Peta Buta
Oleh : Agus U, jurnalis
Marknews.id – COBA TANYA ke anak kelas 1 SMP atau bahkan SMA ibukota-ibukota provinsi se Indonesia. Nama-nama sungai dan letaknya, nama-nama gunung dan pegunungan. Atau Pegunungan Muller dan Schwaner, Verbeek, nama lain Kendeng Selatan, DTT Priangan, DTT Dieng dan sebagainya. Hampir 100 persen mereka tak tahu.
Berbeda dengan era 1970-an lalu. Siswa kelas 4 Sekolah Dasar di era 1970-an salah satu mata pelajaran yang wajib diikuti adalah Kewargaan Negara — era berikutnya sempat dikoreksi dengan sebutan Kewarga-negaraan.
Tidak hanya berbicara tentang Pancasila, tentang sejarah perjuangan bangsa terutama pada masa Pendobrak dan masa awal kemerdekaan, tetapi di dalamnya juga mempelajari tentang wilayah Republik Indonesia, tentang provinsi dan kota-kotanya, sungainya, jalur kereta apinya dan sebagainya.
Khusus untuk peta. Anak-anak SD ini akan mendapat pelajaran menggambar peta, lengkap dengan kota (ibukota provinsi atau bukan), jalan kereta api yang menghubungkan satu kota dengan kota lainnya, jalan raya, sungai, gunung — aktif atau mati — dan pegunungan dan kelengkapan peta lainnya.
Setiap sekolah ( di Yogyakarta) kala itu dipastikan memiliki peta yang berukuran besar yang dapat digulung dan dibuka. Peta dunia, Asia, Indonesia dan setidaknya ada Peta Pulau Jawa. Rata-rata peta Indonesia dan Jawa ada yang merupakan peta lengkap, artinya ada nama-nama kota, nama sungai, nama pegunungan, nama gunung dan catatan peta lainnya yang disebut legende.
Pada peta yang tidak ada catatannya yang disebut peta buta, siswa wajib tahu. Ketika guru menunjuk satu sungai, satu kota atau satu gunung atau pegunungan. Siswa harus tahu.
Kalau tidak tahu? Berdiri di depan dan menyimak teman lainnya yang menjawab. Dan wajib untuk benar pada minggu berikutnya. (***)











