Beranda Jogja Tempo Doeloe Kartu Pilihan Pendengar dan Sahabat Pena
Jogja Tempo Doeloe

Kartu Pilihan Pendengar dan Sahabat Pena

Oleh : Agus U, jurnalis

Marknews.id – “Dari tiga piyik kingkong teruntuk yang tersayang, cewek heiho… salam bahagia selalu dan selamat menikmati sajian lagu ini….”

Kalimat seperti itu sering terdengar dari corong radio pada tahun 1970-an. Masa ketika koran dan majalah masih dianggap barang mewah, dan komunikasi antarremaja tidak semudah menekan tombol layar ponsel. Radio menjadi jembatan perasaan, ruang tempat pesan-pesan manis dan salam rindu berseliweran di udara.

Saat itu, masyarakat mengenal istilah radio amatir atau radio siaran swasta—penyebutan untuk stasiun radio nonpemerintah yang kemudian tergabung dalam PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia). Aturannya sederhana: mereka boleh menyiarkan hiburan, tetapi berita nasional harus diambil dari RRI. Maka, udara pun dipenuhi produksi lokal—mulai dari ketoprak, wayang kulit, gendhing Jawa, uyon-uyon, sandiwara, hingga program pilihan pendengar.

Perkembangan radio kala itu tak lepas dari kemajuan teknologi. Dari radio tabung yang memerlukan waktu hingga 30 menit untuk “hangat” dan siap mengeluarkan suara, beralih ke radio transistor yang jauh lebih praktis—cukup menekan tombol ceklik, suara penyiar langsung terdengar. Harga radio transistor pun lebih terjangkau. Tidak perlu lagi antena dari bentangan kawat tembaga sepanjang 10 meter, cukup menyalakan dan menikmati.

Merek-merek seperti Hitachi, Ralin, Toshiba, Philips, Grundig, National Gobel, hingga merek lokal bertebaran di pasaran. Hampir setiap rumah memilikinya. Dari situlah budaya mendengarkan tumbuh, terutama di kalangan remaja.

Program pilihan pendengar menjadi ruang ekspresi sekaligus jembatan komunikasi. Para remaja mengirimkan kartu pilihan pendengar—dikenal juga dengan singkatan pilpen. Harganya dulu Rp5, lalu naik menjadi Rp7,5 per lembar, atau yang disebut telung ringgit. Di kartu itu, mereka menulis nama, permintaan lagu, program dan jam siaran, untuk siapa lagu ditujukan, serta nama penyanyi dan judul lagu. Setelah diisi, kartu dikirim ke stasiun radio.

Bayangkan, di studio-studio kecil yang tersebar di Yogyakarta dan sekitarnya—Radio Flamboyant di Ngampilan, Retjo Buntung di Jagalan, Bikima di Bintaran Kidul, Rasia Lima, Geronimo, Unisi, hingga THR dengan acara Nomor Loda-nya setiap pagi—ribuan kartu itu menumpuk, menunggu dibacakan penyiar. Di kabupaten pun bermunculan RPD (Radio Pemerintah Daerah) yang menambah semarak siaran lokal. Dari gelombang SW, MW, hingga FM stereo, semuanya menjadi saksi geliat budaya radio yang hidup dan hangat.

Lewat pilihan pendengar, tak jarang tumbuh pertemanan bahkan percintaan. Setelah sering menyapa lewat udara, banyak yang mengadakan “jumpa darat”—istilah untuk pertemuan langsung antara penggemar dan pendengar setia.

Sementara itu, di media cetak, muncul rubrik sahabat pena. Di sana, remaja dari berbagai daerah memperkenalkan diri. Foto, nama, alamat, zodiak, hingga hobi terpampang rapi. Menariknya, di kolom hobi, selain membaca, musik, atau olahraga, sering tertulis “korespondensi”. Jika ada yang terasa cocok, surat pun dikirim—lengkap dengan perangko dan amplop beraroma tinta.

Kalimat penutup yang paling populer?
“4×4 sempat tak sempat mohon dibalas.”
Sebuah ungkapan sederhana namun hangat, menggambarkan kerinduan untuk tetap terhubung.

Namun, memasuki era 1990-an, segalanya perlahan berubah. Kartu pilpen dan rubrik sahabat pena mulai hilang, tergantikan oleh telepon rumah, lalu ponsel yang makin murah dan mudah dijangkau. Permintaan lagu kini cukup lewat telepon, bahkan bisa karaoke langsung di udara.

Dan sahabat pena? Kini mereka bereinkarnasi di dunia digital—bernama aplikasi pertemanan. Dari yang umum hingga yang khusus, seperti MiChat, Zangi, dan entah apa lagi yang akan lahir besok.

Namun bagi mereka yang pernah mengirim kartu pilpen atau menunggu surat dari sahabat pena, kenangan itu tak akan tergantikan. Ada getar yang tak bisa dikirim lewat sinyal. Ada kehangatan yang hanya bisa lahir dari tulisan tangan dan suara penyiar yang lembut mengucap:

“Salam bahagia selalu… dan selamat menikmati sajian lagu ini.”

Sebelumnya

KAI Daop 6 dan DJKA Lakukan Rampcheck Jelang Natal dan Tahun Baru, Pastikan Keamanan dan Kenyamanan Penumpang

Selanjutnya

Kitab I‘ānatuth Ṭālibīn: Cahaya Fikih yang Tetap Menyala di Zaman Digital

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement