Potong Bathok
Oleh: Agus U, Jurnalis
Makrnews.id – Mode potong rambut yang disebut potong bathok ini banyak dikenakan pada era 1970-an atau bahkan lebih lama lagi. Berbeda dengan sekarang, pada masa tersebut potong rambut belum memperlihatkan bentuk yang indah.
Ada beberapa tempat potong rambut yang cukup bergengsi saat itu, antara lain Gumbira yang berada di Jalan Urip Sumohardjo dan kini sudah tergusur oleh Jalan Herman Johannes, di Malioboro depan DPRD DIY. Selain itu, ada pula yang lebih merakyat, seperti tempat potong rambut Pak Amat Praitum dan Mas Brahim di Jalan S. Parman, Pak Gatot yang kondang dengan tarian barber-alat potong di perempatan Condongcatur, potong rambut SORRI-DPR, serta Ngisor Ringin di bawah pohon rindang, baik yang ada di Alun-Alun Utara dengan PDHI maupun di pasar-pasar tradisional.
Era salon belum muncul, apalagi potong Madura dan barber shop modern.
Mode rambut yang “in” saat itu antara lain panjang muka yang mirip dengan bros, namun bagian depan disisakan tanpa dipotong. Sementara bros bagian depan dipendekkan seperti potongan tentara. Ada juga skedeng—mungkin berasal dari istilah dalam Bahasa Belanda—yang bagian samping dan belakang dipotong tipis saja, sedangkan bagian depan atas dibiarkan dan hanya ditata sedikit. Gaya Beatle—betel—juga populer, dengan bagian samping dan belakang dikurangi, serta bagian depan disisir ala Elvis Presley.
Gaya lainnya adalah kuncung, yang potongannya nyaris pelontos kecuali bagian ubun-ubun yang disisakan sekitar seukuran telapak tangan anak.
Namun yang sering menjadi bahan candaan adalah yang disebut potong bathok. Model ini seolah-olah kepala ditutup dengan bathok kelapa atau panci. Bagian yang tidak tertutup oleh bathok dipotong habis bersih, sehingga menyisakan bagian atas yang agak panjang.
Gondrong atau gombak, yang juga sering disebut rembyak, biasa dikenakan oleh anak muda yang kala itu disebut hippies. Namun gaya gondrong ini sering diikuti dengan model awut-awutan hingga muncul istilah gondes, yaitu gondrong ndeso. Dikuncir atau dikepang? Jangan harap. Pria gondrong tak akan mau rambutnya dikuncir atau dikepang.
Sementara kaum rapi selain selalu menyisir rambutnya dengan rapi, juga mengolesinya dengan minyak rambut, baik yang cair maupun model pomade (pomid).
Merek kondangnya antara lain Vycaris Old Lavender dan Tokyi Night Pomade. Kemudian muncul merek-merek baru seperti Brisk, Tancho Mandom, dan Brylcreem. Untuk yang cair, yang paling kondang adalah Orang Aring, sedangkan yang tradisional adalah minyak cem-ceman.
Mereka memakai minyak rambut ini dengan tebal, sehingga sering diledek bahwa lalat yang hinggap pun akan tergelincir.
Menggunakan minyak rambut biasanya diikuti dengan kebiasaan membawa sisir kecil ke mana-mana yang disebut “obat bagus”. Turun motor, menyisir rambut. (***)











