Dulu Air Mancur, Kini Titik Nol
Oleh :Agus U, jurnalis
Marknews.id – Perempatan yang berada di tengah Kota Yogyakarta ini mempertemukan empat arah: dari utara Jalan Margo Mulya, dari barat Jalan KHA Dahlan, dari timur Jalan Panembahan Senopati, dan dari selatan Jalan Panguraan. Dahulu, jalan dari utara bernama Jalan Ahmad Yani, sementara dari selatan bernama Jalan Trikora. Arah barat dan timur tetap menggunakan nama yang sama seperti sekarang.
Pada masa lalu, di tengah perempatan tersebut terdapat sebuah bundaran lengkap dengan air mancur yang mempercantik kawasan itu. Karena keindahannya, area tersebut populer dengan sebutan Air Mancur.
Selain menjadi salah satu ikon Yogyakarta, air mancur itu selalu ramai pada malam hari, terutama setiap Sabtu malam. Usai pukul sembilan malam, banyak anak muda — khususnya para seniman muda — duduk melingkar di sekelilingnya. Tidak jarang ada yang mengekspresikan kreativitas di depan Gedung Seni Sono. Tempat itu memiliki area luas untuk kegiatan seni, termasuk pameran seni rupa dan seni patung, dan pernah pula difungsikan sebagai gedung bioskop.
Para anak muda yang sering nongkrong di sekitar air mancur itu akrab dengan lagu “Camelia 1” milik Ebiet G. Ade. Meski banyak dari mereka belum begitu mengenal sosok Ebiet, ketika kaset lagu itu muncul, hanya satu komentar yang terdengar, “Lho, iki sing sok dinyanyekke neng air mancur to?”
Beberapa yang dulu hanya mendengar dan belum terlibat di dunia seni akhirnya ikut terjun menjadi seniman. Di antaranya Dedet Setiadi, penyair asal Magelang; mBah Tro atau Rifzikka Tri Putro, seorang perupa; serta Jojo Rahardjo, penyair asal Minggiran yang kemudian mengabdi di Taman Madya Binjai. Di area yang sama juga sering terlihat sastrawan Banindaru Suniwarah dan Mira Dagraca, serta banyak nama lainnya.
Namun, perkembangan berikutnya mengubah wajah kawasan tersebut. Air mancur yang dulunya menjadi ikon dan memperindah kota, perlahan berubah fungsi. Dari pagi hingga siang, banyak orang mencuci pakaian dan bahkan menjemur di area itu — mereka yang oleh Dinas Sosial dikategorikan sebagai gepeng atau gelandangan dan pengemis yang bergerak di sekitar Malioboro.
Lalu lintas yang semakin padat dan kondisi air mancur yang makin kumuh membuat fasilitas yang dibangun pada 1964 itu akhirnya dibongkar pada 1984.
Setelahnya, sebagian masyarakat masih menyebut kawasan itu sebagai Air Mancur, meski lainnya mulai menyebutnya Perempatan Kantor Pos. Penyebutan ini bertahan cukup lama. Di depan Kantor Pos Besar Yogyakarta terdapat papan penunjuk arah ke Magelang, Semarang, Solo, Klaten, Kebumen, Purworejo, dan kota lain. Kemungkinan dari berbagai penunjuk arah itu, masyarakat kemudian mengenal kawasan ini sebagai Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Bahkan hingga masa aksi mahasiswa menuntut turunnya Presiden Soeharto dan munculnya sepultura, atau sepuluh tuntutan rakyat yang mirip dengan Tritura, kawasan ini masih populer sebagai Perempatan Kantor Pos.
Perkembangan berikutnya membuat area perempatan ini tak lagi berlapis aspal, melainkan dipasang batu halus. Pada awalnya, banyak yang menentang perubahan ini. Pemerintah berdalih bahwa pada masa lalu jalan tersebut diperkuat dengan susunan batu yang dihaluskan, sehingga pengembalian ke bentuk lama dianggap sebagai pelestarian. Pernyataan itu sempat dibalas dengan sindiran, “Iyaak, tenane. Gedade dab.” Namun pada akhirnya, apa yang diputuskan pemerintah tetap berjalan dan penolakan pun mereda.
Kini, kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta bukan lagi ruang bagi para seniman untuk berekspresi. Yang tampak justru para pedagang dan pelaku usaha yang memenuhi area tersebut.
Sementara itu, Monumen Serangan Oemoem 1 Maret 1949 yang dapat dilihat sekarang juga sudah berbeda dari bentuk aslinya. Dahulu tidak terdapat gunungan di bagian belakang atas, dan belum ada plaza. Pembangunan monumen itu menggusur beberapa bangunan kantor, termasuk milik Perwakilan Angkatan Laut, Denpom, dan beberapa lainnya.
Di sisi selatan kawasan itu berdiri Kantor KONI yang sebelumnya dikenal sebagai CHTH — Chung Hwa Tsung Hui.











