Jogja Tempo Doeloe

HWK dan HWK

Ilustrasi

Oleh :Agus U, jurnalis

Marknews.id
– HWK yang saya maksud di sini bukan Himpunan Wanita Karya dan bukan pula Hutama Wisesa Kertakarya (PT), sebuah perusahaan yang bergerak di bidang material handling dan crane, bukan pula HWK Auto Tune Up.
Sekelompok wartawan yang biasa meliput kegiatan di Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya yang sering ‘ngumpul’ di Biro Humas Setda DIY di Bale Woro Kepatihan: Himpunan Wartawan Kepatihan.

Tahun-tahun 1990-an, para wartawan senior yang berkumpul di sini antara lain: Pak Ircham (foto KR), mBah Koyo (foto Harian Masa Kini/Yogya Post), Mas Tarko (foto Harian Berita Nasional), Sabdono (Majalah Djaka Lodhang), Mas Adib Lazwar Irkhami (Jawa Pos), Pak Masduki/Pak Djarot (LKBN Antara), Mas Bowo (Harian Sore Wawasan), Wineng Endah Winarni (Harian Bernas), Amru Hamzah (Harian Merdeka), Pak Saryono (RRI), Pak Giek (Suara Merdeka), Pak Soegijono (Kantor Berita Nasional Indonesia/KNI), mBah Moekhidjab (Harian Pelita), Pak Oethomo Soebarkah (Pikiran Rakyat), mBah Emse (Harian Berita Nasional kemudian Koran Masuk Desa Kndha Raharja), Mas Erfin Asman (Harian Sore Surabaya Post), dan masih banyak lagi yang maaf tidak teringat lagi.

Mengikuti para wartawan senior, melakukan liputan haruslah tertib, sopan, dan teratur. Tak akan ada wartawan liputan di Kepatihan menggunakan celana jins, tak ada yang memakai kaos baik polo shirt maupun T-shirt, tak ada pula sepatu kets meski sepatu sandal diizinkan. Tak ada wartawan foto dluyar-dluyur ke sana kemari mencari objek, tak ada wartawan foto yang memotret para tokoh yang sedang menikmati hidangan maupun unjukan.

Semua menunggu di Biro Humas Setda DIY sebelum melakukan liputan di lingkungan Kepatihan. Ketika di Bangsal Kepatihan, para wartawan akan mengikuti liputan di Pringgitan atau masuk di Dalem Ageng.

Wartawan hampir setiap hari datang ke Kepatihan. Sebelum pulang biasanya akan mencatat papan agenda yang ada di Kantor Sekwilda di Pracimosono dan di Kantor Protokol yang ada di barat Gedhong Wilis.

Sedangkan HWK lainnya adalah Himpunan Wartawan Kewan.
Tak banyak perubahan komposisi dari HWK—Kepatihan. HWK yang ini tercatat sebagai wartawan peliput di KRKB—Kebun Raya Kebun Binatang—Gembira Loka, yang saat itu belum memakai nama GL Zoo.

HWK yang ini biasa memarkir sepeda motornya di dalam, masuk melalui pintu samping sebelah utara bangunan penjualan tiket. Liputannya mulai dari adanya koleksi baru, anakan baru, atau kegiatan yang ada di KRKB Gembira Loka. Lomba Nembang di Mayang Tirto yang rutin digelar, atau liputan atraksi wisata libur lebaran dan lainnya.

Gembira Loka tercatat sebagai kebun binatang yang berhasil menangkarkan komodo (Varanus komodoensis) dan beberapa satwa lainnya. Pernah pula ada satu ritual khusus yang disebut “rhung”, menjinakkan gajah ala Thailand. Dan berhasil.

Seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan dunia pers serta kebutuhan informasi yang makin berkembang, tak ada lagi istilah HWK di dua lokasi tersebut. (***)

Sebelumnya

Telaga Madiredo, Destinasi Alam Sejuk di Pujon yang Cocok untuk Liburan Bernuansa Petualangan

Selanjutnya

Marawa Beach Club, Destinasi Rekreasi Keluarga dengan Konsep Modern di Pantai Air Manis Padang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement