Beranda Jogja Tempo Doeloe Malam Tahun Baru
Jogja Tempo Doeloe

Malam Tahun Baru

Ilustrasi

Oleh: Agus U, Jurnalis

Marknews.id – HINGAR bingar malam pergantian tahun, malam tahun baru di Yogyakarta baru terasakan pada era tengah dekade 1980-an. Sebelumnya, malam tahun baru tidak menjadi hal yang istimewa.

Para seniman yang biasa berkumpul di kawasan Seni Sono, Air Mancur dan depan Monumen SO 1 Maret juga tidak menggelar kegiatan khusus. Mereka berkumpul dan berekspresi seperti biasa.

Tak ada hingar bingar pesta kembang api, tak ada suara terompet yang memekakkan telinga, tak ada kepulan asap sepeda motor yang tumplek bleg di jalanan (maklum saat itu kebanyakan kendaraan bermesin 2 tak).

Malam tahun baru terutama di berbagai negara, hanya dapat disaksikan di siaran televisi pada acara Dunia Dalam Berita, tayangan 1 Januari malam pukul 21.00 WIB.

Yogyakarta adem ayem saja. Meski di Jakarta mulai ada pesta-pesta bertajuk Old and New. Ucapan selamatnya tetap digandeng dengan Merry Christmas jadinya ketambahan and happy new year. Tetap Prettige Kerstdagen en een Gelukkig Nieuwjaar.

Namun, pada pancawarsa kedua tahun 1980-an mulailah sejumlah hotel di Yogyakarta menggelar pesta malam pergantian tahun.

Warga Yogyakarta mulai melakukan konvoi keliling kota dengan sepeda motornya yang oleh aparat keamanan dahulu disebut ular-ularan.

Dan mulailah ada orang-orang yang menyalakan kembang api dan bahkan petasan, terjadi pula perang petasan. Tak jarang pula orang dibawa ke rumah sakit karena terkena lemparan petasan. Namun, petasan yang digunakan pun bukan petasan besar. Petasan yang ukuran kecil yang biasa disebut mercon lombok rawit. Bulan Cap Leo.

Atau mercon banting, petasan yang tidak perlu dinyalakan tetapi cukup dilempar-benturkan pada benda keras dan mercon kodok yang hanya digesekkan pada benda keras dan kasar.

Pesta malam pergantian tahun kemudian menjadi tempat unjuk kekayaan. Makan prasmanan dengan aneka menu ala Eropa/Amerika, dansa-dansi dan biasanya pada saat jam menunjukkan 12 malam, masing-masing yang hadir mengenakan topi kertas berbentuk kerucut dan meniup terompet. Tapi terjadi dalam ruangan, ballroom atau kalau dulu sebutannya kamar bola.

Lama kelamaan, pesta juga dilakukan oleh masyarakat luas, di pinggir-pinggir jalan, menyalakan kembang api, meniup terompet, bakar-bakar terutama bakar jagung.

Muncullah pedagang terompet yang biasanya mulai hadir dua atau tiga hari sebelum malam tahun baru. Pada tanggal 31 siang, pedagang jagung mentah meleber di Pasar Sentul. Bahkan sering pula di dekatnya ada pedagang arang dan pedagang panggangan.

Pesta jalanan makin meluas, aparat keamanan menjadi lebih sibuk, jalan-jalan tertentu ditutup. Konsentrasi massa tetap di Perempatan Kantor Pos Besar — belum disebut Titik Nol. Baru tahun-tahun berikutnya di Tugu juga menjadi pusat konsentrasi massa.

Sepanjang Malioboro menjadi jalan bebas kendaraan dari sore hingga pukul 01.00 tanggal 1 Januari.

Para pebisnis melihat peluang, jadilah banyak tempat pesta kembang api pergantian tahun. Pesta-pesta menghadirkan suguhan makanan, minuman dan kembang api serta pentas seni.

Bersamaan dengan membesarkan pesta malam pergantian tahun, lampah tapa bisu mubeng beteng malem 1 Sura pun juga ikut membesar.

Kini malam pergantian tahun menjadi salah satu kerja sibuk banyak instansi, polisi, tentara, kesehatan, polisi pamong praja dan relawan.

Ucapan selamat tahun baru kemudian menggema, mulai dari bersalaman, berkirim kartu pos ucapan, telegram indah, SMS, MMS, BBM dan kini WA-an.

Meski pergantian tahun 2025 ke 2026 tidak diwarnai pesta kembang api karena adanya masyarakat yang sedang tertimpa musibah, namun pergantian tahun tetap harus berjalan. (***)

Sebelumnya

KAI Daop 6 Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Stasiun Yogyakarta Selama Angkutan Nataru

Selanjutnya

KKP Targetkan Produksi Kampung Nelayan Merah Putih Bantul Naik 25 Persen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement