Beranda Jogja Tempo Doeloe mBah Koyo – Pak Ircham – mBah Emse
Jogja Tempo Doeloe

mBah Koyo – Pak Ircham – mBah Emse

Ilustrasi

Oleh : Agus U, jurnalis

Marknews.id – MALANG melintang di dunia kewartawanan sejak tahun 1960-an. Ketiganya adalah wartawan yang penuh dedikasi dan menjalani profesi sepenuh hati.

mBah Koyo, yang sebelumnya dikenal sebagai juragan batik, dengan segala keterbatasan pengetahuannya tidak segan-segan ngangsu kawruh kepada yang lebih muda, meski harus dikemas dalam sedikit guyon agar bisa menerima “ilmu-ilmu” fotografi jurnalis. Tas kamera dan sepeda motor Astrea membuat mBah Koyo selalu siap menjalani tugas-tugas yang diberikan. Bahkan dalam sehari, ia bisa menyerahkan empat atau lima foto hasil jepretan dari berbagai lokasi.

Hanya saja, mBah Koyo — R Soekoyo — demikian orang harus menulis namanya, tidak dapat membuat caption dengan baik. Karena itu, ketika menyerahkan foto ke redaksi, ia harus bertemu dengan redaktur. Kepada redaktur, mBah Koyo akan menceritakan gambar apa, siapa saja tokoh utama yang ada di foto, dan sebagainya.

mBah Koyo awalnya mengabdikan diri di Harian Umum Masa Kini yang berafiliasi ke Muhammadiyah, kemudian ke Yogya Post — koran di bawah komando PT Surya Persindo milik Surya Paloh.

Sedangkan Pak Ircham, fotografer di Harian Kedaulatan Rakyat, dulunya adalah juragan perhiasan imitasi; gelang, kalung, anting giwang, dan lainnya yang terbuat dari bahan bukan emas dan bukan perak, namun bisa disepuh dengan emas atau perak.

Dengan sepeda motor Yamaha Eltuji (L2G) warna merah, Pak Ircham tidak kalah gesit dengan mBah Koyo. Ia juga memiliki simpanan foto dan klise yang sangat lengkap, tertata, serta tersusun rapi. Mau mencari foto apa atau siapa, Pak Ircham dapat menemukannya dengan cepat di almari penyimpanan. Salah satu karyanya yang cukup monumental adalah foto Sri Sultan HB IX dan Sri Paku Alam VIII yang dahulu terpajang di Kepatihan.

Namun dalam perjalanan karier, ada hal yang membuat Pak Ircham mengalami kekecewaan luar biasa hingga seluruh koleksi itu dibuang. Katanya dibuang ke sungai. Tak satu pun yang tersisa.

Para wartawan foto di Yogyakarta, ketika mencuci film dan afdruk, biasanya melakukannya di sebuah tempat di Jalan KHA Dahlan, di barat MAN I. Di tempat ini, meski film di kamera masih ada 30 frame yang belum terpakai, tetap bisa diakali dengan memotong bagian yang akan dicuci dan afdruk. Namun, siapa sosok yang melayani wartawan di tempat itu, maaf saya lupa. Mungkin para fotografer waktu itu masih banyak yang mengingatnya.

Foto-foto kala itu masih hitam putih. Setelah diafdruk — dicetak — dan ternyata mata tokoh di foto terpejam, para fotografer akan memberikan titik dengan bolpen di bagian mata. Nantinya, setelah menjadi barang cetakan koran, mata tokoh tersebut akan tampak kembali terbuka.

Sedangkan mBah Emse adalah wartawan tulis Harian Suluh Marhaen hingga Berita Nasional, dan terakhir di sisipan KR Kandha Raharja serta Tabloid Nuansa Indonesia.

Namanya adalah Mc Wagiman Winartono, orang Pundong, Bantul. Karena nama depannya adalah nama baptis dan disingkat menjadi Mc, maka orang memanggilnya mBah Mc.

Berbeda dengan dua temannya, mBah Mc lebih sering berjalan kaki atau naik angkutan kota. Bukan karena tidak punya kendaraan, tetapi tampaknya ia mengalami trauma setelah pernah mengalami kecelakaan saat mengendarai sepeda motor sendiri. Itu seperti yang ia tuturkan pada tahun 1980-an. Ia memiliki kendaraan angkutan umum perkotaan.

Ciri khas mBah Mc adalah rambut yang tersisir rapi dengan Tancho Mandom yang selalu menempel, busana selalu tersetrika licin, sepatu mengilap, dan membawa tas jinjing berat. Tas itu berisi puluhan lembar kertas rilis dari berbagai instansi yang siap dituangkan dalam naskah.

Ia meninggalkan Harian Berita Nasional setelah manajemen koran tersebut bekerja sama dengan media massa besar nasional. Lepas dari Berita Nasional, ia kemudian bergabung dengan Kandha Raharja — sisipan Koran Masuk Desa di Harian Kedaulatan Rakyat, yang sering disebutnya dengan Koran “Bilang Keslametan” — Kandha Raharja versi Bahasa Melayu.

Pergantian zaman yang gemuruh dan hiruk pikuk ternyata memberi kesempatan bagi ketiganya untuk mundur dari dunia pers dengan senyap.

Selain mereka bertiga, sebenarnya masih ada tokoh lain seperti Om Yuwono, Pak Mul, Pak Pudjono, Pak Soegiono, dan sebagainya.

Tak ada yang tahu bagaimana keadaan beliau-beliau sekarang. Kalau pun sudah berpulang, hanya bisa mengucap Al-Fatihah.

Sebelumnya

Profesi Sales Masih Jadi Motor Ekonomi, Namun Regenerasinya Kian Mengkhawatirkan

Selanjutnya

CfDS UGM dan Pemkab Bojonegoro Perkuat Kompetensi ASN Lewat Pelatihan Manajemen SPBE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement