Buku Erotis, Rendan, dan Korek Api: Cerita Gelap di Balik Romantika Kota Pelajar
Oleh :Agus U, jurnalis
Marknews.id – Di antara riuh sepeda kumbang dan denting becak yang lalu-lalang di Malioboro, Yogyakarta era 1970-an menyimpan wajah lain — gelap, tersembunyi, dan penuh rasa ingin tahu masa muda. Kota yang dijuluki Kota Pelajar itu bukan hanya tempat menimba ilmu, tapi juga laboratorium kehidupan. Tempat di mana moral, rasa ingin tahu, dan kebebasan beradu tanpa pagar.
Setiap tahun, ribuan anak muda datang dari berbagai penjuru Nusantara. Mereka menenteng koper besi, tas kulit, atau buntalan kain, membawa mimpi dan cita-cita. Ada yang menempuh pendidikan di STM, SMEA, Konservatori, hingga SMSR. Namun di antara tumpukan buku pelajaran dan bau tinta kertas, terselip satu hal yang tak tertulis di kurikulum: hasrat manusia yang tak mudah dikekang.
Buku Kecil yang Menyala di Bawah Meja
Suatu sore di pojok warung kopi dekat kampus, seorang penjual berjaket lusuh menyelinap di antara bangku kayu. Ia tak menjajakan rokok atau koran, melainkan buku-buku kecil bersampul mencolok. Namanya Enny Arrow — pengarang misterius yang menulis puluhan cerita dengan adegan yang membuat jantung pembacanya berdebar.
Harga satu bukunya hanya Rp250, sedikit lebih mahal dari koran harian. Ukurannya kecil, bisa diselipkan di dalam buku diktat kuliah atau di bawah bantal kos. Tak jarang, buku-buku ini berpindah tangan diam-diam di bawah meja kantin kampus, seolah jadi rahasia kecil di antara para pelajar yang penasaran dengan dunia orang dewasa.
Ada pula yang memilih menyewa, bukan membeli. Di persewaan komik pinggir jalan, dengan Rp10 untuk tiga hari, para pembaca harus pandai menjaga kepercayaan si penjaga kios. Di dunia yang masih tabu, kepercayaan lebih mahal dari uang sewa.
Dari Nick Carter ke Valentino
Tak hanya Enny Arrow, nama lain seperti Nick Carter dan Valentino juga menghiasi malam-malam di Yogyakarta. Nick Carter — entah siapa dia sebenarnya — menulis kisah detektif yang di tengah ceritanya menyelipkan adegan-adegan sensual.
Sementara Valentino lebih “underground”. Naskahnya diketik di kertas stensil, dicetak manual dengan mesin putar, dan diedarkan secara terbatas.
Buku-buku itu, meski tak pernah diakui sebagai karya sastra, tetap menjadi bagian dari literasi generasi muda yang haus cerita — betapa pun “nakalnya” isi kisah itu.
Proyektor, Film Hitam Putih, dan Cahaya di Dinding Tembok
Di Yogyakarta tempo dulu, menonton film XXX bukan perkara mudah. Tak ada internet, tak ada layar biru di ponsel. Namun di beberapa rumah, seseorang bisa menyewa proyektor portabel lengkap dengan operatornya.
Pagi dipesan, malam diantar. Filmnya hitam-putih, gambarnya bergetar, tapi cukup untuk membuat penontonnya terpaku. Harga sewanya Rp1.500 untuk dua judul. Dinding rumah berubah jadi layar, dan keheningan malam pecah oleh bisik-bisik penasaran.
Lebih rahasia lagi, ada alat seukuran kotak kecil — lebih kecil dari powerbank masa kini. Di dalamnya ada gulungan film mini, lubang intip, dan engkol pemutar. Cukup Rp100 per judul. Di balik kain atau di ruang kecil tanpa lampu, seseorang bisa “menonton” lewat lubang kecil itu, memutar engkol pelan-pelan, menyaksikan dunia yang hanya boleh dibayangkan.
Satu Korek Api, Lima Rupiah
Namun tak semua mencari bacaan atau film. Di Alun-alun Utara, di bawah Ringin Kurung, dunia malam Jogja punya versinya sendiri. Para lelaki muda menunggu dalam bayang-bayang beringin, sementara perempuan berdandan seadanya — yang siangnya mungkin berdagang, mencuci, atau bahkan mahasiswi — menawarkan jasa dengan cara mereka sendiri.
Ada yang menyebutnya “literasi visual rakyat”: dengan hanya Rp5, seseorang bisa menyalakan korek api dan melihat bagian tubuh intim perempuan selama nyala api itu bertahan. Satu nyala — satu pemandangan.
Tempat-tempat seperti RRI Nusantara II, Bon Suwung, hingga jembatan Gajah Wong menjadi saksi bisu ritus malam yang samar antara dosa dan rasa ingin tahu.
Rendan: Kere Dandan
Menjelang subuh, semua kembali normal. Lampu-lampu padam, suara tawa menghilang. Perempuan yang tadi malam berdandan mencolok kini menenteng bakul sayur ke pasar, atau menyapu halaman kos-kosan.
Dari situlah lahir istilah “Rendan” — Kere Dandan. Mereka bukan pelacur dalam arti kasar, melainkan manusia yang berdandan karena keadaan. Karena hidup harus terus berjalan.
Yogyakarta, Kota yang Menyimpan Dua Wajah
Kini, Yogyakarta mungkin lebih dikenal dengan deretan kafe, mural, dan festival seni. Tapi di balik romantisme itu, ada sejarah sosial yang jarang diceritakan — tentang anak muda yang belajar tidak hanya dari dosen dan guru, tetapi juga dari kehidupan itu sendiri.
Tentang bagaimana Kota Pelajar pernah menjadi panggung diam-diam bagi mereka yang ingin tahu, ingin mencoba, dan ingin tumbuh.
Karena, seperti korek api yang hanya menyala sesaat, setiap generasi punya cahayanya sendiri. Dan di Yogyakarta, cahaya itu pernah datang dari buku-buku lusuh, proyektor berdebu, dan satu nyala korek api di bawah beringin tua.











