Berita Utama

Kiai Abdul Ghoffar Libatkan Santri Bertani Organik, Mesin Panen Dibuat dari Rongsokan

PONOROGO, MARKNEWS.ID — Kiai Abdul Ghoffar mengembangkan pertanian organik dengan melibatkan para santri. Mereka tidak hanya belajar di lingkungan pesantren, tetapi juga turun langsung ke sawah. Para santri mengolah lahan, merawat tanaman, memanen padi, hingga mengolah gabah menjadi beras.

Abdul Ghoffar merupakan alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1988. Kini, ia mengembangkan kegiatan pertanian melalui Pondok Modern Mandiri, Cimalaya, Karawang, Jawa Barat.

Abdul Ghoffar menyampaikan hal itu saat wawancara dalam Tajnas Gonsus 88 di Ponorogo, 18–20 September 2026. Dalam kegiatan tersebut, ia juga membagikan lebih dari satu kuintal beras organik kepada anggota Gonsus 88.

Abdul Ghoffar mengembangkan pertanian organik sejak 2013. Kini, ia menggarap lahan sekitar 2,5 hektare. Lahan itu bukan milik pesantren dan tidak ia sewa. Ia mengelolanya melalui sistem bagi hasil dengan pemilik lahan.

Melalui pola tersebut, pemilik lahan mendapat bagian dari hasil pertanian. Sementara itu, para santri mendapat ruang untuk belajar dan mengelola pertanian secara langsung.

Santri Turun Langsung ke Sawah

Bagi Abdul Ghoffar, pertanian bukan hanya soal menghasilkan padi. Sawah juga menjadi ruang bagi para santri untuk belajar bekerja, mandiri, dan mengelola sumber daya yang tersedia.

Karena itu, para santri mengikuti berbagai tahapan pertanian. Mereka mengolah lahan, merawat tanaman, memanen padi, merontokkan gabah, menggiling, hingga mengemas beras.

“Dari santri untuk santri,” kata Abdul Ghoffar.

Konsep tersebut menjadikan pertanian sebagai pendidikan praktis bagi para santri. Mereka belajar membangun kemandirian melalui kegiatan sederhana, termasuk mengolah lahan dan menghasilkan pangan.

Mesin Panen Dibuat dari Rongsokan

Keterbatasan peralatan tidak menghentikan Abdul Ghoffar. Ia justru mencari solusi dengan memanfaatkan barang bekas dan rongsokan.

“Kita cari rongsokan. Ketika saya bilang, kalau rongsokan ini tidak jalan, Allah kasih bisa jalan, maka selanjutnya bisa,” ujar Abdul Ghoffar.

Abdul Ghoffar dan para santri membongkar mesin yang mereka temukan dalam kondisi tidak berfungsi. Mereka memperbaikinya dan meminjam sejumlah komponen untuk melengkapinya.

Dari proses tersebut, mereka mengembangkan peralatan yang membantu pekerjaan di sawah.

Pada awalnya, para santri masih memanen padi secara manual. Mereka menggunakan mesin hanya untuk merontokkan padi.

Namun, mereka terus mengembangkan peralatan tersebut. Kini, mesin itu dapat membantu sejumlah pekerjaan sekaligus, mulai dari memotong padi, merontokkan gabah, menggiling, hingga memasukkan beras ke dalam karung.

Dengan memanfaatkan barang bekas, Abdul Ghoffar dan para santri membuat peralatan yang mempercepat proses panen dan pengolahan padi.

Biaya Mesin Pertanian Lebih Ringan

Menurut Abdul Ghoffar, pemanfaatan mesin bekas juga meringankan biaya pengadaan peralatan.

Ia menceritakan pengalamannya ketika membutuhkan mesin dengan ukuran tertentu. Saat itu, ia mendapat informasi bahwa harga mesin tersebut mencapai sekitar Rp9 juta–Rp10 juta.

Tidak lama kemudian, ia mendapat informasi tentang mesin lain yang bisa ia ambil dengan menyediakan dana sekitar Rp10 juta.

Pengalaman tersebut membuat Abdul Ghoffar terus mencari cara untuk memanfaatkan barang yang tersedia dalam mengembangkan peralatan pertanian.

Baginya, barang yang orang anggap rongsokan masih memiliki nilai guna jika seseorang mau memperbaiki dan mengembangkannya.

Pertanian Organik Dikembangkan Sejak 2013

Abdul Ghoffar mulai mengembangkan pertanian organik sejak 2013. Dalam perjalanannya, ia membandingkan pertanian organik dengan pertanian nonorganik.

Menurut dia, pertanian nonorganik dapat menghasilkan sekitar 4–7 ton. Sementara itu, pertanian organik menghadapi tantangan tersendiri dari sisi produktivitas.

Meski demikian, biaya pengolahan pertanian organik jauh lebih rendah.

Abdul Ghoffar menyebut pernah mengeluarkan biaya sekitar Rp350 ribu untuk mengolah satu hektare lahan.

Karena itu, ia tidak melihat pertanian organik hanya dari jumlah produksi. Efisiensi biaya dan nilai pendidikan juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan lahan.

Beras Organik Tidak Semata untuk Dijual

Para santri kemudian mengolah hasil pertanian menjadi beras organik. Namun, Abdul Ghoffar tidak ingin seluruh hasil sawah hanya untuk kepentingan komersial.

Menurut dia, hasil terbaik dari lahan yang dikelola para santri seharusnya kembali memberikan manfaat kepada mereka.

Ia tidak ingin para santri hanya menjadi pekerja, sementara orang lain menjual hasil terbaik pertanian untuk kepentingan komersial.

Abdul Ghoffar juga menyebut pernah mendapat permintaan beras organik dari Pertamina. Menurut dia, permintaan tersebut mencapai sekitar dua ton per pekan dengan harga sekitar Rp40 ribu per kilogram.

Namun, permintaan tersebut tidak otomatis membuat seluruh hasil pertanian masuk ke pasar.

Bagi Abdul Ghoffar, kegiatan pertanian juga memiliki tujuan pendidikan dan sosial yang harus tetap ia jaga.

Hasil Panen Berlebih Dibagikan

Karena itu, Abdul Ghoffar tidak selalu menjual hasil panen ketika produksinya berlebih.

Para santri dapat menggiling padi terlebih dahulu. Setelah menjadi beras, mereka membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan.

Abdul Ghoffar mencontohkan, ketika tersedia lebih dari dua ton padi, para santri dapat menggiling seluruh hasil tersebut dan kemudian membagikannya.

Pola tersebut menjadi bagian dari semangat berbagi yang ia tanamkan melalui kegiatan pertanian.

Dengan demikian, sawah tidak hanya menghasilkan pangan. Hasil panen juga menjadi sarana untuk membangun kepedulian sosial.

Lebih dari Satu Kuintal Beras Organik Dibagikan di Tajnas Gonsus 88

Semangat berbagi itu terlihat dalam Tajnas Gonsus 88 yang berlangsung di Ponorogo pada 18–20 September 2026.

Tajnas merupakan Tajamuk Nasional, sedangkan Gonsus 88 merupakan Gontor Khusus 88 yang merujuk pada para alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1988.

Dalam kegiatan tersebut, Kiai Abdul Ghoffar membagikan lebih dari satu kuintal beras organik kepada anggota Gonsus 88.

Beras tersebut ia kemas dengan tulisan “Beras Organik”. Kemasan itu juga mencantumkan identitas Pondok Modern Mandiri, Cimalaya, Karawang, Jawa Barat.

Beras yang dibagikan berasal dari kegiatan pertanian yang melibatkan para santri. Hasil kerja mereka di sawah tidak hanya menjadi pangan, tetapi juga menjadi sarana berbagi dan mempererat hubungan dengan sesama.

Pertanian Organik Menjadi Ruang Belajar Santri

Bagi Abdul Ghoffar, mengolah sawah memiliki makna lebih luas daripada menghasilkan padi.

Di lahan sekitar 2,5 hektare itu, para santri belajar mengolah tanah sekaligus memahami proses produksi pangan. Mereka juga belajar menghadapi keterbatasan peralatan.

Bahkan, mereka dapat mengubah rongsokan yang sebelumnya tidak berfungsi menjadi mesin yang membantu pekerjaan pertanian.

Para santri juga belajar bahwa hasil kerja tidak selalu harus berujung pada keuntungan pribadi. Ketika hasil panen berlebih, mereka dapat membagikannya kepada orang lain.

Karena itu, pertanian organik yang dikembangkan Abdul Ghoffar memadukan pendidikan, kemandirian, teknologi sederhana, produksi pangan, dan kepedulian sosial.

Dari lahan yang mereka kelola dengan sistem bagi hasil, para santri belajar menanam, merawat, memanen, mengolah, hingga membagikan hasil pertanian.

Pada akhirnya, pertanian menjadi ruang belajar sekaligus sarana membangun kemandirian. Dari santri, untuk santri, dan memberi manfaat kepada sesama.

Sebelumnya

Sugiarto Melawan Lokomotif 84 Ton, Bukan Hanya Adu Kuat di HUT ke-81 KAI

Selanjutnya

Dari Qismul Ghiro’ di Gontor, Zain Muttaqin Kini Jadi Pengusaha Akrilik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement