Beranda Jogja Tempo Doeloe Stasiun Kembang, Bangunan Lama Tak Ada Duanya
Jogja Tempo Doeloe

Stasiun Kembang, Bangunan Lama Tak Ada Duanya

Oleh : Agus U jurnalis

Marknews.id – Stasiun Kembang, atau dahulu disebut Halte Magoewo, berada di Padukuhan Kembang, Kalurahan Maguwoharjo, Depok, Sleman. Stasiun ini memiliki percabangan yang masuk ke Lanud Adisutjipto. Namun, percabangan itu sudah lama ditutup, jauh sebelum stasiun tersebut dipensiun. Meski namanya Stasiun Kembang, tidak ada hubungannya sama sekali dengan Pasar Kembang. Pasar Kembang justru dekat dengan Stasiun Tugu.

Stasiun Kembang, atau ada pula yang kini menyebut sebagai Stasiun Maguwo Lama, mulai dioperasikan pada 1901 dan dimiliki oleh Nederlansche Indixche Spoorweg Maatschappij (NIS).

Berbeda dengan stasiun lainnya, termasuk stasiun kelas II atau III yang bangunannya dari tembok, Stasiun Kembang ini seluruh dinding dan kerangka bangunannya terbuat dari kayu. Penyambungannya menggunakan pasak, tidak satupun dalam konstruksi asli menggunakan paku.

Stasiun ini juga menjadi saksi sejarah Clash Kedua yang dilancarkan Belanda kepada Republik Indonesia yang baru merdeka. Clash Kedua ini penyebutannya tidak diakui oleh Belanda; mereka menyebutnya sebagai Aktie Politioneel.

Langit-langit atau plafon yang terbuat dari logam tebal terlihat banyak berlubang. Menurut Pak Pur — Purnomo, Humas Daop VI dulu — lubang tersebut adalah bekas peluru yang ditembakkan pesawat tempur Belanda saat akan menduduki Yogyakarta.

Pada masa-masa sebelumnya, stasiun ini menjadi tempat bangkitan angkutan gula produksi Pabrik Gula Wonocatur — kini menjadi kompleks perkantoran di sisi barat Lanud Adisutjipto — ke kota-kota lain untuk diekspor terutama melalui Pelabuhan Semarang.

Stasiun ini juga sering menjadi tempat perhentian bagi kereta api penumpang kelas satu maupun kereta malam. Banyak orang tua dahulu yang bercerita bahwa stasiun ini menjadi titik strategis pangkalan udara.

Di lingkungan stasiun ini terdapat bangunan stasiun yang masih memiliki kelengkapan sebagai stasiun, serta bangunan rumah dinas Kepala Stasiun.

Semasa Orde Baru, stasiun ini juga menjadi tempat BLB (berhenti luar biasa) bagi kereta api dari timur yang akan menuju Yogyakarta, namun harus menunggu iring-iringan VVIP keluar dari Lanud Adisutjipto.

Bangunan utama di stasiun ini terbagi dalam tiga ruangan. Ruang Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) berukuran 4,9 x 3,5 meter dan memiliki lantai yang lebih tinggi dari ruangan lainnya. Pada bagian utara terdapat pintu yang terhubung dengan ruang loket dan ruang Kepala Stasiun. Pada sisi barat terdapat pintu yang menghubungkan dengan serambi.

Menurut Gapeka tahun 2004, Stasiun Kembang memiliki empat jalur (spoor), dua jalur merupakan jalur lurus, serta empat sepur badug yang masing-masing dua menyambung jalur 1 dan dua menyambung jalur 4.

Sepur badug di jalur 4 dahulu digunakan untuk langsiran kereta api ketel avtur Pertamina relasi Cilacap–Maguwo PP, sedangkan sepur badug di jalur 1 digunakan untuk langsiran dan penyimpanan KA angkutan Pupuk Sriwidjaja.

Setelah lebih dari 100 tahun beroperasi, Stasiun Kembang akhirnya dipensiun. Pemerintah membangun Stasiun Maguwo yang ada di sebelah timur sebagai penghubung antara Bandara Adisutjipto dengan jalur kereta api. Stasiun Maguwo mulai dioperasikan pada tahun 2008.

Stasiun Maguwo yang baru, yang berada sekitar 300 meter di sebelah timur Stasiun Kembang, mulai 2 Juni 2008 menjalani uji operasi dan beberapa bulan berikutnya beroperasi menggantikan Stasiun Kembang.

Stasiun Kembang ini pernah digunakan untuk shooting film Djanur Kuning dan kini berstatus sebagai bangunan cagar budaya.

 

Sebelumnya

IS FARM Edukasi Anak Sekolah hingga Masyarakat Umum Belajar Beternak Domba

Selanjutnya

KAI Daop 5 Salurkan Bantuan TJSL Rp132 Juta untuk Penguatan Fasilitas Publik dan Ibadah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement