Santri Itu Mengaji, Bukan Joget-Joget
Marknews.id – Di sebuah pondok kecil di pelosok Bantul, selepas Subuh, belasan santri duduk bersila di serambi masjid. Kitab kuning terbuka di pangkuan, suara mereka lirih-lirih namun berirama. Sang kiai, dengan sarung digulung dan sorban tersampir di bahu, menatap penuh sabar. Satu per satu santri membaca teks Arab gundul yang menjadi bagian dari tradisi panjang pesantren: ngaji.
“Ngaji itu bukan sekadar membaca, tapi memahami dan menghidupkan ilmu,” ujar Kiai Mahbub, pengasuh pondok itu. “Kalau santri kehilangan semangat mengaji, maka hilanglah ruh pesantren.”
Ungkapan itu terasa relevan di tengah zaman ketika istilah “santri” kerap dipakai secara serampangan. Tak sedikit yang menyebut dirinya santri, tetapi perilaku dan aktivitasnya justru jauh dari nilai keilmuan dan keteladanan yang menjadi inti pesantren. Ada santri yang lebih sibuk dengan media sosial ketimbang membuka kitab. Ada pula yang lebih gemar menari-nari mengikuti tren digital ketimbang mendalami ilmu agama atau menulis karya.
Padahal, santri itu mengaji, bukan joget-joget.
Ngaji: Menghidupkan Tradisi Ilmu
Kata “ngaji” dalam budaya pesantren memiliki makna yang luas. Ia bukan hanya membaca kitab suci atau tafsir, tetapi juga mengkaji ilmu pengetahuan, baik agama maupun umum. Seorang santri sejati tidak anti terhadap kemajuan zaman, namun ia menimbangnya dengan ilmu dan akhlak.
Ngaji berarti menundukkan ego untuk belajar. Santri belajar dari guru, dari kitab, dari kehidupan. Ia mengaji tafsir dan hadis, tapi juga mengkaji sains, teknologi, dan kemasyarakatan. Dalam pandangan klasik pesantren, ilmu adalah cahaya. Dan cahaya itu tidak akan masuk ke hati yang gelap oleh kesombongan atau kelalaian.
Antara Dakwah dan Gaya Hidup Digital
Tak bisa dipungkiri, dunia digital memberi peluang besar bagi santri. Banyak ustaz muda dan santri kreatif yang berdakwah melalui podcast, YouTube, dan media sosial. Namun di sisi lain, muncul tren-tren yang justru menjauhkan dari nilai ilmu: joget-joget di TikTok, konten lucu tanpa substansi, hingga gaya hidup pamer.
Seorang santri asal Pati, Ahmad (19), mengaku sempat “terjebak” tren itu. “Awalnya cuma iseng bikin konten lucu. Lama-lama keterusan. Tapi saya sadar, saya bukan influencer hiburan. Saya ini santri, tugas saya belajar dan memberi manfaat,” katanya.
Ahmad kini aktif membuat konten edukatif tentang tafsir dan sejarah Islam, dengan gaya ringan khas anak muda. Ia menunjukkan bahwa menjadi santri di era digital bukan berarti harus meniru gaya seleb, tapi menonjolkan nilai: ngaji dan berbagi ilmu.
Mengaji untuk Mencerahkan Dunia
Pesantren adalah pusat pembelajaran yang mengajarkan keseimbangan antara ilmu dan akhlak. Kiai menanamkan bahwa ilmu tanpa adab adalah kesia-siaan, dan hiburan tanpa nilai adalah kekosongan.
Joget mungkin bagian dari ekspresi, tetapi ketika santri kehilangan arah dan lebih senang tampil daripada memahami, di sanalah tradisi keilmuan terancam memudar.
Santri sejati tidak melawan zaman, tapi menuntun zaman dengan ilmu. Ia membaca kitab dan realitas sekaligus. Ia menunduk bukan karena kalah, tetapi karena sedang belajar.
Di ujung malam, di serambi pesantren yang sepi, suara ngaji masih terdengar. Tertib, lirih, dan tulus. Itulah irama sejati seorang santri bukan irama joget, tapi irama ilmu yang menuntun kehidupan.











