Kaisar Minta Santri Tak Hanya Jadi Penonton Transformasi Teknologi
Komik ilustrasi
YOGYAKARTA, Marknews.id – Santri tidak boleh hanya menjadi penonton ketika teknologi mengubah berbagai aspek kehidupan. Mereka harus berani mengambil peran, menguasai kemampuan yang dibutuhkan, sekaligus menentukan posisi sesuai kapasitas masing-masing.
Pesan itu disampaikan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kaisar Abu Hanifah, dalam diskusi Jagongan Gagasan: Hari Santri, Teknologi, dan Masa Depan di Bento Kopi, Sorowajan, Yogyakarta, Sabtu malam, 31 Oktober 2026.
Kaisar mengibaratkan transformasi teknologi sebagai samudera luas. Tidak semua orang harus menjadi nakhoda, tetapi setiap orang memiliki peluang untuk mengambil peran di dalamnya.
“Transformasi teknologi itu harus dimaknai seperti sebuah samudera. Tidak semua orang bisa menjadi nakhoda, tetapi pasti ada peran-peran lain di dalamnya,” kata Kaisar.
Karena itu, menurut dia, santri perlu memahami perkembangan teknologi sekaligus mengenali potensi dirinya. Pemahaman tersebut penting agar mereka tidak kehilangan arah ketika perubahan zaman berlangsung semakin cepat.
Namun, keterlibatan dalam dunia teknologi tidak berarti santri harus meninggalkan akar tradisinya. Kaisar mengingatkan pentingnya mempertahankan nilai-nilai pesantren sebagai pegangan dalam menghadapi perubahan.
Pesantren, kata dia, memiliki tradisi pendidikan yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan keagamaan, tetapi juga membentuk karakter dan nilai kehidupan. Bekal tersebut semestinya menjadi kekuatan santri ketika memasuki ruang-ruang baru, termasuk dunia teknologi.
Kaisar juga mengingatkan bahwa penguasaan teknologi saja tidak cukup. Generasi muda harus berani memasuki berbagai sektor strategis yang menentukan arah masa depan.
“Generasi muda dan santri harus berani mengambil peran dan menguasai pilar-pilar penting masa depan, mulai dari sains, teknologi, ekonomi, hingga militer. Ini adalah kunci agar kita mampu menjawab tantangan zaman yang kian kompleks,” ujarnya.
NU Logic Dekatkan Tradisi Pesantren dengan Generasi Digital
Diskusi yang mempertemukan ratusan anak muda dan aktivis Nahdlatul Ulama (NU) itu sekaligus menjadi momentum peluncuran platform NU Logic (@nu.logic).
Platform tersebut dirancang sebagai ruang pertemuan antara nilai-nilai pesantren dan perkembangan teknologi modern. Kehadirannya diharapkan membuat pemikiran serta tradisi NU lebih mudah diakses dan dipahami generasi muda.
Forum ini juga menjadi pintu bagi anak muda untuk mengenal NU lebih dekat. Carmilla, mahasiswa Universitas Janabadra yang aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), mengaku mendapatkan perspektif baru setelah mengikuti diskusi tersebut.
Perempuan yang akrab disapa Mila itu berasal dari Nusa Tenggara Timur. Selama ini, pemahamannya tentang Islam masih sebatas Islam secara umum. Melalui forum tersebut, ia mulai mengenal lebih jauh cakupan pemikiran dan gerakan NU.
“Saya mengikuti kegiatan ini karena mendapat undangan. Menurut saya, kegiatan seperti ini sangat penting bagi anak muda karena bisa menambah wawasan dan pengetahuan tentang Nahdlatul Ulama,” kata Mila.
Ia berharap kegiatan serupa terus digelar agar anak muda memiliki ruang untuk memperluas pengetahuan sekaligus memahami tradisi organisasi keagamaan di Indonesia.
Diskusi tersebut juga menghadirkan sejumlah tokoh dari sektor kreatif dan aktivisme digital. Mereka adalah Anas Alimi, Founder Prambanan Jazz; Dul Rahman, Koordinator Skenu; serta Gisneo Pratala, Co-Founder Santriwara.
Percakapan berlangsung interaktif. Peserta yang memadati Bento Kopi membahas tantangan generasi muda, perkembangan teknologi, dan posisi santri dalam menghadapi masa depan.
Acara ditutup dengan penampilan Band Taaj. Perpaduan diskusi dan pertunjukan musik itu menjadi ruang perjumpaan anak muda untuk membicarakan perubahan zaman tanpa melepaskan tradisi dialog yang tumbuh di lingkungan pesantren.
FULL









