Suasana Yogyakarta Ketika Sri Sultan Hamengku Buwono IX Meninggal
Oleh :Agus U, jutnalis
Marknews.id – Tanggal 2 Oktober 1988 waktu Washington atau 3 Oktober 1988 waktu Indonesia, tersebar berita duka yang menggemparkan. Sri Sultan Hamengku Buwono IX — warga Jogja menyebutnya Kangjeng Sinuwun — meninggal dunia di Amerika Serikat.
Raja Kesultanan Yogyakarta yang telah bertahta sejak tahun 1940, Sri Sultan Hamengku Buwono IX — demikian namanya ditulis — meninggal dunia setelah beberapa hari sebelumnya dirawat di George Washington University Hospital Center.
Berita meninggalnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX ini segera menyebar, dan rakyat Indonesia, khususnya Yogyakarta, berduka. Banyak yang kemudian memberi penghormatan dengan menyebut beliau sebagai Sinuwun Seda Washington. Namun akhirnya, julukan kehormatan ini kandas dan tidak digunakan.
Setelah meninggal dunia, jenazah Sri Sultan Hamengku Buwono IX diterbangkan ke Jakarta dengan pesawat khusus yang disiapkan oleh Pemerintah Amerika Serikat. Tidak hanya pesawat untuk membawa jenazah, Pemerintah Amerika Serikat yang saat itu dipimpin Presiden Ronald Reagan juga menyiapkan peti jenazah yang sangat khusus dan dikatakan tidak bisa rusak atau busuk.
Setelah melalui proses administrasi di Washington, akhirnya jenazah Sri Sultan Hamengku Buwono IX diterbangkan menggunakan pesawat khusus Air Force Two. Bahkan Amerika Serikat kemudian menggelar operasi Dukungan Misi Udara Khusus atau Special Air Mission Support untuk mengantar kepulangan jenazah Sri Sultan.
Amerika Serikat melakukan hal tersebut sebagai bentuk penghormatan dan citra baik negara.
Pak Harto menyampaikan permintaan ke Washington bahwa Pemerintah Republik Indonesia juga berkeinginan untuk menjemput jenazah Sri Sultan. Akhirnya diperoleh kompromi: Air Force Two mengantar sampai ke Honolulu, Hawaii, dan Pemerintah RI menjemput dengan pesawat Garuda Indonesia jenis DC-10.
“Dukungan pesawat ini sebaiknya diberikan tanpa biaya penggantian (non-reimbursable),” tulis Gedung Putih.
Jenazah kemudian tiba di Jakarta pada hari Kamis, 6 Oktober 1988, dan disambut dengan upacara penerimaan di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Baru keesokan harinya, jenazah diterbangkan ke Lanud Adisutjipto, Yogyakarta.
Sepanjang perjalanan dari Adisutjipto hingga Kraton Yogyakarta, sisi kiri dan kanan jalan nyaris tidak ada tempat yang lengang. Semua warga berjejalan berdiri di pinggir jalan menanti perjalanan jenazah dari Lanud ke Kraton. Isak tangis ribuan warga menetes di sepanjang jalan, semua tertunduk. Bahkan saat iring-iringan melintas, banyak warga yang memberi hormat dengan cara duduk dan menangkupkan kedua tangan.
Jenazah Sri Sultan kemudian disemayamkan di Bangsal Kencono. Presiden Soeharto mengutus Menteri Dalam Negeri Supardjo Rustam untuk menyerahkan jenazah kepada pihak keluarga Kraton Yogyakarta.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX kemudian dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja-Raja Mataram di Imogiri. Dengan upacara Kraton Yogyakarta, jenazah dibawa menggunakan kereta jenazah Kangjeng Kyai Rata Pralaya. Jarak dari Kraton ke pemakaman Imogiri kira-kira 17 km.
Di sepanjang jalan dari Kraton Yogyakarta hingga Imogiri pun dipenuhi warga yang ingin memberikan penghormatan. Namun maaf, saya tidak mau menyebutnya sebagai penghormatan terakhir. Bagi warga Yogyakarta, penghormatan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX tidak akan pernah berakhir, sehingga tidak ada istilah penghormatan terakhir.
Bersamaan dengan upacara pelepasan jenazah, empat putra Sri Sultan Hamengku Buwono IX dinikahkan. Pernikahan ini sebenarnya direncanakan akan digelar pada bulan November tahun itu. Namun karena suasana duka, akhirnya pernikahan dilakukan di depan jenazah.
Pernikahan di Bangsal Kencono ini menjadi sangat sakral. Tidak ada hiasan dan kerik bagi pengantin perempuan.
Namun, mengenai siapa saja yang menikah saat itu, beberapa catatan yang muncul di daring ternyata tidak sinkron.











