Beranda Jogja Tempo Doeloe Yu Darmi, Perempuan Penunggu Jalan Suroto (Kisah yang terjadi sekitar tahun 1985 hingga 1990-an)
Jogja Tempo Doeloe

Yu Darmi, Perempuan Penunggu Jalan Suroto (Kisah yang terjadi sekitar tahun 1985 hingga 1990-an)

Ilustrasi

Oleh Agus U, Jurnalis

Marknews.id – Setiap malam, di bawah temaram lampu jalan yang kuning redup, sosok perempuan setengah baya itu muncul di Jalan Suroto. Tas belanja besar selalu di tangannya, seolah baru pulang dari pasar. Namun, siapa pun yang sering melintas antara perempatan Gramedia hingga tembok Stadion Kridosono, Kota Yogyakarta, tahu bahwa ia bukan sekadar perempuan biasa.

Namanya Yu Darmi. Usianya mungkin sudah lebih dari empat puluh tahun. Udara malam yang dingin seolah tak pernah mengusiknya. Baju yang ia kenakan selalu mencolok — merah terang, hijau mencuri pandang, atau kuning keemasan — berpadu dengan celana tiga per empat yang dalam bahasa Jawa disebut kathok gojag-gajeg. Celana yang terlalu panjang untuk disebut pendek, tapi juga terlalu pendek untuk disebut panjang.

Setiap malam, ia berjalan bolak-balik dari pohon tanjung di ujung utara Jalan Suroto hingga depan Perpustakaan Kota Yogyakarta. Kadang berdiri di sisi timur, kadang berpindah ke sisi barat ketika lalu lintas mulai lengang. Siapa pun yang lewat, terutama pengendara motor laki-laki, kerap mendapat sapaan ramah darinya. Sesekali, tangannya melambai kecil — isyarat halus agar seseorang berhenti.

Jika ada yang menepi, Yu Darmi akan mendekat sambil berbicara lembut, seperti seorang ibu yang sedang butuh pertolongan. Katanya, ia kehabisan angkutan umum untuk pulang ke rumahnya di Tempel, Sleman. Ia bercerita baru saja dari RS Bethesda, menjaga suaminya yang sedang sakit.

Siapa pun yang bersedia mengantarnya, biasanya akan segera dimintai tumpangan. Di perjalanan, Yu Darmi duduk membonceng rapat, kedua tangannya melingkar di pinggang pengendara. Napasnya terasa dekat di telinga. Kadang, ia menunduk, berbisik lirih — dan dari situlah, banyak kisah bermula.

“Eee… wkwkwk…” begitu para wartawan sepuh sering mengingat kisahnya sambil tertawa.

Ternyata, Yu Darmi bukan perempuan yang benar-benar pulang ke Tempel. Ia seorang PSK lone wolf yang beroperasi sendirian. Tarifnya tidak tetap — mulai dari agak tinggi, hingga “seikhlasnya”, asal cukup untuk makan dan, seperti pengakuannya, “menjenguk suami di rumah sakit.”

Banyak yang meragukan kisah tentang suaminya. Ada yang bilang itu hanya kedok. Tapi ada juga yang percaya, mungkin hidup memang menempatkannya di posisi sulit — antara kenyataan dan alasan untuk bertahan hidup.

Yang pasti, Yu Darmi hampir selalu ada di sana — di ruas Jalan Suroto. Tidak pernah terdengar kabar ia “beroperasi” di tempat lain. Ia seolah menjadi bagian dari lanskap malam Yogyakarta di masa itu, seperti pohon tanjung yang setia berdiri di ujung jalan.

Kini, kisah tentang Yu Darmi masih kerap muncul di antara obrolan para wartawan sepuh. Dalam tawa nostalgia mereka, sosok Yu Darmi seakan hidup kembali — perempuan penunggu Jalan Suroto yang misterius, lembut, dan menyisakan tanda tanya yang tak pernah benar-benar terjawab.

Sebelumnya

Maklumat Reformasi: Dari Kampus UGM ke Kraton, Ketika Yogyakarta Bicara untuk Bangsa

Selanjutnya

"Oiii Getheke Ngidulna"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement