Beranda Jogja Tempo Doeloe Gedhong Pareanom
Jogja Tempo Doeloe

Gedhong Pareanom

Marknews.id – BANGSAL Kepatihan, satu bangungan yang luas mungkin kalau sekarang disebut hall, di Kompleks Kepatihan Danurejan Kota Yogyakarta. Tempat ini biasanya digunakan untuk kegiatan resmi Pemda DIY yang melibatkan banyak tamu.

Bantunan Bangsal Kepatihan ini jika dari selatan ke utara, berurutan dari selatan adalah Kuncung, Bangsal Kepatihan, Pringgitan dan Dalem Ageng.

Di sisi kiri Bangsal Kepatihan, terdapat bangunan yang lebih kecil dengan pagar tinggi dan berpintu. Masuk pintu terdapat halaman kecil kemudian masuk teras dan lebih ke dalam lagi adalah bangunan utama Gedhong Wilis.

Semasa zaman Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan KGPAA Paku Alam VIII yang menjabat Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, keduanya berkantor di Gedhong Wilis. Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam III atau yang lebih banyak disapa dengan sebutan Moti — Romo Gusti — dari anggota keluarga Pakualaman dan Sri Paduka, sebutan yang disampaikan masyarakat umum termasuk para pejabat di DIY menempati satu ruangan yang pintunya menghadap ke timur atau di sisi barat teras Gedhong Wilis. Ruangannya relatif lebih kecil dibandingkan dengan ruangan Kepala Daerah, Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang kala itu banyak orang menyapa beliau Kangjeng Sinuwun.

Ruangan Sri Paduka ini mejanya meja biro dan di atasnya bertengger buku-buku serta map-map yang tersusun rapi menggunung. Sehingga jika akan “take” pidato untuk disiarkan di televisi (RI), sering kali terpaksa meminjam meja di ruang Sri Sultan. Namun, Sri Paduka tak akan bersedia menggunakan meja tersebut sebelum protokol menunjukkan surat dari Kraton Yogyakarta yang menyatakan mengizinkan penggunaan meja Kangjeng Sinuwun.

Meski kemudian Sri Sultan Hamengku Buwono IX surud ing kasidan jati, Kangjeng Gusti yang kemudian mendapatkan Surat Keputusan pemerintah pusat sebagai Pj tetap di ruangannya selama ini, tidak berpindah ke ruang yang sebelumnya digunakan Kangjeng Sinuwun.

Ruang kerja di Gedhong Wilis ini sempat kosong. Saat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan KGPAA Paku Alam VIII sudah wafat namun belum ada pengganti. Sri Sultan Hamengku Buwono X masih belum ditetapak sebagai Gubernur.

Ingat, jabatan Wakil Gubernur DIY sempat lowong pada periode 1998–2002/2003 yang disebabkan KGPAA Paku Alam VIII diangkat sebagai Pj Gubernur DIY dan disusul dengan wafat beliau serta pada awal Sri Sultan Hamengku Buwono X menjabat sebagai Gubernur DIY tidak didampingi Wakil Gubernur.

Setelah kemudian akan menetapkan KGPAA Paku Alam IX sebagai Wakil Gubernur DIY, dimulailah pembangunan kantor yang nantinya akan digunakan oleh Wakil Gubernur. Lokasi yang dipilih adalah di sebelah timur Dalem Ageng. Jadi mengimbangi posisi lokasi, Gedhong Wilis — Kantor Gubernur di sisi barat dan Wakil Gubernur akan menempati bangunan baru di sisi timur, tidak lagi dalam satu bangunan seperti masa Kangjeng Sinuwun dengan Kangjeng Gusti.

Pintu masuk yang ada di sisi timur ini, dahulunya menghubungkan halaman Bangsal Kepatihan dengan gedung-gedung yang ada di bagian belakang dan di lokasi itu terdapat bangunan toilet yang disediakan untuk para tamu ketika menghadiri kegiatan di Bangsal Kepatihan.

Bangunan baru yang dibuat untuk Wakil Gubernur itu kemudian diberi nama Gedhong Pareanom. Nama itu kemudian diikuti dengan penggunaan warna bangunan. Jika Gedhong Wilis berwarna hijau. Wilis memang berarti hijau.

Sedangkan untuk Wakil Gubernur disebut Gedhong Pareanom. Warna pareanom adalah kombinasi warna hijau muda dan kuning muda.

Sebelum ada Gedhong Pareanom, sebelah timur Bangsal Kepatihan terdapat bangunan untuk Direktorat Sosial dan Politik. Kantor yang pimpinannya selalu dipegang oleh TNI. Direktorat Sosial dan Politik ini dihapuskan seiring dengan reformasi, sama dengan yang ada di tingkat kabupaten/kota ada Kantor Sosial Politik. Ditsospol ini sangat akrab dengan mahasiswa, karena untuk penelitian harus mendapat persetujuan dari pejabat di sini, tanpa ada persetujuan, hasilnya dinilai tidak valid. (****)

 

Sebelumnya

Toko Sedia, Jujugan Pencari Obat Alternatif

Selanjutnya

22 Hari DIY Dipimpin Plh dan Uniknya Plh Itu Juga Plh Sekwilda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement