Transportasi Ramah Lingkungan Diminati, Pengguna Commuter Line DIY–Solo Melonjak Tajam
YOGYAKARTA, MARKNEWS.ID – Jumlah penumpang Commuter Line di wilayah Yogyakarta dan Solo mengalami lonjakan signifikan sepanjang awal tahun 2025. Berdasarkan data KAI Commuter Wilayah 6 Yogyakarta, hingga Mei 2025 tercatat lebih dari 5,23 juta pengguna telah memanfaatkan layanan kereta listrik ini. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 51,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Manager Public Relations KAI Commuter, Leza Arlan, menyampaikan bahwa pencapaian ini mencerminkan tren positif dari sektor transportasi massal berbasis rel di wilayah tersebut.
“KAI Commuter mencatat kinerja positif di Wilayah 6 Yogyakarta sepanjang Januari hingga Mei 2025 dengan total pengguna mencapai 5.234.909 orang, tumbuh 51,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 3.460.947 orang,” ujarnya pada Rabu (11/6/2025).
Secara khusus, sepanjang Mei 2025 tercatat volume pengguna mencapai 943.716 orang. Angka tersebut mengalami peningkatan sebesar 20,16 persen dibandingkan Mei tahun sebelumnya. Pengguna Commuter Line Yogyakarta–Palur menyumbang porsi terbesar, yakni 849.235 orang, sementara layanan Commuter Line Prambanan Ekspres (Prameks) melayani 94.481 penumpang.
Stasiun-Stasiun Padat dan Arus Mobilitas Harian
Data juga menunjukkan bahwa Stasiun Yogyakarta (Tugu) menjadi titik keberangkatan utama dengan volume tertinggi, yakni sebanyak 241.112 orang. Diikuti Stasiun Lempuyangan (135.165 orang) dan Stasiun Solo Balapan (81.243 orang). Sementara dari sisi tujuan, Stasiun Tugu Yogyakarta juga menempati urutan pertama dengan 213.784 penumpang, disusul Stasiun Solo Jebres (124.363 orang) dan Stasiun Lempuyangan (108.273 orang).
Tingginya aktivitas di stasiun-stasiun tersebut mencerminkan peran vital Commuter Line dalam mendukung mobilitas harian masyarakat, khususnya di wilayah aglomerasi Yogyakarta–Solo yang terus berkembang.
Transportasi Publik sebagai Pilihan Gaya Hidup Baru
Pertumbuhan signifikan ini dinilai sebagai indikator meningkatnya kepercayaan publik terhadap transportasi umum. Lebih jauh lagi, Leza mengungkapkan bahwa lonjakan pengguna juga merupakan bagian dari pergeseran gaya hidup masyarakat yang semakin sadar lingkungan.
“Selain itu, pertumbuhan ini merupakan salah satu perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih ramah lingkungan, karena transportasi umum ini merupakan salah satu solusi dalam menekan emisi karbon dan kemacetan,” tuturnya.
Tak hanya mengandalkan pertumbuhan alami, KAI Commuter juga aktif meningkatkan kemudahan akses layanan. Integrasi dengan moda transportasi lain seperti KA Jarak Jauh, KA Bandara, dan transportasi darat lainnya menjadi salah satu strategi mendorong kenyamanan dan keterjangkauan.
“Sesuai dengan visi perusahaan, yaitu menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban melalui pengelolaan transportasi perkotaan terbaik di Indonesia, KAI Commuter terus meningkatkan layanan kepada seluruh penggunanya,” ujar Leza.
Tantangan dan Prospek ke Depan
Lonjakan jumlah penumpang Commuter Line ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai beralih ke moda transportasi massal yang efisien dan berkelanjutan. Namun demikian, tantangan seperti peningkatan kapasitas, kenyamanan layanan, serta kesiapan infrastruktur stasiun dan integrasi moda harus terus menjadi perhatian ke depan.
Dengan proyeksi pertumbuhan pengguna yang terus meningkat, Commuter Line berpotensi menjadi tulang punggung mobilitas harian di wilayah Yogyakarta–Solo dan sekitarnya, sejalan dengan tren urbanisasi dan kebutuhan akan transportasi yang cepat, hemat, dan ramah lingkungan.











