Beranda Berita Utama Nostalgia 90-an Menggema di Prambanan Jazz 2026, Michael Learns To Rock Sihir Belasan Ribu Penonton
Berita Utama

Nostalgia 90-an Menggema di Prambanan Jazz 2026, Michael Learns To Rock Sihir Belasan Ribu Penonton

Nostalgia 90-an Menggema di Prambanan Jazz 2026, Michael Learns To Rock Sihir Belasan Ribu Penonton

Marknews.id – Malam pertama Prambanan Jazz Festival 2026 menghadirkan perjalanan nostalgia bagi belasan ribu penonton yang memadati kawasan Candi Prambanan, Jumat (3/7/2026). Grup pop legendaris asal Denmark, Michael Learns To Rock (MLTR), sukses menghidupkan kembali kenangan era 1990-an melalui deretan lagu romantis yang telah melekat di hati para penggemarnya selama puluhan tahun.

Tampil sebagai headliner hari pertama festival bertema Celebrate The Joy, MLTR langsung mencuri perhatian sejak menginjak panggung utama pada pukul 21.00 WIB. Suasana hangat terbangun ketika sang vokalis, Jascha Richter, membuka interaksi dengan penonton melalui candaan yang mengundang gelak dan sorakan.

“Halo Yogyakarta, halo Prambanan. Tonight, Michael Learns To Jazz,” kata Jascha dalam bahasa Inggris dari atas panggung, Jumat malam, 3 Juli 2026.

Candaan tersebut terasa relevan dengan atmosfer Prambanan Jazz yang dikenal menghadirkan kolaborasi berbagai genre musik. Meski identik sebagai band pop romantis, MLTR mampu menyesuaikan penampilan mereka dengan nuansa festival tanpa kehilangan karakter khas yang telah membesarkan nama mereka di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Lagu Someday dipilih sebagai pembuka konser. Sejak nada pertama dimainkan, ribuan penonton langsung bernyanyi bersama. Momen tersebut menjadi penanda bahwa kedekatan emosional antara MLTR dan penggemar Indonesia masih terjaga meski perjalanan karier band ini telah berlangsung lebih dari tiga dekade.

Sepanjang kurang lebih satu setengah jam penampilan, Jascha Richter bersama gitaris Mikkel Lentz dan drummer Kåre Wanscher membawakan sejumlah lagu populer yang menjadi soundtrack kehidupan generasi 1990-an. Lagu-lagu seperti Complicated Heart, Sleeping Child, 25 Minutes, Paint My Love, The Actor, Out of the Blue, That’s Why (You Go Away), Take Me to Your Heart, hingga Wild Women mengalun bergantian dan disambut koor penonton.

Selain itu, MLTR juga membawakan My Love Will Never Die, You Took My Heart Away, Breaking My Heart, dan I Still Carry On. Beberapa lagu disajikan dengan aransemen yang lebih lembut sehingga selaras dengan nuansa jazz yang menjadi identitas festival.

Salah satu momen paling emosional terjadi saat Jascha memperkenalkan lagu Sleeping Child. Sebelum membawakan lagu tersebut, ia menyampaikan pesan yang menyentuh kepada para penonton.

“Lagu ini saya persembahkan untuk anak-anak di seluruh dunia,” kata sang vokalis sebelum mulai menyanyikan lagu tersebut.

Interaksi hangat terus terjalin sepanjang konser. Jascha beberapa kali menyapa penonton dan mengapresiasi antusiasme yang ditunjukkan ribuan penggemar yang memadati area pertunjukan.

“You look beautiful, you all,” ujarnya, yang kembali disambut riuh penonton.

Didukung cuaca malam yang cerah dan latar megah Candi Prambanan, konser MLTR menghadirkan suasana romantis yang semakin memperkuat kesan nostalgia. Banyak penonton terlihat larut dalam kenangan saat menyanyikan setiap lirik lagu yang pernah populer pada masa kejayaan band tersebut.

Kedekatan MLTR dengan penikmat musik Indonesia memang bukan tanpa alasan. Lagu-lagu mereka dikenal memiliki melodi yang mudah diterima, lirik berbahasa Inggris yang sederhana, serta tema cinta yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Faktor tersebut membuat karya-karya mereka mampu bertahan lintas generasi dan tetap relevan hingga saat ini.

Bagi sebagian penonton, konser ini menjadi kesempatan untuk kembali mengenang masa muda mereka. Salah satunya adalah Herry Santoso, penonton asal Sleman yang mengaku memiliki ikatan emosional dengan lagu-lagu MLTR.

“Bagi yang masa mudanya pada 90-an, lagu-lagu Michael Learns To Rock memang menjadi nostalgia,” kata Herry Santoso, salah seorang penonton asal Sleman.

Sementara itu, CEO Prambanan Jazz Festival, Anas Syahrul Alimi, menilai kehadiran MLTR menjadi representasi semangat festival yang berupaya mempertemukan berbagai generasi melalui musik. Menurutnya, keberagaman musisi yang tampil setiap tahun menjadi kekuatan utama Prambanan Jazz dalam menjangkau penonton dari berbagai latar belakang usia.

“Prambanan Jazz menjadi ruang perjumpaan lintas generasi. Yang tampil datang dari generasi yang berbeda dan membawa kenangan yang berbeda pula bagi para penontonnya,” kata Anas.

Penampilan Michael Learns To Rock pada malam pembuka Prambanan Jazz Festival 2026 menunjukkan bahwa kekuatan musik tidak mengenal batas waktu. Tiga dekade setelah lagu-lagu mereka pertama kali populer, karya-karya MLTR masih mampu menyatukan ribuan orang dalam satu ruang yang sama, menghadirkan kenangan, emosi, dan kebahagiaan yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Sebelumnya

Prambanan Jazz 2026 Perkuat Misi Edukasi, Kenalkan Jazz ke Generasi Muda Lewat Musisi Populer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement