Beranda Jogja Tempo Doeloe Yang Hilang Dari Jogja Momong di Stasiun
Jogja Tempo Doeloe

Yang Hilang Dari Jogja Momong di Stasiun

Ilustrasi

oleh: Agus U, jurnalis

Marknews.id – STASIUN di Yogyakarta, baik Stasiun Tugu, yang kemudian berubah nama menjadi Stasiun Besar Yogyakarta dan terakhir Stasiun Jogjakarta, maupun Stasiun Lempuyangan, hingga era 2000an awal, menjadi salah satu tempat favorit untuk momong bocah.

Kala itu, masuk peron stasiun tidak perlu membayar dan tidak perlu harus memiliki karcis untuk naik kereta api. Cukup parkir di tempat parkir yang ada di sebelah selatan maupun sebelah timur (depan) Stasiun Tugu atau Stasiun Lempuyangan, terus masuk saja ke kompleks stasiun.

Harga parkir saat itu murah dan penjaga parkir tidak akan menaikkan harga meski lama parkirnya. Seperti calon penumpang, bisa ambil duduk di kursi-kursi yang tersedia, melihat genta berbunyi ketika kereta akan lewat atau akan datang, melihat Pak Sep (PPKA) bertopi merah membawa eblek — bulatan dengan warna hijau bergagang yang oleh pecinta kereta api disebut Semboyan 40.

Anak-anak akan semakin hapal, setelah PPKA mengangkat Semboyan 40 akan dijawab oleh Kondektur dengan Semboyan 41 yang berupa bunyi peluit panjang dan kemudian Masinis akan membunyikan sulingan atau terompet, Semboyan 35, barulah kereta bergerak berangkat.

Kalau masih belum puas, bisa mengajak anak untuk naik kereta (gerbong) yang sedang disusun rangkaiannya atau numpak sepur langsiran. Petugas di stasiun biasanya akan maklum dengan perilaku ini dan bahkan akan mengarahkan, maka yang akan bergerak. Kapan naik dan kapan turun. Sensasinya? Ketika menyambung — hentakan benturan antar kereta saat kopel.

Sedikit berbeda dengan di Stasiun Lempuyangan. Biasanya masuk di sebelah timur stasiun, sepeda atau sepeda motor di bawa masuk. Anak-anak menonton kereta api yang lewat atau langsiran atau kereta barang dan kereta ketel yang ada di lokasi ini.

Selain menikmati sate ayam plus lontong dan naik kereta yang sedang langsir susun formasi, anak-anak akan bertemu teman sebayanya dan bermain di lokasi. Para orang tua saling komunikasi saling bertutur cerita dan bisa jadi akan bertemu pada hari-hari berikutnya.

Stasiun Tugu kemudian menerapkan untuk masuk stasiun harus bayar peron. Tapi ini tidak menyurutkan untuk momong yang nyaman dan teduh. Lama-lama pula stasiun menjadi tempat tertutup. Orang tidak bisa lagi masuk stasiun jika tidak memiliki tiket perjalanan. Jogja kehilangan salah sat tempat favorit untuk momong anak yang menyenangkan. (**)

Sebelumnya

Rekomendasi HP Gaming Terjangkau Akhir 2025, Mana Paling Worth It untuk Gamer Mobile?

Selanjutnya

KAI Daop 6 Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Stasiun Yogyakarta Selama Angkutan Nataru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement