Berita Utama

Husnan Bey Fananie: Santri Harus Terus Mengabdi Meski Telah Meninggalkan Pesantren

Sumber Gambar : JPNN

Marknews.id, JAKARTA – Prof. Dr. KH. Husnan Bey Fananie mengajak para santri untuk terus menjaga nilai-nilai pesantren dan mengabdikan diri kepada masyarakat, meskipun telah menyelesaikan pendidikan di pesantren. Menurutnya, identitas sebagai santri melekat sepanjang hayat dan membawa tanggung jawab moral bagi kehidupan umat, bangsa, dan agama.

Pesan tersebut disampaikan Husnan setelah menerima penghargaan Santri Diplomat Inspiratif dalam ajang Anugerah Santri of The Year 2026 di Graha Jalapuspita, Jakarta Pusat, Ahad (25/10/2026).

“Seorang santri akan terus menjadi santri hingga liang lahat. Bebannya akan terus bertambah karena ia membawa amanah dan harapan bagi peradaban umat Islam,” kata Husnan dalam sambutannya.

Mantan Duta Besar Indonesia untuk Azerbaijan itu menilai pendidikan pesantren tidak hanya membekali seseorang dengan pengetahuan agama, tetapi juga membentuk karakter dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai tersebut perlu tercermin dalam setiap langkah santri ketika memasuki berbagai bidang kehidupan.

Ia menegaskan, penguasaan ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan pembentukan akhlak. Menurutnya, kedua hal tersebut menjadi fondasi penting bagi santri untuk menghadapi tantangan masyarakat yang terus berkembang.

“Santri adalah orang-orang yang selalu menjaga akhlakul karimah, ruh dan jiwanya, serta memiliki pengetahuan yang luas,” ujarnya.

Husnan juga mengingatkan bahwa pengabdian santri tidak mengenal batas profesi maupun tempat. Mereka yang bekerja di pemerintahan, diplomasi, pendidikan, hingga sektor lainnya tetap membawa tanggung jawab untuk memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Santri di mana pun berada harus bertanggung jawab di mana pun kakinya berpijak. Santri ikut membangun kehidupan dan peradaban umat pada masa yang akan datang,” kata Husnan.

Perjalanan Santri hingga Menjadi Diplomat

Husnan Bey Fananie lahir di Jakarta pada 13 November 1967. Ia merupakan cucu KH. R. Zainuddin Fananie, salah satu tokoh pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

Perjalanan pendidikannya bermula di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, pada 1982–1986. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Institut Pendidikan Darussalam Gontor dan memperdalam bahasa, sejarah, studi Islam, serta ilmu politik di Pakistan.

Husnan kemudian melanjutkan studi ke Belanda dan meraih gelar Master of Arts dari Rijksuniversiteit Leiden. Ia juga menyelesaikan pendidikan doktor bidang Politik Islam di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, pada 2015.

Kariernya mencakup sejumlah bidang strategis. Ia pernah menjadi anggota Komisi I DPR RI periode 2012–2014 serta penasihat Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas pada 2021–2024.

Dalam bidang diplomasi, Husnan mengemban tugas sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Azerbaijan pada 2016–2021. Azerbaijan University of Languages juga memberikan gelar profesor kehormatan kepadanya pada 2018 atas kontribusinya dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.

Di tengah perjalanan karier nasional dan internasional, Husnan tetap menjaga keterlibatannya dalam pendidikan pesantren. Ia menjadi anggota Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Darul Ilmi Indonesia di Depok.

Pengabdian sebagai Pedoman Hidup Santri

Dalam kesempatan tersebut, Husnan turut mengenang nasihat kiainya yang menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan.

“Kiai saya mengatakan, sekali hidup, hiduplah yang berarti bagi keluarga, bangsa, dan agama,” tuturnya.

Menurut Husnan, nasihat tersebut mengajarkan pentingnya menghadirkan manfaat melalui setiap peran yang dijalani. Santri tidak cukup hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga perlu mengambil bagian dalam kehidupan sosial dan pembangunan bangsa.

Ia turut mengapresiasi Islam Nusantara Center selaku penyelenggara Anugerah Santri of The Year 2026. Husnan berharap kegiatan tersebut terus mempertemukan santri dan tokoh dari berbagai bidang serta mendorong generasi muda pesantren untuk meningkatkan kapasitas diri.

Penghargaan Santri Diplomat Inspiratif yang diterimanya menjadi momentum untuk kembali menegaskan pentingnya nilai-nilai pesantren dalam kehidupan bermasyarakat. Bagi Husnan, akhlak, keluasan ilmu, dan semangat pengabdian harus terus menyertai perjalanan seorang santri, di mana pun ia berkarya.

Sebelumnya

Wamensos Agus Jabo di FGD PWI DIY: Wartawan Udin Layak Jadi Pahlawan Nasional

Selanjutnya

Polresta Sleman Gelar Operasi Patuh Progo 2026, Sasar Pelanggaran Lalu Lintas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement