Zainal yang tiba-tiba punya keinginan kuat untuk menjadi imam.
Keinginan menjadi imam tentu bukan sesuatu yang aneh. Namun, malam itu Zainal ternyata memiliki “misi” lain yang baru diketahui para makmum setelah salat berlangsung.
Al-Kafirun yang Diulang-ulang
Salat pun dimulai. Zainal berdiri di depan sebagai imam, sementara para santri lainnya menjadi makmum.
Ketika membaca Surah Al-Kafirun, suasana mulai terasa berbeda.
Zainal melafalkan ayat demi ayat. Para makmum mengikuti dengan khusyuk. Namun, ketika bacaan mendekati bagian akhir surah, sesuatu yang aneh terjadi.
Ayat “Lakum diinukum wa liya diin” tak kunjung dibaca.
Zainal malah kembali mengulang ayat sebelumnya.
Sekali.
Lalu sekali lagi.
Diulang lagi.
Para makmum mulai saling melirik. Ada yang menahan senyum. Ada pula yang mungkin mulai bertanya-tanya, mengapa Zainal tidak segera sampai ke ayat terakhir.
Padahal, Surah Al-Kafirun bukan surah yang asing bagi para santri. Mereka semua sudah hafal.
Lama-kelamaan, para makmum mulai memahami. Zainal rupanya memang sengaja memperpanjang bacaan.
Ada sesuatu yang ingin ia lakukan setelah salat.
Ternyata Ada Misi Sepak Bola
Jawabannya muncul ketika salat memasuki bagian doa.
Ternyata, Zainal ingin mendoakan firqoh-nya.
Dalam istilah yang digunakan para santri ketika itu, firqoh berarti klub atau kelompok sepak bola. Klub yang didukung Zainal bernama Darussalam.
Dengan penuh keyakinan, Zainal pun berdoa:
“Allahummaj’al firqoh Darussalam ghalib.”
Artinya, Ya Allah, jadikanlah klub Darussalam sebagai pemenang.
Sebagai imam, tentu Zainal berharap para makmum menyambut doanya dengan serempak.
“Aamiin.”
Namun, yang terdengar justru jawaban yang sama sekali berbeda.
“Laa takun, ya Allah!”
Jangan, ya Allah!
Imam Berdoa, Makmum Melawan
Doa sang imam untuk kemenangan Darussalam langsung mendapat “perlawanan” dari barisan makmum.
Bukannya mengamini, mereka justru kompak menolaknya.
Kelucuan itu tentu tidak lepas dari persaingan kecil antarklub sepak bola di kalangan santri. Bachtiar Nasir sendiri ketika itu bermain untuk klub rival, Meteor.
Jadi, ketika Zainal mendoakan Darussalam menjadi pemenang, para pendukung klub lain tentu memiliki kepentingan yang berbeda.
Sepak bola pun seolah ikut masuk ke dalam salat berjamaah.
Tawa yang Bertahan Puluhan Tahun
Bachtiar Nasir kembali menceritakan kisah tersebut dalam acara silaturahim 100 tahun Pondok Modern Gontor, saat ramah tamah bersama para alumni senior di BPPM atau Qo’ah, Sabtu malam, 19 September 2026.
Cerita itu sederhana. Hanya tentang seorang santri yang ingin menjadi imam dan diam-diam ingin menyelipkan doa untuk klub sepak bola kesayangannya.
Namun, justru kesederhanaan itulah yang membuatnya menjadi kenangan.
Kehidupan santri memang penuh cerita. Mereka tinggal bersama dalam satu kamar, makan bersama, belajar bersama, salat berjamaah, bermain sepak bola, sekaligus saling menggoda.
Kelucuan-kelucuan kecil seperti itulah yang kemudian berubah menjadi kenangan besar ketika usia telah jauh meninggalkan masa-masa nyantri.
“Laa Takun, Ya Allah!”
Zainal mungkin sudah lupa detail kejadian malam itu. Tetapi bagi para makmum di Rayon Arinda, ada satu bagian yang sulit dilupakan.
Ketika sang imam berusaha mendoakan agar Darussalam menang, para makmum justru kompak menjawab:
“Laa takun, ya Allah!”
Jangan, ya Allah!
Puluhan tahun berlalu. Para santri telah menjadi alumni dengan jalan hidup masing-masing. Namun, satu doa sepak bola dari seorang imam bernama Zainal tetap menjadi cerita yang mampu menghidupkan kembali suasana masa lalu.
Sebab di Gontor, kenangan nyantri tidak selalu lahir dari pelajaran di kelas. Kadang, ia justru muncul dari sebuah kamar, sebuah salat berjamaah, sebuah klub sepak bola, dan jawaban makmum yang membuat semua orang tertawa.









