Produksi Padi Sleman Menurun, HKTI Soroti Dampak Alih Fungsi Lahan
Marknews.id – Momentum Ramadan dimanfaatkan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan sektor pertanian dalam acara buka puasa bersama di Ballroom Hotel Alana Palagan, Jumat (28/2/2026). Pertemuan ini tidak sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang evaluasi terbuka atas dinamika produksi pangan di wilayah DIY yang kini menunjukkan pergeseran signifikan.
Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Wakil Bupati Sleman Danang Maharsya, anggota DPR RI Totok Herdianto Santosa, penggerak pertanian Eka Yulianta, serta pelaku usaha tani perempuan Dwi Susilowati, pemilik Susi Farms.
Dalam sambutannya, Danang menyoroti posisi strategis sektor pertanian sebagai fondasi ketahanan pangan daerah. Namun, ia mengakui adanya tantangan serius yang kini dihadapi wilayah Sleman, yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan utama DIY.
“Setiap orang membutuhkan makanan, pertanian memegang peranan sangat penting sebagi usaha manusia mendapatkan bahan pangan,” jelas Danang saat memberikan sambutan.
Menurut Danang, penurunan produksi padi di Sleman tidak terlepas dari perubahan struktur penggunaan lahan. Alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan pemukiman dan properti disebut sebagai faktor dominan yang secara bertahap mengurangi kapasitas produksi pangan. Selain itu, ia juga menyinggung adanya perbedaan signifikan dalam catatan statistik produksi antara Sleman dan wilayah tetangganya.
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan kontras yang cukup tajam. Kabupaten Gunungkidul justru mengalami lonjakan produksi padi pada 2025. Produksi mencapai 299.624 ton Gabah Kering Giling (GKG), melampaui target 291.000 ton, dengan produktivitas rata-rata 5,6 ton per hektare dan luas lahan mencapai 55.576 hektare.
Peningkatan tersebut didorong oleh penggunaan varietas unggul serta penguatan infrastruktur irigasi, termasuk pembangunan sumur bor. Secara total, produksi padi di Gunungkidul naik hampir 30.000 ton dibanding tahun sebelumnya, menandakan adanya transformasi dalam pengelolaan sektor pertanian di wilayah tersebut.
Sebaliknya, Sleman mencatat produksi padi sebesar 178.899 ton GKG sepanjang Januari hingga September 2024. Meski angka tersebut belum mencakup produksi hortikultura dan peternakan, tren ini memperlihatkan perubahan karakter produksi pertanian Sleman yang kini lebih banyak bertumpu pada komoditas hortikultura, seperti melon dan semangka.
Sementara itu, Totok menilai persoalan keterbatasan lahan pertanian di Sleman membutuhkan langkah kebijakan yang tegas dan terintegrasi antara pemerintah daerah dan masyarakat.
“Pengolahan pertanian Sleman harus melibatkan pemerintah kabupaten Sleman. Bupati wajib menegaskan penggunaan lahan pertanian dan lahan pemukiman. Selain itu masyarakat harus diajari tekhnik pemuliaan tanaman dan pemuliaan air sungai agar pertanian Sleman berkembang,” jelas Totok Hedi saat diwawancara.
Politikus dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut menambahkan bahwa penguatan kapasitas petani melalui teknologi dan manajemen sumber daya air menjadi kunci untuk mempertahankan daya saing sektor pertanian di tengah tekanan urbanisasi.
Fenomena ini memperlihatkan adanya pergeseran peta produksi pangan di DIY. Jika sebelumnya Sleman menjadi penopang utama produksi padi, kini peran tersebut mulai diimbangi bahkan dilampaui oleh wilayah lain seperti Gunungkidul. Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah untuk menata ulang strategi perlindungan lahan pertanian sekaligus mendorong inovasi produksi yang lebih adaptif.
Pertemuan HKTI tersebut ditutup dengan buka puasa bersama, sekaligus menjadi simbol komitmen kolektif berbagai pihak untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian di tengah perubahan lanskap pembangunan daerah.











