Scooter Vespa Vs Bajaj
Oleh:Agus U, jurnalis
Marknews.id – PERSAINGAN sepeda motor jenis scooter (skuter) pada era 1950-an hingga 1970-an tergolong ketat. Skuter yang beredar di Indonesia tidak hanya Vespa Piaggio, tetapi juga Lambretta, Iso, Rabbit, Motobi, dan lainnya. Rata-rata berkapasitas mesin 125–150 CC, meski sudah ada pula Vespa 100 CC. Seluruhnya menggunakan mesin dua tak (two stroke engine), dengan tuas pemindah kecepatan (versnelling) berada di tangan kiri bersamaan dengan tuas kopling.
Hampir semua skuter yang beredar saat itu, termasuk di Yogyakarta, menempatkan mesin di sebelah kanan. Berbeda dengan skuter masa kini yang menempatkan mesin di sisi kiri.
Namun, persaingan tersebut perlahan melemah. Pada akhirnya hanya tersisa Lambretta dan Vespa. Lambretta pun tumbang pada awal 1970-an, menyisakan Vespa sebagai skuter yang berjaya. Di era 1970-an muncul Vespa Super, Vespa Sprint, dan Vespa Super Sprint (SS).
Selanjutnya, Vespa menjadi satu-satunya skuter yang masih memiliki jaringan penjualan. Dua varian yang beredar saat itu adalah Vespa Super dan Vespa Sprint, keduanya bermesin 150 CC. Perbedaan utama hanya pada ukuran roda, di mana Vespa Sprint berukuran lebih besar.
Memasuki tahun 1980-an, muncul scooter buatan India dengan bentuk yang hampir 100 persen sama. Bahkan sekitar 90 persen suku cadang atau onderdilnya dapat saling ditukarkan.
Vespa buatan India ini dinamakan Bajaj, sama dengan merek kendaraan roda tiga yang digunakan sebagai angkutan umum di Jakarta. Vespa sendiri sebenarnya juga memiliki kendaraan roda tiga yang disebut Vespa Ape, namun tidak beredar di Indonesia.
Bajaj Scooter ini kemudian banyak disebut sebagai Vespa Bajaj. Pada awal kehadirannya di Indonesia, skuter asal India tersebut hadir dengan varian Bajaj Chetak yang ukurannya menyerupai Vespa Sprint yang besar.
Kini, setelah hampir 50 tahun berlalu, kalangan generasi muda bahkan para penggemar Vespa tak lagi mampu membedakan mana Vespa dan mana Bajaj. Mereka lebih banyak memandang sepeda motor skuter dengan bentuk seperti itu sebagai Vespa. Padahal, antara Vespa dan Bajaj terdapat banyak perbedaan.
Setidaknya ada empat perbedaan yang menyolok, yakni bentuk klakson, warna pelat speedometer, warna starter pancal, serta keberadaan pelat silang di bagian bawah tebeng pada Bajaj.
Saat ini, yang banyak beredar adalah skuter matik atau yang sering disebut skutik, termasuk keluaran Vespa. Bahkan ada yang bermerek Vespa dan ada pula yang bermerek Piaggio. Semuanya serupa dengan skutik keluaran Jepang dan Taiwan, dengan mesin di sisi kiri.
Tak ada lagi mesin di kanan.
Tak lagi terlihat pengendara Vespa yang duduk agak ke kiri di atas sadel. Secara psikologis, dulu keberadaan mesin di kanan membuat pengendara merasa sepeda motor harus sedikit miring ke kanan.
Tak ada lagi mitos bahwa skuter, meski seluruh bodinya berbahan besi, tidak ada yang mencuri.
Di SPBU, tak ada lagi orang mengantre sambil menuangkan olie ke dalam tangki karena membutuhkan bensin campur.
Tak ada lagi dengung melengking khas skuter Vespa, karena pada bagian jeruji pengaman kipas kini dipasang isolasi.
Tak ada lagi orang yang memutari sepeda motor setelah menghidupkan mesin.
Biasanya, orang menghidupkan mesin Vespa dengan cara berdiri di samping kanan, menghadap ke belakang, lalu kaki menginjak “kick starter”, kemudian memutari sepeda motor untuk naik. Sangat jarang orang menyalakan mesin Vespa sambil duduk di atas sadel, atau menghidupkan mesin dari kanan lalu naik sepeda motor dari sisi kanan pula.
Vespa lama tercatat sebagai sepeda motor yang paling mudah “distandarkan” saat akan ditinggal. Cukup berdiri di sebelah kanan atau kiri kendaraan, lutut mendorong “bokong” Vespa, sementara tangan hanya memegang agar kendaraan tidak roboh. (***)











