Beranda Jogja Tempo Doeloe GPAA Paku Alam IX Suka “Blusukan” dengan Sepeda Motor
Jogja Tempo Doeloe

GPAA Paku Alam IX Suka “Blusukan” dengan Sepeda Motor

GPAA Paku Alam IX (Sumber : JPNN)

Marknews.id – MESKI jarang diekspos dan selalu menghindar wawancara dengan wartawan, Wakil Gubernur di Daerah Istimewa Yogyakarta periode (16 Januari 2002 – 21 November 2015) ini sebenarnya sosok yang mudah akrab dan suka bergaul dengan banyak kalangan masyarakat.

Banyak wartawan senior yang selalu teringat dengan kata-kata beliau ketika didekati wartawan. “Sampun lah, jangan saya…..” sembari menelangkupkan kedua telapak tangannya.

Atau dalam satu kesempatan di Karangwuni tahun 2006 lalu, ketika beliau meresmikan renovasi telaga. Renovasi ini digagas dan dilaksanakan oleh wartawan Kepatihan bersama Kantor Pengairan DIY serta warga setempat.

Beliau mengungkap mengapa enggan diwawancara? “Aku ki mung wakil. Tegese wakil kuwi awak karo sikil. Awak karo sikil kuwi ora iso omong…. Isane yo temandang,” katanya.

Memang benar, KGPAA Paku Alam IX ini lebih suka bekeliling yang kalau dalam bahasanya Pak Harto disebut incognito dan di zamannya Pak Jokowi disebut blusukan.

Tak tanggung-tanggung, bukan dengan mobil, Sri Paduka yang ini lebih suka menggunakan sepeda motor, bukan sepeda motor gede atau sepeda motor yang terbaru pada zamannya. Tapi lebih banyak menggunakan sepeda motor lama ber-cc kecil. Bebek.

Karena itu, Sri Paduka tak bisa “ditipu” dengan laporan-laporan indah yang tidak sesuai dengan kenyataan lapangan.

“Kok namung ngagem sepeda motor alit, sanes ingkang langkung ageng?” tanya wartawan dalam satu kegiatan rileks.

Beliau menjawab, sebenarnya ada sepeda motor gede Harley Davidson yang sering digunakan putranya. “Ning nek arep nguripke ndadak mancal, ora mejet. Wa wegah aku,” katanya yang berarti kalau akan menghidupkan (mesinnya) hanya bisa menggunakan kick starter, bukan menggunakan “start button” atau electric starter seperti sepeda motor tinggal menghidupkan kunci kontak dan pencet.

Kalau blusukan, Sang Raja Pura Pakualaman ini memang tidak pernah memiliki arah tertentu. Kemana suka ke arah itu beliau mengendara. Tak ada titik tujuan khusus. Di mana memandang dan ingin berhenti, ya berhenti. (***)

Sebelumnya

Sambut Nataru 20252026, KAI Daop 6 Yogyakarta Percantik Stasiun dan Kereta dengan Nuansa Natal

Selanjutnya

Festival Siripada Hidupkan Wisata Heritage Jalur Ambarawa–Tuntang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement