Satu Jalan, Tiga Nama (Catatan Seorang Wartawan)
Marknews.id – Di Kota Yogyakarta, ada satu ruas jalan yang unik — panjangnya tak sampai 200 meter, tapi punya tiga nama sekaligus. Menariknya, ketiga nama itu masih resmi digunakan hingga sekarang.
Ruas jalan ini membentang dari barat ke timur, dimulai dari teteg (palang pintu kereta) Lempuyangan hingga perempatan Baciro. Kalau dilanjutkan ke arah timur, setelah perempatan Baciro sampai Timoho Utara, jalan itu bernama Jalan Melati Wetan. Maka, wajar jika ruas di sebelah baratnya — dari Baciro sampai Lempuyangan — disebut Jalan Melati Kulon.
Semuanya tampak masuk akal sampai kita memperhatikan papan nama dan alamat di sepanjang jalan itu. Misalnya, Kantor PPSDM Regional Yogyakarta menggunakan alamat Jalan Melati Kulon Nomor 1, Baciro. Tepat di sebelah timurnya berdiri Asrama Brimob Baciro, tetapi alamatnya Jalan Kompol B. Suprapto. Lalu, di sisi barat PPSDM, ada Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY yang justru memakai alamat Jalan Argolubang Nomor 19.
Tak berhenti di situ. Masih di barat Dinas Kehutanan, berdiri Kantor DPD II Partai Golkar Kota Yogyakarta — dan mereka menulis alamatnya sebagai Jalan Kompol Bambang Suprapto Nomor 1. Lucu tapi nyata: satu ruas jalan, tiga nama resmi.
Saya sempat menanyakan fenomena ini kepada Wali Kota Yogyakarta. Jawabannya? Tidak ada jawaban. Entah karena bingung menjelaskan, atau memang biarlah Jogja tetap dengan keunikannya.
Namun, keanehan nama jalan di Jogja tidak berhenti di situ. Ada pula jalan yang “tidak diakui” keberadaannya, meski sebenarnya ada dan jelas terlihat di peta: Jalan KRT Secodiningratan — atau kadang ditulis Secodiningratan saja.
Jalan ini membujur sejajar dengan Jalan P. Senopati, tepat di sebelah selatan Taman Senopati. Meski secara administratif masih ada, nyaris tidak ada satu pun bangunan yang memakai alamat Jalan Secodiningratan. Coba lihat saja: SMP Negeri 2 Yogyakarta, Gereja dan Susteran Kidul Loji, hingga bangunan lainnya — semuanya memilih memakai alamat Jalan P. Senopati, padahal jelas-jelas berada di Secodiningratan.
Ada kisah menarik di balik nama yang terlupakan ini. Menurut catatan Dinas Kebudayaan DIY, KRT Secodiningrat sebenarnya bernama asli Tan Sin Jing, seorang warga keturunan Tionghoa yang menjadi abdi setia Kesultanan Yogyakarta pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono III.
Dialah orang yang membuka jalan menuju Candi Borobudur dan kemudian melaporkan temuannya kepada Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles. Jadi, kalau ditelusuri, penemu pertama Candi Borobudur bukan Raffles, melainkan Tan Sin Jing — KRT Secodiningrat, Bupati Yogyakarta.
Dalam catatan sejarah, ia juga dikenal dengan nama Raden Luwar. Ironisnya, namanya kini justru hampir lenyap dari papan jalan, tertutup oleh nama-nama baru yang lebih populer.
Begitulah Jogja, kota yang selalu menyimpan kisah di balik tiap namanya. Kadang satu jalan punya tiga nama, kadang satu nama bahkan kehilangan jalannya.











