Di Tengah Hujan Kerikil dan Pasir, Prabowo Diam-diam Mengunjungi Korban Erupsi Merapi
Marknews.id – Tanggal 26 Oktober 2010, akhirnya terjadi erupsi Gunung Merapi. Rentetan erupsi ini terus terjadi dan mencapai puncaknya pada 3–5 November. Mengapa akhirnya terjadi? Berminggu-minggu status vulkanik Gunung Merapi berada di Level III (Siaga) dan Level IV (Awas), namun lebih banyak dalam status Level IV. Artinya, warga di lereng atas Gunung Merapi harus mengungsi.
Lama berada di kawasan pengungsian harus diakui menyebabkan kejenuhan. Rasa ingin kembali ke rumah sendiri terus menguat, namun aturan tidak mengizinkan.
Erupsi tahun 2010 ini cukup dahsyat. Aliran material erupsi memenuhi sungai-sungai yang berhulu di puncak Gunung Merapi. Bahkan, sampai Bronggang, dasar Sungai Boyong rata dengan muka tanah lama.
Para pejabat dan relawan kemudian sibuk mengatur para pengungsi serta menyusun dengan cepat langkah bantuan dan langkah darurat lainnya. Semua dikerahkan di berbagai titik. Lokasi pengungsian tersebar, bahkan ada yang mengungsi jauh sekali dari lokasi. Meski jauh, harus tetap terjangkau layanan dasar bagi pengungsi.
Stadion Maguwoharjo pun penuh dengan pengungsi, relawan, dan petugas, baik TNI/Polri maupun ASN yang berbaur melayani kebutuhan pengungsi, mulai dari makan, minum, kesehatan, alas tidur, dan lainnya.
Erupsi ini memang dahsyat. Akibatnya, jalanan di Yogyakarta, bahkan sampai Malioboro pun terdampak hujan abu dan sempat pula mengalami hujan kerikil dan pasir.
Seingat saya, hari Sabtu (6/11/2010) malam, telepon genggam berdering (semoga ada yang mengoreksi atau mengonfirmasi). “Mas, malam ini—Minggu dini hari—sekitar jam 01.00 Pak Prabowo Subianto masuk Jogja. Perjalanannya dengan kereta api. Tolong liput ya…,” kata penelepon di seberang yang tidak ada dalam daftar kontak saya. Saya hanya bisa menjawab, siap.
Jam 23.45, persiapan selesai dan saya berangkat. Wajah ditutup masker, memakai kacamata khusus yang rapat—seperti kacamata las tetapi bening, entah apa sebutannya—serta helm dan jas hujan. Meski tidak hujan, perlengkapan itu digunakan untuk melindungi badan dari hujan abu yang pekat. Saya meluncur menuju Stasiun Besar Yogyakarta—sebutan kala itu untuk Stasiun Tugu.
Sepanjang perjalanan menuju stasiun terasa lamban. Kerikil, pasir, dan abu material erupsi masih berjatuhan dan berbunyi nyaring ketika menimpa helm serta tertabrak sepeda motor yang saya gunakan. Apalagi lampu kendaraan tidak bisa terlihat terang karena abu dan material vulkanik yang terus berjatuhan.
Masuk dari Jalan Mangkubumi (Margo Utomo), ada deretan tempat parkir di sisi selatan jalan masuk. Helm dilepas, ganti topi rimba, jas hujan diganti jaket. Tas berisi kamera dibungkus tas plastik untuk melindungi dari debu Merapi. Saya berjalan masuk ke dalam stasiun setelah membayar peron Rp300. Waktu itu masih diperbolehkan masuk meski tidak memiliki tiket naik kereta api.
Beberapa pengurus Partai Gerindra DIY dan Jateng sudah berkumpul. Saya menyapa salah satu pengurus Partai Gerindra yang saya kenal.
“Piye, Mas?” tanya saya.
“Keretane durung tekan, kecepatan dikurangi ketika masuk Purworejo,” kata pengurus Gerindra—Mas Bagyo.
Tak ingat persis nama keretanya, tetapi mendekati jam 01.00 kereta dari barat masuk ke peron selatan. Kereta ini akan berakhir di Surabaya.
Kamera sudah siap. “Mengko nek arep metu seko stasiun, langsung sodori kamera, trus takon yo?” katanya. Saya hanya mengangguk.
Prabowo Subianto dengan beberapa orang yang membersamainya serta petugas keamanan keluar dari kereta dan langsung disalami para pengurus. Ternyata, tak ada wartawan lain di sekitar saya. Setelah basa-basi dengan pengurus, Pak Prabowo berjalan menuju parkir depan. Rangkaian kendaraan sudah disiapkan. Saya mencegat dan melontarkan pertanyaan. Ternyata jawabannya singkat.
“Kita akan melihat apa yang bisa kita berikan,” katanya. Ketua Dewan Pembina DPP Gerindra ini kemudian terus berjalan cepat menuju mobilnya.
Teman yang merupakan pengurus partai mengatakan sudah cukup dan mempersilakan saya untuk tidak mengikuti rombongan.
Rombongan Prabowo bergerak cepat tanpa suara sirene, berjalan ke timur dan menembus kepekatan malam menuju sejumlah lokasi di lereng Merapi. Tak ada liputan, tak ada publikasi.
Siang harinya, saya berusaha menemui pengurus partai yang saya kenal. Ia juga tak mau diwawancarai, hanya menyebutkan bahwa Pak Prabowo dan Partai Gerindra akan membantu memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi. Bentuknya apa, volume barang, mana saja yang menerima, serta nilai atau anggarannya, rekan saya berjanji akan memberi penjelasan setelah bantuan utama tiba di Yogyakarta.
Sedangkan yang dibawa saat malam itu hanyalah uang tunai, makanan siap saji, makanan dan susu untuk anak-anak, serta kebutuhan lainnya. Namun jumlah barang, nilai, dan rinciannya tidak diketahui.
Sampai hari ini, berapa besar nilainya serta jenis bantuannya, tak pernah terpublikasi. Hanya saja beberapa pengurus sempat menjelaskan, “tapi off the record nggih, Mas,” bahwa bantuan itu disampaikan melalui partai ke korban secara langsung dan tetap tak terkonfirmasi.
Pagi harinya, Prabowo Subianto kembali ke Jakarta dengan perjalanan darat melalui Semarang.











