Berita Utama

IGBF 2026 di Yogyakarta Dorong Rumah Menuju Net Zero

Foto: Alfian L

Upaya menuju target Net Zero Indonesia tidak selalu harus dimulai dari proyek bangunan berskala besar. Rumah tinggal pun dapat menjadi bagian dari perubahan, mulai dari cara memanfaatkan cahaya matahari, mengatur sirkulasi udara, mengelola air hujan, hingga menggunakan energi terbarukan.

Pesan tersebut mengemuka dalam Indonesia Green Building Festival (IGBF) 2026 yang digelar Green Building Council Indonesia (GBCI) melalui Perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta di Yogyakarta, Senin (14/9/2026).

Mengusung semangat “Building Better Homes for a Better Future”, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan pemerintah, akademisi, arsitek, praktisi bangunan hijau, pengembang, kontraktor, mahasiswa, industri, dan masyarakat untuk membahas penerapan bangunan hijau serta pembangunan berkelanjutan.

IGBF 2026 merupakan bagian dari gerakan nasional GBCI yang berlangsung sepanjang September 2026 di sejumlah kota di Indonesia. Rangkaian kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesadaran sekaligus mendorong implementasi bangunan hijau dalam kehidupan masyarakat.

Dua Agenda Bahas Masa Depan Bangunan Hijau

Di Yogyakarta, rangkaian IGBF berlangsung dalam dua agenda utama.Sesi pertama digelar di Hotel Manohara Yogyakarta melalui Seminar Green Festival bertema “Peran GBCI dalam Mensukseskan Praktik Bangunan Hijau di Indonesia”.

Seminar menghadirkan Ir. Ignesjz Kemalawarta, MBA., GP dan Dr. Ir. Desiderius Viby Indrayana, S.T., M.M., M.T., IPU, dengan moderator Ar. Nicolaus Nino Ardhiansyah, M.Sc., IAI.

Sumber: Ig @gbciyogyakarta

Forum tersebut menjadi ruang dialog mengenai bagaimana prinsip bangunan hijau dapat diterapkan lebih luas. Pembahasannya tidak hanya menyasar bangunan komersial, tetapi juga lingkungan binaan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Agenda kemudian berlanjut pada siang hingga sore hari di Universitas Atma Jaya Yogyakarta Kampus III melalui Net Zero Talkshow dan peluncuran buku Living Net Zero.

Talkshow bertema “Menghadapi Net Zero di Indonesia 2060” menghadirkan Arief Sutanto, Dr. Ir. Agustinus Djoko Istiadji, M.Sc., Bld.Sc., Ar., IAI, serta Ar. Daud Tjondrorahardja, MBA., D.Div., IAI., GP. Acara dipandu Ar. Nicolaus Nino Ardhiansyah, M.Sc., IAI.

Ketika Rumah Menjadi Laboratorium Net Zero

Salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut adalah peluncuran buku Living Net Zero karya Ar. Daud Tjondrorahardja.

Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana: bisakah konsep Net Zero yang selama ini dianggap kompleks dimulai dari rumah tinggal?

Jawabannya dicoba melalui pengalaman Rumah Dusun Pajangan 11 di Yogyakarta, yang dikembangkan sebagai living laboratory.

Rumah tersebut menjadi ruang untuk menguji bagaimana desain arsitektur, kondisi iklim, perilaku penghuni, teknologi, dan data dapat bekerja bersama untuk menciptakan hunian yang nyaman sekaligus lebih efisien.

Pendekatan yang digunakan justru dimulai dari alam, bukan semata-mata teknologi.

Ketua GBCI Yogyakarta Ar. Daud Tjondrorahardja, MBA., (Foto: Alfian L)

Cahaya matahari dimanfaatkan sebelum lampu dinyalakan. Aliran angin digunakan sebelum pendingin mekanis dibutuhkan. Air hujan ditangkap dan dikelola. Energi matahari dimanfaatkan melalui sistem energi surya. Vegetasi digunakan untuk membantu membentuk mikroklimat.

Material dengan dampak lingkungan dan embodied energy yang lebih rendah juga menjadi bagian dari pendekatan tersebut.

Gagasan yang ditawarkan sederhana: rumah tidak harus melawan alam, tetapi dapat belajar bekerja bersama alam.

Tak Menggunakan AC, Manfaatkan Desain Pasif

Rumah Dusun Pajangan 11 juga menunjukkan bagaimana prinsip passive design dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Desain rumah memanfaatkan pencahayaan alami, cross ventilation, stack effect, pengendalian paparan matahari, living facade, insulasi atap, serta kipas langit-langit untuk mengurangi kebutuhan pendinginan mekanis.

Dalam operasionalnya, rumah tersebut tidak menggunakan AC dan mengandalkan ceiling fan untuk membantu menjaga kenyamanan penghuni.

Sistem Solar Water Heater digunakan sejak rumah mulai dihuni. Selanjutnya, sistem Solar PV ditambahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap listrik dari jaringan.

Dari Smart Home Menuju Living Home

Menurut Ar. Daud Tjondrorahardja, rumah berkelanjutan tidak otomatis terwujud hanya dengan menambahkan berbagai perangkat teknologi.

Rumah yang penuh dengan perangkat smart home belum tentu berkelanjutan jika setiap sistem bekerja secara terpisah tanpa memahami kebutuhan dan kondisi bangunan.

Suasana Talkshow di Kampus III Atmajaya Yogyakarta (Foto: Alfian L)

Sebaliknya, konsep living home menempatkan rumah sebagai sistem yang mampu mengamati, mengukur, belajar, memperbaiki, dan berkembang.

Pendekatan tersebut dirangkum melalui tahapan:

Observe → Measure → Learn → Improve → Evolve.

Data mengenai cahaya, suhu, kelembaban, ventilasi, konsumsi energi, produksi Solar PV, penggunaan air, serta berbagai parameter lainnya dapat digunakan untuk memahami bagaimana sebuah rumah benar-benar bekerja.

Net Zero Bisa Dimulai dari Rumah

IGBF 2026 di Yogyakarta membawa pesan bahwa perjalanan menuju target Net Zero Indonesia bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau industri.

Perubahan juga dapat dimulai dari ruang paling dekat dengan kehidupan manusia: rumah.

Setiap keputusan dalam desain bangunan memiliki konsekuensi terhadap penggunaan energi dan lingkungan.

Mulai dari menentukan orientasi bangunan, membuat bukaan agar cahaya dan udara dapat masuk, melindungi bangunan dari panas matahari, menghemat penggunaan air, menampung air hujan, mengurangi konsumsi listrik, memanfaatkan energi matahari, hingga menanam vegetasi.

Membangun Ekosistem Bangunan Hijau

Melalui IGBF 2026, GBCI Yogyakarta juga mendorong terbentuknya ruang kolaborasi yang lebih luas antara pemerintah, perguruan tinggi, profesi, industri, komunitas, dan masyarakat.

Kegiatan ini tidak hanya ditempatkan sebagai seminar, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pengetahuan dan praktik bangunan hijau di Indonesia.

Buku Living Net Zero pun diharapkan dapat menjadi jembatan antara konsep Net Zero yang selama ini terasa teknis dengan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.Pesan yang dibawa cukup sederhana: Net Zero bukan hanya tentang menghasilkan energi sebanyak mungkin, tetapi mengurangi kebutuhan energi sebanyak mungkin dan memenuhi kebutuhan yang tersisa dengan energi yang lebih bersih. (AL)

 

Sebelumnya

Komitmen Bersama Jaga Sportivitas Kompetisi Sepak Bola di Yogyakarta

Selanjutnya

Mengenal Bemo, Transportasi Umum yang Pernah Populer di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement