Ternyata Balai Yasa Yogyakarta Pernah Membuat Lokomotif
Marknews.id – Pernahkah Anda melihat satu unit lokomotif kecil berwarna hijau dan kuning yang terpajang di halaman barat Benteng Vredeburg, Yogyakarta?
Lokomotif mungil itu bernama Bima Kunting nama lain (dasanama) dari Raden Setyaki, Satria Lesanpura atau Garboruji dalam kisah Mahabharata.
Menariknya, nama Bima Kunting serta livery kuning gading dan hijau diberikan langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Meski berukuran kecil, lokomotif ini tangguh dan gagah, sejalan dengan warna khas Kraton Yogyakarta, Pare Anom, yang melambangkan semangat muda dan kekuatan.
Buatan Balai Yasa Yogyakarta
Lokomotif Bima Kunting merupakan jenis diesel elektrik buatan Balai Yasa Yogyakarta, dan mulai beroperasi pada tahun 1960-an. Fungsinya terbatas sebagai lokomotif langsir, yakni untuk menarik atau memindahkan rangkaian gerbong di lingkungan bengkel kereta Balai Yasa Pengok, Kota Yogyakarta.
Lokomotif ini menggunakan mesin Daimler Benz M204B dengan spesifikasi teknis sebagai berikut:
-
Panjang: 6.300 mm
-
Lebar sepur: 1.067 mm
-
Lebar badan: 2.500 mm
-
Tinggi: 3.400 mm
-
Berat kosong: 18,7 ton
-
Berat siap kerja: 19 ton
-
Jarak antar gandar: 3.000 mm
Dengan mesin tersebut, Bima Kunting mampu melaju hingga 45 km/jam.
Sebagai lokomotif diesel elektrik, tenaganya disalurkan melalui generator berkapasitas 80 kVA/230 Volt DC, dengan motor traksi yang dipasang saling membelakangi dan dilengkapi baterai 24 Volt.
Kapasitas tariknya mencapai 200 ton. Menariknya, rangka (frame) lokomotif ini dibuat dari sasis bekas lokomotif uap C15 yang sudah tidak digunakan lagi.
Ada Bima Kunting Lainnya
Tahukah Anda?
Lokomotif yang kini dipajang di halaman Benteng Vredeburg ternyata adalah Bima Kunting III. Artinya, sebelumnya sudah ada Bima Kunting I dan Bima Kunting II.
Bima Kunting I
Unit pertama menggunakan mesin Jeep Willys dengan konfigurasi gandar 1A, artinya satu gandar penggerak dan satu gandar bebas.
Panjangnya hanya 3.800 mm, dan dirancang untuk berjalan di jalur lebar sepur 600 mm jalur sempit di lingkungan Balai Yasa (dulu bernama Balai Karya), sehingga tidak dapat digunakan di jaringan rel umum.
Bima Kunting II
Versi kedua dibuat untuk jalur lebar sepur 1.067 mm, sama dengan ukuran rel nasional.
Lokomotif ini juga menggunakan rangka bekas C15 dengan motor traksi GE 761 yang telah disetel ulang.
Konfigurasinya bergandar B (dua gandar penggerak), sama seperti Bima Kunting III.
Bima Kunting II, yang memiliki kode B200, berukuran 6.500 mm lebih panjang 200 mm dibanding Bima Kunting III (B201).
Meski sama-sama menggunakan mesin Daimler Benz M204B, keduanya memakai generator berbeda:
-
Hobart untuk B200
-
Hanza untuk B201
Namun, kecepatan maksimum keduanya tetap sama, yaitu 45 km/jam.
Asal Usul Rangka C15
Rangka yang digunakan pada Bima Kunting berasal dari lokomotif C15, lokomotif uap buatan Hartmann (Jerman) dan Werkspoor (Belanda).
C15 memiliki berat 27,7 ton dengan susunan gandar 0-6-0T menurut klasifikasi UIC (Union Internationale des Chemins de Fer).
Menariknya, C15 dapat menggunakan bahan bakar kayu jati atau batu bara, dan dilengkapi dua silinder compound yang membuat konsumsi bahan bakar dan air lebih hemat karena uap sisa tekanan piston tidak langsung dibuang, melainkan digunakan kembali pada silinder berikutnya.
Lokomotif-lokomotif Bima Kunting menjadi bukti sejarah bahwa Balai Yasa Yogyakarta pernah mampu membuat lokomotif sendiri.
Karya teknis ini tidak hanya menunjukkan kemampuan rekayasa anak bangsa di masa lalu, tetapi juga menjadi simbol kejayaan industri perkeretaapian Indonesia yang lahir dari jantung kota budaya: Yogyakarta.











