Toko Sedia, Jujugan Pencari Obat Alternatif
Oleh: Agus U, Jurnalis
Marknews.id – Terletak di Jalan R.E. Martadinata, Wetan Prapatan Wirobrajan Kidul nDalan, pada masanya Toko Sedia pernah menjadi jujugan bagi mereka yang sakit dan ingin mendapatkan obat murah namun “cespleng”, mujarab, serta berhasil guna secara maksimal.
Toko obat ini, maaf tidak bermaksud promosi, merupakan salah satu dari belasan toko obat Cina yang pernah buka di Kota Yogyakarta. Namun, berbeda dengan beberapa toko obat atau drugisterij lain yang ada di Yogyakarta, Toko Sedia tidak melayani resep racik yang dikeluarkan tabib Cina atau sinshe.
Di Yogyakarta sendiri, pada waktu itu cukup banyak toko obat Cina, baik yang berada di Jalan Malioboro, Margo Mulyo, maupun di ruas jalan lainnya. Sejumlah toko obat Cina yang cukup kondang antara lain Bah Gemuk, Thay Anh Tjan, dan sebagainya.
Meski demikian, kehadiran Toko Obat Sedia yang berada di kawasan Wirobrajan ini memiliki keunikan tersendiri. Untuk membeli obat pada era 1970-an, orang harus rela mengantre hingga berjam-jam.
Para pembeli biasanya tidak menyebutkan merek obat tertentu yang sudah dikenal. Mereka akan menceritakan kondisi kesehatan yang dialami. Sang “engkoh”, pemilik toko, akan mendengarkan dengan seksama, kemudian menyentuh pergelangan tangan kiri dan kanan untuk mendengarkan denyut nadi dengan memindahkan jari-jari yang menekan nadi jika diperlukan. Setelah kembali mendengar keluhan, barulah ditetapkan obat atau jamu yang harus dibeli di tempat tersebut.
Soal harga, pembeli tidak perlu khawatir. Harga obat selalu terjangkau, bahkan jika seseorang tidak memiliki uang yang cukup, akan tetap dibantu. Sungguh sebuah toko obat yang memberikan kemudahan bagi keluarga yang sedang mengalami musibah.
Obat-obatan yang diberikan seluruhnya bermerek dari RRT, Republik Rakyat Tiongkok. Ada pil bulat seperti bola, kapsul, pil seperti pil pada umumnya, hingga obat cair dan sebagainya. Hampir semuanya tidak memerlukan penyiapan khusus, seperti diseduh atau digodog terlebih dahulu.
Dengan demikian, selain harganya murah, penyajiannya pun mudah dan khasiatnya manjur.
Namun, toko yang sangat laris dan banyak membantu orang sakit, khususnya kalangan rakyat kecil beserta keluarganya ini, tiba-tiba tutup. Tidak ada penjelasan resmi. Berbagai desas-desus pun muncul. Ada yang menyebutkan toko ini ditutup oleh pemerintah karena membuka praktik pengobatan tanpa izin. Ada pula yang mengatakan banyak obat yang dijual tidak berizin. Bahkan, ada yang menyebut pemiliknya adalah dokter pengobatan tradisional lulusan Peking—ejaan untuk Beijing kala itu—namun tidak melegalisir ijazahnya di Indonesia.
Atas banyaknya desas-desus tersebut, tak pernah ada jawaban yang pasti. Toko berpintu renteng dari kayu ini tetap tutup.
Namun, lama-kelamaan toko itu kembali buka dengan hanya membuka pintu kecil. Pembeli pun harus lebih sabar. Meski demikian, Toko Sedia tidak lagi selaris pada masa kejayaannya dahulu. (*******)











