Harian Berita Nasional
Oleh : Agus U, Jurnalis
Marknews.id –Harian Berita Nasional adalah salah satu surat kabar harian yang terbit di Yogyakarta puluhan tahun lalu dengan alamat di Jalan Brigjen Katamso. Dahulu, terdapat tiga surat kabar harian yang terbit di Yogyakarta, yaitu Kedaulatan Rakyat, Berita Nasional, dan Harian Masa Kini — yang kemudian berganti nama menjadi Harian Yogya Post, dan selanjutnya menjadi Harian Sore Yogya Post di bawah asuhan Yahya Ombara.
Berita Nasional pada masa itu berafiliasi dengan salah satu partai politik, meski dalam perkembangannya kemudian harus melepaskan afiliasi tersebut.
Di awal dekade 1980-an, hampir setiap dua minggu sekali saya mendatangi kantor ini. Keperluannya? Mengantarkan naskah artikel dan mengambil honor. Nilainya memang tidak besar, namun kepuasan batin menjadi hal yang lebih utama. Selain itu, dengan potongan artikel yang mencantumkan identitas kemahasiswaan, honorarium dapat dimintakan di kampus — baik di tingkat fakultas maupun universitas.
Lewat kegiatan meminta tanda tangan inilah saya mengenal Pak Mahfud MD, yang saat itu menjabat sebagai Pembantu Rektor I Universitas Islam Indonesia (UII).
Artinya, satu tulisan artikel bisa mendapat honor dari koran, dari fakultas, dan dari universitas. Mau dimuat di surat kabar nasional ternama atau di koran lokal, besaran honornya di kampus tetap sama. Jadi, tentu lebih memilih di koran lokal yang peluang terbitnya lebih besar.
Tulisan-tulisan yang saya kirim ke Berita Nasional antara lain membahas hukum dan situasi internasional, khususnya yang berkaitan dengan Asia Tengah dan Asia Selatan. Namun, ada juga tulisan yang lebih khas, yaitu di rubrik pertanian. Hampir setiap minggu, dua tulisan terkait pertanian, perkebunan, dan pertamanan dimuat.
Hanya saja, tulisan yang berkaitan dengan pertanian tidak dapat dicairkan honornya di fakultas maupun universitas, karena dianggap bukan bidang yang dipelajari.
Dari sejumlah tulisan yang pernah dimuat di Harian Berita Nasional yang beralamat di Jalan Brigjen Katamso ini, beberapa sempat saya kembangkan menjadi buku. Ada dua buku: Budidaya Ikan: Petunjuk Praktis Beternak Ikan Air Tawar dan Hukum Waris Menurut Burgerlijke Wetboek. Namun, keinginan untuk menyusun dan menerbitkan buku Hukum Humaniter Islam masih terbengkalai.
Hari-hari terus berlanjut, dan honor dari tulisan-tulisan yang mungkin bagi orang lain terlihat “biasa saja” ternyata mampu memberi sesuatu yang nilainya lebih besar daripada sekadar rupiah.
Saya masih ingat betul, saat hendak mengambil honor: masuk ke lobi, menemui resepsionis, lalu dicatat judul, halaman pemuatan, nama penulis, dan tanggal terbitnya. Lembar kecil itu kemudian dibawa ke ruang belakang, bertemu dengan ibu-ibu yang duduk di sebelah barat menghadap ke timur — dan honor pun cair.
Dari proses belajar menulis inilah akhirnya saya memiliki sedikit dasar tentang cara menulis di media massa (versi yang berkembang saat itu). Bahkan, saya sempat mempelajari gaya penulisan dari USA Today, New Straits Times, The Economist, The Wall Street Journal, dan The Guardian, serta versi lokal seperti Serambi Aceh. Saya juga sempat belajar langsung kepada Pak Alvertoeng di Gala Bandung.
Perkembangan berikutnya, Harian Berita Nasional berpindah alamat ke Jalan Letjen MT Haryono, kemudian menetap di Jalan Jenderal Soedirman, dan terakhir di Jalan PUKJ, Sonosewu.











