Beranda Jogja Tempo Doeloe Warung Texas: Dari Gang Sempit Jadi Legenda Kuliner Mahasiswa Jogja
Jogja Tempo Doeloe

Warung Texas: Dari Gang Sempit Jadi Legenda Kuliner Mahasiswa Jogja

Ilustrasi

Marknews.id – Nama “Warung Texas” mungkin terdengar gagah untuk ukuran warung makan di gang sempit. Tapi di Jogja, nama itu punya makna istimewa. Ia adalah simbol kehangatan, kesederhanaan, dan rasa rumahan yang lekat di ingatan para mahasiswa sejak era 1980-an.

Cerita tentang Warung Texas bermula dari sepasang suami istri sederhana: Pak Arjo dan Bu Arjo. Warung mereka dulu hanya berdinding gedeg (anyaman bambu) dan berlantai tanah, tersembunyi di sebuah gang kecil di kawasan mahasiswa. Namun siapa sangka, dari tempat sederhana itulah lahir legenda kuliner yang tak lekang oleh waktu.

Di masa itu, warung ini dikenal dengan sebutan Warung Koboi. Julukannya muncul karena suasananya yang ramai dan harganya yang “bersahabat untuk kantong mahasiswa.” Di sana, mahasiswa, tukang becak, sopir colt kampus, hingga para dosen duduk berbaur di meja kayu panjang. Tak ada batas. Hanya tawa, obrolan hangat, dan aroma sop ndeso yang mengepul dari dapur Bu Arjo.

Menu andalan mereka sederhana: sayur sop kampung, ayam goreng, lodeh nangka muda, dan tempe garit—ditemani sambal tomat segar yang bikin ketagihan. Porsinya besar, rasanya mantap, dan yang paling penting: murah. Tak heran kalau setiap jam makan, warung itu selalu penuh.

Yang menarik, pelanggan setia warung ini bukan hanya mahasiswa lokal. Beberapa dosen bule yang mengajar bahasa Inggris juga sering makan di sana. Ada Richard Anthony Carter dan Juliette Hulme dari Inggris, serta Kevin Gaw dan Dannylin Fox Rutherford dari Amerika. Mereka semua sepakat: masakan Bu Arjo “enak, murah, dan penuh cinta.”

Namun yang paling berkesan dari Warung Texas bukan hanya soal rasa. Pak Arjo dan Bu Arjo dikenal berhati lapang. Tak sedikit mahasiswa yang diizinkan makan meski belum punya uang. “Makan saja dulu,” kata Bu Arjo lembut, “bayarnya nanti.” Dan sering kali, “nanti”-nya itu tak pernah ditagih.

Nama “Texas” sendiri lahir dari peristiwa unik. Suatu malam, para mahasiswa menggelar acara pentas seni bertema koboi dan menampilkan kehidupan di sebuah bar di Texas. Keesokan harinya, papan tulisan “Texas” dari panggung itu dibawa dan dipasang di depan warung Pak Arjo. Sejak saat itu, semua orang memanggilnya Warung Texas, dan gang tempat warung itu berdiri pun ikut dikenal sebagai Gang Texas.

Bahkan oleh para tetangga dan pelanggan warung, pasangan ini kemudian dikenal dengan sebutan Pak Arjo Texas dan Bu Arjo Texas. Nama panggilan itu melekat hingga kini, seolah menjadi penghormatan bagi dua sosok yang telah memberi warna dalam kehidupan banyak orang.

Tahun demi tahun berlalu. Warung Texas terus berbenah: lantainya kini keramik, dindingnya bercat hijau muda, dan jendelanya kaca bening yang memantulkan cahaya sore. Tapi satu hal yang tak berubah—rasa masakan dan keramahan khas keluarga Arjo.

Kini, setelah Pak Arjo dan Bu Arjo tiada, warung legendaris ini diteruskan oleh anak-anak mereka. Sang anak sulung bahkan membuka cabang bernama Texas Putra di gang tak jauh dari lokasi warung pertama. Cita rasanya tetap sama, seolah waktu berhenti di sana.

Warung Texas bukan sekadar tempat makan. Ia adalah potongan kisah tentang masa muda, solidaritas, dan cinta sederhana yang lahir dari dapur bambu di gang kecil Jogja.

Sebelumnya

Kattebelletje VS Katte Belletje

Selanjutnya

Peringatan Hari Santri 2025 di Ponorogo, Soroti Gerakan Nasional “Ayo Mondok”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement