Beranda Jogja Tempo Doeloe Ciblek Bertebaran, Harga Berbanding Terbalik dengan Keakraban
Jogja Tempo Doeloe

Ciblek Bertebaran, Harga Berbanding Terbalik dengan Keakraban

ilustrasi

Oleh : Agus U, Jurnalis

Marknews.id – DEKADE pertama 1990, pembangunan berbagai pusat bisnis dan hiburan “gambar idoep” berkembang pesat. Belasan gedung bioskop yang memutar film-film premiere hingga second round bertebaran di hampir seluruh kecamatan/kemantren yang ada di Kota Yogyakarta. Bahkan, ada pula di Prambanan, Tempel, Wates, Ngestiharjo dan Wonosari.

Selain gedong bioskop, mulai muncul pula mall, coffee shop dan warung remang lainnya serta diskotik. Remaja dengan banyak uang pun bermunculkan.

Di sisi gelapnya, muncul pula fenomena lain yang entah sebagai tertular dari kota besar lain maupun ikut muncul seperti kota lain. Pelacuran anak, gigolo remaja, bahkan gay dan lesbian.

Pelacuran anak pada masa itu sering diungkapkan dengan sebutan ciblek. Akronim dari cilikan betah melek.
Diantara mereka ada yang melakukan kegiatan itu sebagai cara mencari uang, mencari kesenangan atau karena lainnya.
Kehadiran mereka ini mencolok. Berada di tempat-tempat yang menjadi pusat keramaian yang banyak didatangi remaja atau pencari-pencari kepuasan sahwat.

Para ciblek ini selalu berkumpul dengan sesamanya di satu tempat. Terkadang mereka berkumpul dalam satu meja. Sementara mereka yang ingin menjaring biasanya duduk di meja lain yang berseberangan. Saling pandang dan kode undangan untuk mendekat pun disampaikan.

Kalau sasaran sudah mendekat, pesannya, jangan langsung menanyakan harga kencan, tetapi ajak makan di tempat lain dan setelah menggelayut barulah ajak cari kamar. Banyak hotel atau penginapan yang bisa digunakan tanpa harus menunjukkan KTP.

Tarifnya, kalau sudah akrab, niscaya harga akan jauh lebih murah ketimbang bertemu langsung dan dalam waktu singkat menanyakan tarif.

Selain para ciblek, di tempat terang dan jelas banyak pula anak laki-laki usia SMA yang nongkrong dengan berbapakain rapi dan wangi. Anak remaja ini mencari sasaran perempuan-perempuan yang mencari kepuasan seksual. Ketika musim kampanye, sebutan untuk mereka pun muncul. dari Partai PIM. Penggemar Ibu Muda.

Berbeda dengan ciblek yang bertarif, para remaja ini tidak memasang tarif. Namun dipastikan akan mendapatkan uang yang banyak. Apalagi jika kemudian disuka dan menjadi langganan tetap. Perempuan penyuka Partai PIM ini, akan membawa anak remaja ke luar kota menghindari banyak tatapan mata.

Berbeda dengan mereka yang heteroseksual. Para gay dan lesbian. Kegiatan berkumpul mereka sebut “ngeber” dengan lokasi di tempat terbuka. Salah satu lokasi yang menjadi favorit adalah sisi selatan Alun Alun Utara. Mereka berkumpul baik pria yang keperempuan-perempuanan maupun yang tetap pada peran prianya maupun perempuan yang berperan sebagai laki-laki dan yang tetap pada peran perempuaannya.

Mereka ini jalan mondar-mandir di sepanjang sisi selatan Alun Alun Utara. Berbeda dengan fenomena ciblek atau gigolo remaja, para penyuka sesama ini tidak ada yang pasang tarif. Suka sama suka dan langsung menuju tempat tinggal atau kamar kos salah satu dari mereka.

Namun, kalau mau bermesraan di situ juga bisa. Ada beberapa spot gelap yang bisa digunakan.
Kumpul-kumpul mencari mangsa para ciblek, gigolo remaja dan gay atau lesbian ini mulai menghilang seiring dengan makin lengkapnya fitur henpon dan blekberi mesenjer. Perpesanan yang biasa disebut BO terus berkembang dan kini dapat ditemukan di banyak platform media sosial.

Apalagi ketika larut malam, siaran langsung — banyak tawaranlive terbuka maupun tertutup. VCS dan kencan langsung dapat kita temukan dalam berbagai platform dengan berbagai kelompok.
Satpol PP tak bisa berkutikj banyak. Hanya menggerebek salon-salon yang dicurigai. Menemukan kondom sudah diyakini sebagai bukti terjadinya prostitusi. Padahal, kondom yang tergeletak tak membuktikan apa pun kecuali menunjukkan ada kondom. Sudah dipakai atau belum.

Dan kebanyakan, penggerebekan ini bocok sebelum tim berangkat. Siapa yang membocorkan? mbuh ra weruh….

Sebelumnya

Koseta Peduli, Gerakan Seni Yogyakarta untuk Menjawab Duka Bencana Tiga Provinsi

Selanjutnya

Di Tengah Badai Platform Digital, Profesi Wartawan Menjadi Rentan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement