Rasulan Gunungkidul Tetap Bertahan di Tengah Perubahan Zaman, Jadi Ruang Syukur dan Perekat Sosial Warga
Marknews.id, Gunungkidul – Memasuki musim kemarau, masyarakat di berbagai wilayah Gunungkidul kembali menggelar tradisi Rasulan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi yang dikenal pula sebagai bersih desa ini tidak sekadar menjadi perayaan tahunan pascapanen, tetapi juga berfungsi sebagai ruang kebersamaan yang memperkuat hubungan sosial sekaligus menjaga keberlangsungan budaya lokal.
Di sejumlah kalurahan dan padukuhan, pelaksanaan Rasulan berlangsung meriah melalui beragam kegiatan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari kerja bakti membersihkan lingkungan, ziarah makam leluhur, kenduri bersama, kirab budaya, hingga pertunjukan kesenian tradisional seperti jathilan, reog, karawitan, dan wayang kulit.
Tradisi tersebut masih dijaga kuat di berbagai kawasan Gunungkidul, antara lain Kalurahan Wareng di Kapanewon Wonosari, Kalurahan Kepek, Kalurahan Bejiharjo di Kapanewon Karangmojo, Kalurahan Semin di Kapanewon Semin, serta sejumlah padukuhan di wilayah Playen, Paliyan, dan Ponjong. Bagi masyarakat setempat, Rasulan telah menjadi bagian penting dari identitas budaya yang terus dipertahankan dari generasi ke generasi.
Alumnus Jurusan Sejarah Universitas Gadjah Mada, Yudah Prakosa, menjelaskan bahwa Rasulan berakar dari tradisi masyarakat agraris yang sejak lama menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Karena itu, momentum panen menjadi waktu yang tepat untuk mengekspresikan rasa syukur atas hasil yang diperoleh.
Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan hasil panen, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai sosial yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat pedesaan Jawa.
“Rasulan merupakan warisan budaya yang mencerminkan cara masyarakat menjaga harmoni dengan sesama manusia, lingkungan, dan Tuhan. Tradisi ini tumbuh dari kehidupan masyarakat agraris yang menjadikan rasa syukur sebagai nilai utama dalam kehidupan bersama,” ujarnya, Ahad (31/5/2026).
Yudah menilai keberlangsungan Rasulan hingga saat ini menunjukkan kemampuan budaya lokal untuk beradaptasi dengan perkembangan masyarakat tanpa kehilangan makna utamanya. Dalam praktiknya, tradisi tersebut mengalami proses percampuran antara budaya Jawa dan nilai-nilai keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat.
Hal itu terlihat dari rangkaian kegiatan yang kini menjadi bagian dari pelaksanaan Rasulan, seperti doa bersama, pengajian, tahlil, kenduri, hingga sedekah makanan yang dibagikan kepada warga.
“Rasulan adalah perpaduan antara tradisi dan agama yang berkembang secara alami di tengah masyarakat. Yang perlu dipahami, kegiatan ini bukan bentuk pemujaan terhadap selain Tuhan. Justru yang ditekankan adalah ungkapan syukur kepada Tuhan atas rezeki dan hasil panen yang diperoleh, sekaligus memperkuat silaturahmi dan gotong royong warga,” kata Yudah.
Ia juga menegaskan bahwa pandangan yang menganggap Rasulan dekat dengan praktik yang bertentangan dengan ajaran agama tidak sepenuhnya tepat. Pasalnya, mayoritas kegiatan yang dilaksanakan saat ini berisi unsur doa, sedekah, serta aktivitas sosial yang bertujuan mempererat hubungan antarmasyarakat.
Secara etimologis, Rasulan berasal dari kata rasul yang merujuk kepada utusan Allah. Karena itu, pelaksanaannya banyak diwarnai kegiatan keagamaan yang dipadukan dengan tradisi budaya setempat, dengan menghindari unsur-unsur yang dianggap bertentangan dengan ajaran agama.
Bagi warga Gunungkidul, Rasulan juga memiliki makna sosial yang kuat. Selain menjadi ajang syukur bersama, tradisi ini sering kali menjadi momentum berkumpulnya keluarga besar yang datang dari berbagai daerah.
Warga Gunungkidul, Suharjo, mengatakan persiapan Rasulan biasanya dilakukan jauh sebelum hari pelaksanaan. Warga bergotong royong menata lingkungan dan mempersiapkan seluruh kebutuhan acara.
“Biasanya jauh hari sebelum acara kami sudah mulai kerja bakti membersihkan lingkungan dan mempersiapkan berbagai kebutuhan. Saat Rasulan, semua warga terlibat. Ada kenduri, doa bersama, kirab budaya, sampai pertunjukan kesenian. Suasananya ramai dan penuh kebersamaan,” ujarnya.
Menurut Suharjo, nilai utama yang diwariskan melalui Rasulan adalah rasa syukur dan semangat kebersamaan yang terus dijaga masyarakat desa. Melalui kegiatan tersebut, warga tidak hanya merayakan hasil panen, tetapi juga memperkuat hubungan sosial yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.
Di tengah derasnya perubahan sosial dan perkembangan zaman, Rasulan tetap menjadi salah satu tradisi yang bertahan kuat di Gunungkidul. Keberadaannya di ratusan padukuhan menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki ruang hidup yang luas, sekaligus mampu berjalan selaras dengan nilai-nilai keagamaan yang dianut masyarakat. Tradisi ini pun terus menjadi simbol harmonisasi antara budaya, agama, dan gotong royong dalam kehidupan warga Gunungkidul.









