Beranda Jogja Tempo Doeloe “Den, nginthil den…..”
Jogja Tempo Doeloe

“Den, nginthil den…..”

Oleh: Agus U, jurnalis

Marknews.id – NGINTHIL, kegiatan ini dilakukan oleh anak-anak yang tinggalnya berdekatan dengan pemakaman umum. Aktivitas nginthil ini marak biasanya pada bulan Jawa Ruwah atau bulan kedelapan dalam kalender Jawa Suntanagungan, ketika banyak orang yang “ngirim” atau ziarah ke pusara keluarganya.

Dalam satu kelompok, biasanya terdiri dua atau tiga anak sekaligus. Mereka akan mengikuti rombongan peziarah sambil menawarkan diri. “Den, nginthil Den. Pareng nginthil Den…” sampai ada ucapan yang membolehkan atau menolak. Kalau sudah mendapat jawaban peziarah ini tidak mau “etikanya” anak-anak tidak akan lagi menawarkan diri dan kelompok lain pun takkan menawarkan jasa.

Para penginthil ini jika diizinkan, akan mengikuti peziarah sambil membawa anglo kecil dengan bara arang, tepas dan sapu serta gathul — ada yang menyebut cengkrong, untuk membersihkan rumput dan wadah sampah kecil.

Jika peziarah yang mendatangi makam keluarganya, maka dua atau tiga penginthil ini akan segera bertindak. Membersihkan makam dari rumput liar, membersihkan lumut yang menempel di nisan yang biasanya terbuat dari batu hitam, serta meninggikan kembali tanah gundukan jika tidak terpasang nisan batu.

Selesai membersihkan, si penginthil ini segera menyiapkan anglo berisi bara arang ditempatkan di bawah atau di bagian kaki makam seseorang. Sambil menunggu yang paling senior dalam rombongan peziarah berdoa, sambil meletakkan kemenyan dalam bara sehingga asap membubung tinggi si penginthil akan diam. Selesainya satu titik ditandai dengan selesainya menaburkan bunga ziarah. Kalau senior rombongan salah cara menaburnya, si penginthil akan mengingatkan dengan lembut agar menaburkan buka dari bagian kaki naik ke bagian badan dan kepala.

Katanya, ini mengikuti perjalanan keluarnya ruh manusia ketika dicabut nyawanya yang biasanya ditandai bagian kaki yang dingin dan terus naik ke atas hingga napas terakhir.

Bunga yang ditabur, memang tidak ada aturan khusus tetapi adalah bunga mawar merah dan mawar putih, bunga kantil dan melati, kenanga dan telasih (mirip dengan bunga kemangi namun tangkainya berwarna ungu).

Katanya, dengan membakar kemenyan, asap membubung tinggi atau kemebul, adalah ungkap permohonan agar doanya dikabulkan. Makbul. Dan sekaligus aroma terapi, karena biasanya makam adalah tempat yang “kekiwa” atau jarang didatangi orang pada hari-hari biasa. Dan dengan membakar kemenyan biasanya orang akan lebih khusuk dalam membatinkan doa.

Bunga kenanga, memberitahunan kepada kita bahwa kenangopo kudu eling marang sing wis seda. Mawar merah dan mawar putih, memberitahukan, bahwa si mati ini telah menjalani kehidupan dengan mawarno-warni panguripan panggesangan. Maka dari itu, gematenana atau rawatlah dengan baik meski sudah meninggal, sebab orang yang sudah meninggal itu tetap malati atau memiliki “kepandaian” dan telah diajarkan kepada anak cucunya. Meski engkau cinta dengan yang sudah meninggal, cintanya kumanthil-manthil namun kini sudah meninggal, telah habis kecintaan duniawiannya, wis telas sihing marang sapada-pada.

Nah selesai mengikuti si peziarah, anak yang nginthil ini tadi kemudian akan mendapat upah dari keluarga peziarah. Biasanya berkisar Rp5 per anak. Era 1970-an, harga es cream keliling (es dhong dhong) Rp2 per sajian.

Kalau beruntung sehari bisa mendapatkan Rp25 atau bahkan Rp50 per hari. Maklum saingannya banyak.

Biasanya ziarah kubur ini dilakukan setelah purnama atau mulai tanggal 16-an bulan Ruwah. Jarang orang yang belum purnama sudah melakukan ziarah.

Si peziarah selain memberikan kepada anak-anak, biasanya juga memberikan uang tinggalan atau tindhih kepada sang juru kunci dengan perkataan, “titip nggih tulung dijagi makame bapak-simbok atau simbah.” (****)

 

Sebelumnya

Labuhan Ageng Dal 1959 Tandai Peringatan Tingalan Jumenengan Sri Sultan HB X di Keraton Yogyakarta

Selanjutnya

Gaya yang Berpikir: Barbershop Mas Joe, Rapi Tanpa Tapi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement