Beranda Kuliner Dari Sayap ke Meja Makan: Kisah Codot Bacem Sukarwanti di Girimulyo
Kuliner

Dari Sayap ke Meja Makan: Kisah Codot Bacem Sukarwanti di Girimulyo

Marknews.id, Gunungkidul – Asap dapur mengepul lembut dari tungku kayu di rumah sederhana milik Sukarwanti (48), warga Padukuhan Girimulyo, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Di atas panci besar, beberapa ekor codot sebutan lokal untuk kelelawar buah direbus perlahan bersama kecap manis, gula merah, bawang merah, bawang putih, lengkuas, dan daun salam. Aroma manis-gurih khas baceman menyebar di udara sejuk perbukitan selatan.

“Masaknya lama, bisa dua jam lebih,” ujar Sukarwanti sambil mengaduk panci besar di dapurnya, Senin (6/10/2025). “Kalau buru-buru, dagingnya keras dan bumbunya tidak meresap.”

Sudah lebih dari sepuluh tahun Sukarwanti menggeluti usaha kuliner ekstrem ini. Ia belajar dari ibunya, yang dulu dikenal sebagai penjual codot bacem di pasar Panggang. Kini, warung kecil di depan rumahnya menjadi satu-satunya tempat di Girimulyo yang masih mempertahankan menu unik itu.

Kelelawar yang digunakan bukan sembarangan. Sukarwanti hanya memakan codot kebun—jenis kelelawar pemakan buah seperti pisang, jambu, atau mangga. “Bukan dari gua,” katanya menegaskan. “Yang dari gua baunya menyengat dan tidak enak dimasak.”

Setiap pagi, ia menyiapkan bahan bersama suaminya. Codot dibersihkan, direndam air jeruk nipis, lalu dimasak dengan bumbu bacem hingga kuahnya menyusut dan warna dagingnya kecokelatan. Kadang, untuk memberi tekstur renyah, daging yang telah dibacem digoreng sebentar.

Warung Sukarwanti tampak sederhana  hanya meja kayu, wajan besar, dan nampan logam. Namun setiap akhir pekan, pembeli berdatangan. Ada warga lokal yang sudah langganan, ada pula wisatawan dari Yogyakarta, Solo, hingga Jakarta.

“Pernah ada yang datang jauh-jauh cuma mau buktiin rasanya kayak apa,” katanya sambil tersenyum.

Harga codot bacem berkisar antara Rp10.000 hingga Rp15.000 per ekor, tergantung ukuran. Dalam sehari, ia bisa menjual hingga 30 ekor. Sebagian pembeli percaya, daging codot punya manfaat untuk kesehatan, terutama pernapasan dan asma. “Saya nggak tahu pasti, tapi banyak yang bilang begitu,” ujar Sukarwanti.

Pandemi COVID-19 sempat menghantam usahanya. Isu bahwa kelelawar menjadi sumber virus membuat masyarakat takut. “Waktu itu warung sepi banget, saya berhenti jualan hampir setahun,” kenangnya.

Namun, setelah situasi membaik, pelanggan kembali datang. Sukarwanti menegaskan, proses masaknya dilakukan dengan higienis dan matang sempurna. “Semua dimasak sampai empuk, nggak ada yang mentah,” katanya. “Yang penting bersih dan sabar.”

Kini, aroma baceman kembali mewarnai pagi di rumahnya. Di meja depan, potongan codot bacem tersusun rapi kulitnya keemasan, bumbunya meresap, dan wangi rempahnya kuat.

Bagi Sukarwanti, bacem codot bukan sekadar usaha mencari rezeki. Ia melihatnya sebagai bentuk menjaga warisan kuliner dari leluhurnya. “Ibu saya dulu juga masak ini. Saya cuma meneruskan,” ujarnya pelan.

Meski tak semua orang berani mencicipinya, codot bacem tetap punya tempat di hati warga Girimulyo. Di tengah derasnya tren kuliner modern, menu tradisional ini menjadi pengingat bahwa rasa juga bisa menyimpan sejarah.

“Selama masih ada yang mau makan, saya akan terus masak,” kata Sukarwanti menutup percakapan.

Asap dari dapur kecilnya kembali mengepul, membawa wangi manis baceman yang menguar hingga jalan desa  seolah menandakan bahwa tradisi belum sepenuhnya hilang dari Gunungkidul.

Sebelumnya

KAI Daop 6 Yogyakarta Hadirkan Kereta Ekonomi Generasi Baru, Tawarkan Kenyamanan Premium dengan Harga Terjangkau

Selanjutnya

Menjaga Marwah Jurnalisme di Tengah Ledakan Konten Digital

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement