Engkel VS Dobel State — Honda Bebek dan Yamaha Meri
Marknews.id – Sepeda motor buatan Jepang yang mulai bermunculan di Yogyakarta pada akhir dekade 1960-an dan awal 1970-an didominasi oleh kendaraan berkapasitas kecil, yakni 50 cc hingga 100 cc.
Sepeda motor di bawah 100 cc umumnya menggunakan kopling otomatis, sehingga pengendara tidak lagi harus memanfaatkan tangan kiri untuk operasional perjalanan. Tangan kiri hanya digunakan untuk lampu sein, klakson, dan lampu. Tidak ada tuas rem atau kopling yang menjadi beban kerja tangan kiri.
Berbeda dengan sepeda motor Eropa, seperti DKW, Ducati Luxor, Ducati Cucciolo, Victoria, Zundapp, dan lainnya yang berkapasitas 48 cc (dari pabrik memang ditulis 48 cc, tidak dibulatkan menjadi 50 cc). Pada motor-motor tersebut, tangan kanan berfungsi untuk gas, rem depan, dan bahkan choke, sedangkan tangan kiri untuk operasional lampu, klakson, kopling, serta persneling. Bahkan Ducati menempatkan rem depan di tangan kiri dan gas di tangan kanan.
Bagian kaki pada motor seperti DKW, Victoria, dan Zundapp digunakan untuk kick starter yang berbentuk pedal seperti sepeda, meskipun tidak bisa digunakan untuk mengayuh langsung. Selain itu, kaki juga berfungsi untuk rem belakang, yakni dengan cara diinjak mundur untuk menarik rem.
Sepeda motor Jepang memberikan kenyamanan lebih bagi pengendara. Lampu malam lebih terang, jok lebih empuk, suspensi lebih nyaman, tarikan lebih ringan, serta kecepatan lebih tinggi. Namun demikian, sepeda motor Jepang membebani kaki kiri untuk persneling, serta kaki kanan untuk rem belakang dan kick starter.
Pada sekitar tahun 1974, Yamaha menghadirkan motor 50 cc. Honda juga turut merilis motor dengan kapasitas serupa.
Suara knalpot Yamaha yang nyaring dan jernih oleh masyarakat Yogyakarta dianggap mirip suara anak itik yang disebut “meri”. Karena itu, motor tersebut dikenal sebagai Yamaha Meri. Sementara itu, Honda 50 cc memiliki bentuk spakbor yang menyerupai paruh bebek, sehingga kemudian dikenal sebagai Honda Bebek. Pada masa itu, julukan “bebek” merujuk pada Honda, berbeda dengan penggunaan istilah saat ini.
Lalu bagaimana dengan Suzuki? Pada awal kehadirannya di Indonesia, Suzuki menghadirkan motor dengan tangki bensin di depan tempat duduk pengemudi, yakni Suzuki M50. Motor ini dikenal sebagai “montor lanang”, sehingga tidak mendapatkan julukan bebek maupun meri.
Pada tahun 1973–1974, Yamaha merilis seri V-75 (75 cc) yang dilengkapi electric starter atau dobel starter. Mesin dapat dinyalakan cukup dengan menekan tombol, meskipun kick starter tetap tersedia.
Motor dengan dua sistem starter ini disebut dobel starter, sedangkan yang hanya menggunakan kick starter disebut engkel.
Pada awal kemunculannya, motor dobel starter kurang diminati. Bahkan, harga jual kembalinya cenderung lebih rendah dibandingkan tipe engkel.
Honda kemudian menyusul menghadirkan motor dengan sistem dobel starter. Namun, respons pasar tidak jauh berbeda. Banyak kalangan, terutama generasi tua saat itu, tidak merekomendasikan motor dengan fitur tersebut.
Alasannya antara lain perawatan yang dianggap lebih rumit, mudah mengalami gangguan, aki cepat rusak, serta berbagai kekurangan lainnya. Meski demikian, pabrikan tetap melanjutkan pengembangan. Motor dengan dobel starter semakin banyak beredar dan bahkan menjadi fitur yang umum, termasuk pada “montor lanang”.
Kini, tren kembali bergeser ke engkel. Namun, yang digunakan adalah electric starter, sementara kick starter justru dihilangkan. (*)











