Om Sam, Sahabat Para Wartawan Foto
Oleh : Agus U, jurnalis
Marknews.id – Ruang bisnisnya tidak terlalu besar, ada satu etalase panjang berisi berbagai merek film untuk kamera foto atau yang kala itu banyak disebut “Kodak”, meski mereknya ada Canon, Yashika, Ricoh, Seagull dan lainnya.
Om Sam — Samsidi — membuka usaha foto khususnya foto studio bernama Matahari di Jalan KHA Dahlan, nyaris paling barat kawasan itu, di bagian utara jalan. Lokasinya berada di sebelah barat Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Yogyakarta, lebih tepatnya di sebelah barat gang masuk ke arah utara.
Di tempat usaha dengan lebar depan tak sampai lima meter ini, Om Sam sudah cukup lama membuka layanan foto, cuci film, afdruk, vergroot (vergroot afdrukken), dan menjual berbagai perlengkapan fotografi lainnya.
Di tempat ini, dahulu anak-anak di Kota Yogyakarta bagian barat biasa berfoto untuk keperluan kenangan maupun pasfoto sekolah. Tak ada pilihan latar foto karena hasil yang diperlukan adalah foto hitam putih. Pilihannya hanya glossy atau dof, potongan pinggir lurus atau berhias (engkok-engkik). Ukurannya 3×4, 4×6, atau 3×2 yang biasanya untuk SIM atau KTP. Untuk foto studio, Om Sam harus bersaing dengan sejumlah tempat foto lainnya, seperti Dani di utara Pasar Ngasem, Johannes di perempatan Jalan Nyi Ahmad Dahlan dan Agus Salim, Sin Hwa di Beji, serta Hwa Sin di Jalan Diponegoro.
Hal lain yang sangat kondang dari Om Sam adalah layanan potong, cuci, dan afdruk atau cetak foto hitam putih. Potong apa? Ya, potong film dalam kamera yang masih berisi banyak frame.
Para wartawan foto kala itu kebanyakan menggunakan film berisi 36, ASA 100 atau ASA 400 — untuk keperluan tertentu. Setiap hari, para wartawan foto biasanya hanya menjepret tiga atau empat kali. Bukan pelit, namun karena harga film yang relatif mahal, belum lagi proses selanjutnya. Belum ada kamera foto dengan memori card atau SD card.
Hasil jepretan ini harus segera diterima redaksi sebelum rapat sore, sehingga wartawan foto selalu terburu-buru. Setelah mendapat gambar, mereka akan segera menuju Om Sam. Film yang masih berisi banyak akan dipotong sampai panjang tertentu. Frame yang sudah dijepretkan ditambah dua frame untuk pembuatan lidah akan diproses, sedangkan sisanya kembali masuk kamera dan bisa digunakan lagi.
Jika masih ada keperluan liputan lain, wartawan foto akan segera menuju lokasi berikutnya, sementara Om Sam akan memproses film hingga menjadi foto. Biasanya pada jam 14 hingga 16, di ruang sempit ini para juru foto surat kabar harian berkumpul menunggu hasil olahan Om Sam. Bagi yang senior, mereka biasa menggunakan cara bayar “Baker” alias bayar keri atau dibayar akhir bulan dan diklaimkan ke redaksi. Sedangkan yang junior atau jarang datang tetap harus ambil dan bayar saat itu juga.
Tempat ini tidak hanya menjadi tempat wartawan muda “ngangsu kawruh” kepada seniornya mengenai teknik pengambilan gambar, tetapi juga menjadi ajang para senior memlonco junior. Selain itu, tempat ini menjadi ruang berbagi ilmu, berbagi cerita lelah, serta saling mencicipi rokok. Meski demikian, wartawan foto kala itu jarang yang merokok. Kalaupun ada, hanya sesekali.
Era berubah. Kamera digital muncul, proses lewat komputer memudahkan redaktur foto mengolah hasil liputan. Wartawan foto senior mulai surut dan digantikan generasi lebih muda. Belum selesai urusan kamera pocket digital, muncul kamera digital besar, dan kini setiap wartawan cukup mengambil gambar dengan ponsel. Hasilnya pun mudah diolah. Kebutuhan foto di redaksi tidak lagi menuntut hasil serumit era film.
Kepandaian wartawan dalam mengambil gambar semakin meningkat, bahkan melampaui para seniornya. Hanya satu hal yang ternyata tidak dijalani para junior sekarang: etika mengambil gambar. Bahkan juru foto dari instansi pemerintah pun kini dengan arogan berjalan atau bahkan berhenti tepat di depan kamera yang sedang membidik objek.
Dulu, para senior begitu tegas. Jika seseorang berhenti di depan kamera yang sedang membidik objek, bisa saja orang tersebut dilempar atau ditendang dari belakang. Kini? “Eeealaah le….”
Om Sam yang legendaris pun harus mengakui semakin berkurangnya orang yang meminta jasanya. Mungkin yang masih punya kenangan panjang dengan Om Sam tinggal Mas Tarko, Mas Frans, Mas Hasan, sedangkan yang lainnya? (***)











