Berita Utama

UIN Sunan Kalijaga Siapkan Talenta Teknologi Produksi Halal untuk Industri Nasional

UIN Sunan Kalijaga Siapkan Talenta Teknologi Produksi Halal untuk Industri Nasional

MARKEWS.ID, YOGYAKARTA — Produk halal kini tidak lagi sekadar berbicara tentang apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Di balik satu produk halal, terdapat rantai panjang yang mencakup bahan baku, proses produksi, teknologi, laboratorium, sumber daya manusia, distribusi, hingga keterlacakan produk.

Kompleksitas rantai pasok tersebut menuntut Indonesia menyiapkan talenta yang tidak hanya memahami prinsip halal, tetapi juga menguasai kompetensi teknis sesuai kebutuhan industri.

Persoalan itu menjadi salah satu benang merah Seminar Nasional “Peran Vokasi Halal dalam Mendukung Ekosistem Halal Nasional Menuju Indonesia sebagai Pusat Industri Halal Dunia” di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (9/9/2026).

Seminar tersebut sekaligus menjadi rangkaian peluncuran Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Produksi Halal Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga.

Tiga Perspektif untuk Ekosistem Halal

Seminar menghadirkan tiga narasumber dari lembaga strategis pengembangan ekosistem halal nasional. Mereka yakni Fertiana Santy, Ph.D., Direktur Kemitraan dan Kerja Sama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH); Ir. H. Putu Rahdhawiyasa, MBA., CIPM, Direktur Industri Produk Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS); serta Satriyo Krido Wahono, Ph.D., Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN.

Galuh Tri Pambekti, S.E.I., M.E.K. memandu diskusi tersebut.

Ketiga narasumber membawa perspektif berbeda, tetapi bertemu pada satu pesan utama: Indonesia membutuhkan kolaborasi antara regulasi, pendidikan, industri, riset, dan teknologi untuk memperkuat ekosistem halal.

Sertifikasi Halal Harus Ciptakan Nilai Tambah

Fertiana Santy membuka diskusi dengan memotret perkembangan sistem jaminan produk halal di Indonesia. Menurut dia, Indonesia telah mengalami perkembangan pesat dalam membangun sistem tersebut. Jumlah produk bersertifikat terus meningkat, sementara infrastruktur halal nasional semakin kuat.

Namun, tantangan berikutnya tidak berhenti pada penambahan jumlah sertifikat. Perguruan tinggi perlu memastikan pengetahuan tentang halal berubah menjadi kompetensi dan praktik nyata.

Fertiana juga mendorong masyarakat dan pelaku usaha melihat sertifikasi halal sebagai bagian dari penciptaan nilai tambah. Label halal tidak hanya memberikan kepastian kepada konsumen, tetapi juga dapat meningkatkan nilai produk dan memperkuat daya saing.

Pandangan itu semakin relevan ketika kesadaran masyarakat terhadap produk halal terus tumbuh. Berdasarkan data yang ia paparkan, sebagian besar konsumen Indonesia memandang produk halal sebagai produk unggulan.

Karena itu, perguruan tinggi memiliki ruang kontribusi yang besar. Kampus tidak cukup membahas konsep halal di ruang kelas. Kampus juga perlu menghasilkan riset, inovasi, kompetensi profesional, dan solusi yang menjawab kebutuhan industri.

Vokasi Menjawab Kesenjangan Industri

Putu Rahdhawiyasa dari KNEKS kemudian memperdalam persoalan tersebut. Ia melihat perjalanan Indonesia menuju pusat industri halal dunia masih menghadapi sejumlah kesenjangan.

Setidaknya terdapat tiga persoalan utama: ketergantungan terhadap bahan-bahan kritis, ekosistem yang belum sepenuhnya terhubung, serta kesenjangan kompetensi sumber daya manusia.

Menurut Putu, pendidikan vokasi dapat menjembatani ketiga persoalan tersebut.

“Halal harus dimulai dari proses awal, tidak hanya melihat bahan akhirnya,” kata Putu dalam paparannya.

Karena itu, pendidikan vokasi tidak cukup hanya menambah mata kuliah tentang halal. Perguruan tinggi perlu menghasilkan lulusan yang mampu memadukan prinsip halal dengan kompetensi teknis yang dibutuhkan industri.

Pengembangan Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Produksi Halal pun perlu membangun hubungan erat dengan dunia industri. Kampus dapat mengembangkan kurikulum bersama industri, program magang, pembelajaran berbasis produksi, riset terapan untuk mengidentifikasi titik kritis halal, serta memperkuat Halal Center sebagai simpul kolaborasi.

Putu melihat UIN Sunan Kalijaga memiliki peluang besar untuk menjadi simpul talenta dan inovasi industri halal. Kampus dapat mempertemukan pendidikan, industri, riset terapan, dan UMKM dalam satu ekosistem.

Riset Halal Dorong Hilirisasi Produk

Jika pendidikan vokasi menyiapkan talenta, riset menjadi fondasi untuk menjawab persoalan industri.

Satriyo Krido Wahono dari BRIN mengangkat tema “Riset dan Inovasi Pangan Halal Mendukung Hilirisasi Produk Pangan”.

Satriyo menjelaskan bahwa riset pangan mencakup keseluruhan rantai nilai, mulai dari pascapanen, diversifikasi dan pengolahan, fermentasi, pengawetan, pengemasan, hingga keamanan pangan.

Dalam konteks Indonesia, aspek halal menjadi bagian penting dari keamanan dan mutu pangan. Karena itu, peneliti perlu mengembangkan riset halal mengikuti kemajuan teknologi sekaligus menjaga keselarasan dengan prinsip fikih dan kebutuhan masyarakat.

BRIN memiliki kelompok riset yang mengembangkan autentikasi pangan dan deteksi halal. Tim peneliti juga mengembangkan substitusi bahan yang berpotensi menjadi titik kritis kehalalan.

Satriyo memaparkan tiga isu strategis dalam riset dan inovasi pangan halal. Pertama, pengembangan produk pangan halal berbasis sumber daya laut. Kedua, pengembangan metode autentikasi dan deteksi halal berbasis teknologi omics. Ketiga, substitusi bahan impor dalam produksi pangan halal.

Riset substitusi bahan memiliki arti strategis. Selain memastikan kehalalan produk, riset tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan impor sekaligus membuka peluang pemanfaatan sumber daya lokal.

Dari Laboratorium ke Industri

Titik temu antara riset kampus dan kebutuhan industri menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem halal. Temuan ilmiah tidak seharusnya berhenti sebagai publikasi akademik. Kampus dapat mendorongnya menuju hilirisasi produk dan penguatan industri.

Diskusi ketiga narasumber menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan vokasi halal membawa agenda yang jauh lebih besar daripada sekadar membuka program studi baru.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem yang mempertemukan talenta, teknologi, riset, regulasi, industri, dan masyarakat.

Bagi UIN Sunan Kalijaga, Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Produksi Halal membuka ruang baru untuk menghubungkan kekuatan akademik dengan kebutuhan nyata dunia industri.

Kampus dapat menjadi tempat lahirnya talenta halal dengan kompetensi teknis. Laboratorium dapat menjadi ruang pengujian sekaligus inovasi. Halal Center dapat berperan sebagai simpul kolaborasi. Sementara itu, mitra industri dapat menjadi ruang belajar mahasiswa sekaligus tempat menguji relevansi kompetensi yang mereka peroleh.

Halal Bukan Sekadar Label

Semangat kolaborasi terlihat dari kehadiran berbagai pemangku kepentingan dalam seminar, mulai dari BPJPH, KNEKS, BRIN, Bank Indonesia, praktisi, akademisi, hingga pendamping proses produk halal dari berbagai daerah.

Perjalanan Indonesia menuju pusat industri halal dunia pada akhirnya tidak cukup hanya dengan memperbanyak produk bersertifikat halal.

Indonesia membutuhkan manusia yang mampu menciptakan, memastikan, mengembangkan, dan menghilirkan produk halal melalui ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dari Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga mengambil bagian dalam perjalanan tersebut melalui pendidikan vokasi, pengembangan talenta, riset, dan perluasan kemitraan.

Dengan pendekatan itu, halal tidak berhenti sebagai label. Halal dapat berkembang menjadi bagian dari inovasi, kesehatan, kehidupan sosial, pendidikan, serta daya saing industri Indonesia dengan tetap berpijak pada prinsip syariah dan standar akademik.

Kehadiran Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Produksi Halal menjadi salah satu langkah UIN Sunan Kalijaga untuk menjawab kebutuhan tersebut.

SON

Sebelumnya

Keluarga Nani Wartabone Desak Persoalan Eks Rumah Jawatan Kepala Kantor Pos Gorontalo Kembali ke Jalur Hukum

Selanjutnya

AI Jadi Keharusan, Kadin Sleman Dorong 110 Ribu UMKM Beradaptasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement