Beranda Jogja Tempo Doeloe Gardu Listrik, Sejak Kapan Disebut Babon Aniem?
Jogja Tempo Doeloe

Gardu Listrik, Sejak Kapan Disebut Babon Aniem?

Oleh: Agus U, Jurnalis

Marknews.id – AWAS ELESTRIK, dilengkapi dengan tulisan beraksara Jawa yang terbaca “sing ngemek mati” yang berarti “yang menyentuh mati” dan teratas dengan menggunakan Bahasa Belanda “LEVENSGEVAAR”, kemudian dilengkapi dengan gambar kilat merah simbol listrik. Di beberapa gardu listrik tertera pula tulisan hoogspanning yang berarti tegangan tinggi.

Tulisan ini selalu terpasang di pintu sebuah bangunan yang menjadi gardu listrik di semua daerah. Gardu-gardu listrik di Yogyakarta saja dulu hingga akhir 1970-an cukup banyak. Bangunan ini biasanya berdiri sendiri dengan bentuk yang khas. Bangunannya tinggi, berdinding tebal, dan pintunya berwarna abu-abu.

Yang masih tersisa antara lain di Kotabaru, di tengah pertigaan dekat kantor perusahaan asuransi dan perusahaan perkebunan, kemudian di Jalan KHA Dahlan yang berdekatan dengan kantor PP Muhammadiyah, serta yang ada di ujung timur Jalan KHA Dahlan. Bangunan yang ada di Jalan KHA Dahlan timur ini cukup unik.

Gardu listrik dibangun menyatu dengan satu bangunan yang hingga 1990-an digunakan untuk BP3U — Balai Penelitian Pers dan Pendapat Umum milik Departemen Penerangan, Kantor Berita Antara Yogyakarta (keduanya di lantai I), sedangkan lantai II untuk kantor PWI Cabang Yogyakarta. Atau yang ada di dekat Pasar Kotagede.

Sementara yang ada di belakang Hotel Garuda cukup besar. Sejak saya kecil dahulu sebutannya juga gardu listrik. Di era 1970-an, anak-anak dan orang tua menyebutnya gardu listrik, bukan babon aniem. Atau ANIEM jika mentransliterasikan tulisan yang ada di halaman gardu listrik belakang Hotel Garuda. Saya sendiri tidak tahu mengapa kemudian ada sebutan Babon ANIEM.

Kata ANIEM itu sendiri, di Yogyakarta dahulu hanya dilekatkan pada kata cagak — cagak ANIEM yang berarti tiang listrik — dan Pabrik ANIEM — pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang ada di sebelah selatan Pasar Serangan, Jalan RE Martadinata, Yogyakarta.

ANIEM itu sendiri merupakan akronim dari Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteits-Maatschappij yang artinya adalah Perusahaan Umum Listrik Hindia Belanda yang kemudian setelah Indonesia merdeka menjadi Perusahaan Listrik Negara atau PLN.

Gardu-gardu listrik ini berfungsi untuk menjaga agar pasokan listrik kepada pelanggan berada pada tegangan 110 volt. Dahulu memang tegangan listrik di tingkat akhir — pelanggan — adalah 110 volt, sehingga perlu upaya menjaga agar aliran listrik yang masuk ke rumah-rumah benar 110 volt dan tidak mengalami penurunan. Karena itu diperlukan gardu yang pada dasarnya berfungsi sebagai trafo.

Baru pada 1970-an dinaikkan menjadi 220 volt di Yogyakarta dan sekitarnya. Perubahan jaringan ini dilakukan oleh perusahaan asing, Amelco.

Perubahan voltase atau tegangan — atau yang dulu disebut spanning listrik — ini ditandai dengan perubahan perkabelan jaringan. Dahulu satu tiang listrik memiliki banyak kabel, kemudian berkurang menjadi tiga atau lima kabel saja. Susunan kabel yang sebelumnya menyebar ke kiri, kanan, dan bawah, kini menjadi tiga susun dari atas ke bawah.

Perubahan lainnya, pelanggan terkecil menjadi 450 watt, padahal dahulu ada yang 50 watt, 75 watt, dan 125 watt, di atasnya 500 watt dan yang lebih besar lagi.

Pelanggan 125 watt ke bawah bersifat tetap dan tidak menggunakan meteran listrik. Jadi, mau digunakan maksimal selama 30 hari maupun dimatikan selama 30 hari, besar tagihannya tetap sama.

Setelah menjadi 220 volt, tegangan listrik yang masuk ke rumah-rumah pelanggan menjadi lebih stabil. Rumah-rumah pun tidak perlu lagi alat yang disebut step up.

Perubahan ini memang membuat banyak pihak harus menambah anggaran ekstra, mengganti peralatan atau menyesuaikan kemampuan peralatan. Di sisi lain, gardu-gardu listrik pun mulai tidak digunakan. Banyak bangunan gardu listrik yang dibiarkan tetap berdiri tanpa fungsi.

Baru kemudian sekitar tahun 2018-an muncul istilah Babon ANIEM. Kemunculannya nyaris bersamaan dengan munculnya istilah Titik Nol Yogyakarta. (***)

Sebelumnya

Es Piring Menghilang Bersama Oxan

Selanjutnya

Jurnalis di Era Konvergen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement