Beranda Jogja Tempo Doeloe Melihat Surutnya Capaian Teknologi (2)
Jogja Tempo Doeloe

Melihat Surutnya Capaian Teknologi (2)

Sumber Gambar : Kompas

Oleh:Agus U, jurnalis

Marknews.id – Generasi dari Pre-Boomer hingga Generasi Y dalam perjalanan hingga sekarang menjadi generasi yang banyak menyaksikan tumbuh dan tumbangnya aneka kemajuan teknologi.

Generasi Pre-Boomer dan Generasi Baby Boomer bahkan tercatat sebagai generasi pertama yang dalam menjalani sekolah mengalami perubahan dari mata pelajaran berhitung ke matematika.

Generasi yang menyaksikan perubahan belajar membaca huruf hijaiyyah yang berpedoman pada Turutan atau Qoidah Baghdadiyah yang harus menghapal alif-ba-ta-dan selanjutnya, alif fathah alif kasrah alif dhommah a-i-u ke a-ba-ta-tsa….

Generasi ini pula yang ketika di SMP dan SMA masih merasakan mata pelajaran Ilmu Ukur baik Ukur Ruang maupun Ukur Sudut, masih menggunakan daftar log, masih menyandarkan pada pedoman daftar annnuitet bunga, daftar sin-cos-tangens-cotangen. Masih menggunakan Ilmu Hitung Dagang dan Tata Buku sebelum berganti dengan Akuntansi.

Di bidang teknologi komputer, generasi ini merasakan komputer dengan satu atau dua disk drive dan saat menyalakan komputer harus memasang disket DOS di drive A hingga prompt. Penyimpanan dengan menggunakan disket besar yang berkapasitas 500 kilobyte sebelum berganti ke floppy disk yang berkapasitas 1,44 MB.

Menulis dengan WS-4 dan memulai naskah dengan perintah bertitik untuk menentukan ukuran huruf, pasak pinggir kiri dan kanan, atas dan bawah, memasang atau meniadakan nomor halaman di kertas cetak, belum perintah lain agar nantinya tercetak huruf tebal (bold), huruf miring (italic), dan sebagainya.

Membuat neraca dengan Lotus 123. Atau lainnya.

Mereka yang masuk generasi ini juga merasakan hadir dan hilangnya sejumlah perangkat yang menunjukkan kemajuan dan kebanggaan pada zamannya.

1. Pager

Pager — dibaca pejer — adalah alat komunikasi satu arah. Kecil, hingga biasa diselipkan di ikat pinggang. Alat akan menyampaikan pesan dari seseorang kepada pemegang peralatan terkait informasi tertentu.

Berlangganan pager di Yogyakarta kala itu ada beberapa operator dengan harga langganan rata-rata Rp25.000 per bulan. Dengan berlangganan akan mendapat satu alat yang namanya pager dan nomor identitas.

Untuk mengirimkan pesan kepada pelanggan, seseorang harus menelepon ke operator pager, menyampaikan identitas pengirim dan isi berita/informasi yang akan disampaikan.

Beberapa detik setelah pesan disampaikan ke operator, penerima pesan pun akan menerima pesan tersebut melalui pesawat pager. Adanya pesan masuk ditandai dengan dering yang melengking panjang.

Ada beberapa wartawan yang dengan bangga biasanya membiarkan dering tersebut berbunyi keras, lama, dan berulang sebelum akhirnya dipencet tanda dibaca.

Era pager di Indonesia khususnya di Yogyakarta hanya berlangsung beberapa tahun saja. Kira-kira pertengahan dekade 1990-an, tak lagi orang-orang berseliweran dengan alat kecil pager yang ada di sabuk yang bentuknya mirip meteran mandor bangunan.

2. Foto Studio

Kamera foto, orang sering menyebutnya sebagai Kodak — meski sebenarnya merek — menjadi salah satu barang mewah dan masuk ke kelompok kebutuhan sekunder atau bahkan tidak masuk daftar sama sekali dalam daftar “harta kekayaan keluarga” yang wajib dimiliki.

Karena itu, jarang keluarga biasa yang memiliki peralatan foto. Apalagi harga film — media rekam foto —nya juga mahal. ASA 100, ASA 300, atau 400.

Hitam/putih atau color (berwarna). Habis memotret harus dicuci/cetak atau cuci dan afdruk, mahal pula.

Karenanya, jika ingin memiliki foto, biasanya keluarga mendatangi studio foto yang ada di sejumlah lokasi di Yogyakarta. Studio foto selain menyediakan tempat untuk pasfoto juga tersedia taman dan beberapa perlengkapan keindahan berfoto. Bahkan sering pula menyiapkan sepeda motor atau ruang yang seperti ruang tamu mewah untuk pelanggan foto.

Mendatangi studio foto biasanya hanya mengambil satu atau dua jepretan saja. Jangankan satu roll, yang berfoto lebih dari tiga pun jarang.

Keberadaan studio foto ini lama-lama hilang. Kamera murah, pocket camera yang sudah dilengkapi lampu blitz banyak bertebaran. Film berwarna dengan harga terjangkau juga menyebar. Film berwarna memerlukan peralatan khusus untuk cuci dan cetak yang tidak dimiliki oleh studio foto biasa.

Studio foto pun mulai terseok-seok meski masih ada satu dua saja. Ditambah lagi dengan kehadiran kamera saku digital, prosesnya dengan komputer dan cetaknya dengan printer biasa pun jadi. Disusul lagi dengan henpon yang memiliki kualitas kamera yang cukup hebat.

Generasi Pre-Boomer dan Baby Boomer menyaksikan surutnya studio foto.

3. Mesin Stensil

Alat yang satu ini adalah untuk menggandakan naskah. Biasanya digunakan oleh sekolah-sekolah, kantor yang memerlukan penggandaan naskah — Sekretariat DPRD atau lainnya yang memerlukan pembuatan formulir dan jasa penjualan formulir (di Jogja yang kondang adalah Pak T Achmad di Keparakan Kidul).

Mula-mula, draft diketik pada kertas khusus yang akan dipasang sebagai “master” untuk cetak. Kertas stensil ini ketika ditimpa huruf pada mesin ketik akan berlubang. Setelah selesai, barulah dipasang di mesin stensil.

Bagian cream tinta diisi dengan tinta, kertas kosong yang akan menjadi barang cetakan — biasanya kertas duplicator atau kertas cetak lainnya. Engkol diputar, kertas kosong tertimpa kertas stensil dan tinta keluar menapak kertas kosong. Kertas kosong setelah keluar telah terdapat cetakan.

Kapasitasnya? Satu jam biasanya 100 atau 200 lembar.

Namun kepada anak-anak remaja 1970-an, jika anda menanyakan tentang stensilan, yang muncul di benak adalah buku tentang cerita dewasa karangan Velentino yang beredar murah saat itu.

4. Horn Toa

Ewuh atau kondangan pada masa lalu baik itu mantu atau ngunduh mantu atau tetakan (sunatan) biasanya diselenggarakan di rumah. Tidak menggunakan gedung pertemuan. Biasanya orang menggunakan gedung pertemuan jika rumahnya tidak cukup besar atau jika orang kaya dan ingin lebih mewah.

Orang yang ewuh — bahasa berikutnya disebut shohibul hajat atau ingkang kagungan kersa — akan menangani sendiri, mengoordinasi sendiri dengan panitia bentukannya.

Orang yang bertanggung jawab di dapur termasuk mencari tukang adang. Adang adalah menanak nasi dengan cara di-dang. Tidak sembarang orang bisa melakukan sebab ada risiko spiritual. Sedangkan yang memimpin kegiatan memasak biasanya seorang perempuan yang ahli masak di desa atau kampung tersebut.

Juru Paes atau sebutan dulu Dukun Paes yang akan merias penganten.

Tenda — biasanya terpal atau membuat anyaman daun kelapa yang disebut getepe — dan lainnya ditangani warga setempat sedangkan penyaji biasanya ditangani oleh muda-mudi yang disebut sinoman.

Salah satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah sound system. Orang yang “punya bikin” — duwe gawe kata tetangga yang keturunan Cina (dulu era tersebut gojekan rasis itu biasa dan mereka tidak marah karena tahu hanya gojekan keakraban) — akan menyewa peralatan sound system. Mulai dari tape, amplifier, salon (pengeras suara dalam ruangan), mic dan stand mic, hingga horn atau pengeras suara yang kebanyakan bermerek Toa yang dipasang di bagian atas pohon kelapa. Lengkap dengan kasetnya.

Mulai dari uyon-uyon, cokekan, ketoprak, atau pangkur jenggleng dan dagelan mataram diputar sepanjang hari mulai dari saat peralatan terpasang hingga beberapa jam setelah hajatan selesai. Dari atas pohon kelapa masih terus terdengar suara dari tape.

Orang kemudian menyebutnya Toa karena kebanyakan pelantang suara tersebut bermerek Toa.

Namun akhirnya, kelengkapan hajatan ini juga harus menyerah dengan perkembangan zaman. Teknologi sound system berkembang pesat. Peralatan makin canggih, makin handal, dan tata suara semakin nyaman di telinga. Persewaan sound system berubah tak lagi memakai horn Toa. Persewaan sound system Gandem Marem pun harus berubah.

Anak-anak sekarang tak lagi percaya pernah ada hal semacam itu.

Horn yang lantang waktu itu juga sebagai penanda lokasi tempat “wong ewuh” juga telah tergantikan oleh maps baik Google Map maupun Waze atau lainnya.

Kini hanya sedikit meski banyak yang memasang Toa. Tapi tidak lagi sebagai penanda orang punya hajat. Mungkin di aksi demo dan mungkin di tempat lain. (***)

 

 

Sebelumnya

Wakil Direktur Utama KAI Tinjau Kesiapan Lintas Selatan Jelang Angkutan Nataru 2025/2026

Selanjutnya

Kampung Cina Ciangsana, Wisata Budaya Bernuansa Tionghoa Dekat Jakarta yang Kembali Dilirik Traveler

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement