Beranda Jogja Tempo Doeloe Melihat Surutnya Capaian Teknologi (1)
Jogja Tempo Doeloe

Melihat Surutnya Capaian Teknologi (1)

Ilustrasi

Oleh:Agus U, jurnalis

Marknews.id – GENERASI yang kini memasuki usia lanjut, ternyata banyak menyaksikan kematian atau setidaknya surutya pemanfaatan berbagai teknologi yang waktu itu menjadi andalan dan menjadi kebanggaan.
Kemajuan-kemajuan yang dicapai dan dimanfaatkan saat itu, kini banyak yang menghilang dan masuk gudang bahkan menjadi barang loak yang tak lagi dikenal.

Mereka yang mengalami pendewasaan pada era 1970-an hingga 1990-an pernah merasakan dan bahkan memanfaatkan:

1. Box Telepon
Meski kemajuan ekonomi telah dicapai, namun belum semua rumah tangga memiliki atau berlangganan (abonemen) telepon dari perusahaan negara yang berurusan dengan telepon. Mulanya PTT — perusahaan yang menangani Pos, Telegram dan Telepon.
Badan Usaha Milik Negara ini kemudian dipecah menjadi PT Telkom yang mengurusi telepon dan telegram dan PT Posindo yang urusannya kirim surat dan paket.
Sedangkan untuk menghubungi orang yang jauh atau kantor menggunakan telepon, jika orang itu tidak memiliki atau tidak berlangganan, bisa mendatangi kantor telepon baik yang ada di Kotabaru, Jalan Ibu Trikora (Pangurakan), maupun di Pugeran.
Datang ke lokat dan minta disambungkan ke nomor telepon yang dituju, siapa penerima telepon yang diharapkan dan siapa yang akan menanggung beban biaya. Layanan ini hanya layanan interlokal atau antar kota yang jauh yang kemudian dikenal SLJJ atau Sambungan Langsung Jarak Jauh.
Setelah menunggu antrean, petugas loket akan memanggil dan menunjukkan ke kamar atau box mana kita berkomunikasi. Petugas akan menyambungkan ke nomor yang dituju, jika sudah tersambung akan dikoneksikan dengan orang yang ada di box telepon.
Setelah selesai, harus kembali ke loket untuk membayar biaya telepon. Kecuali sejak awal menyataka PTD yang berarti tagihan akan dibebankan kepada penerima.
Memasuki masa booming telepon, kemudian Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi yang saat itu menterinya adalah Soesilo Soedarman membuka kesempatan orang membuka usaha layanan telepon. Namun masih interlokal. Nama usaha itu disebut wartel atau warung telekomunikasi. Lama-lama warnet berkembang hingga melayani pula sambungan lokal dan kemudian banyak usaha wartel dengan hanya satu atau dia box telepon.
Sedangkan yang besar-besar antara lain Cemara Tujuh di Jalan Kaliurang – Ringroad Utara, Koperasi Gadjah Mada yang ada di lokasi yang sekarang tergusur oleh GIK, serta sejumlah lokasi lainnya.

2. Telegram
Telegram, bukan seperti yang kita saksikan sekarang yang merupakan aplikasi di henpon. Aplikasi komunikasi yang mirip dengan whatsapp.
Telegram merupakan surat singkat pendek atau sering pula disebut dengan surat kawat. Mula-mula untuk mengirim berita yang rata-rata bersifat darurat dan cepat, harus mendatangi kantor telepon (Telkom) dan di waktu kemudian dilayani pula di beberapa wartel.
Pengiriman surat pendek ini biayanya dihitung berdasar jumlah suku kata yang akan dikirim. Karakter berupa titik, titik koma, koma, nomor dan sebagainya juga dihitung per suku kata. Jadi berapa suku kata dikalikan harga per suku kata. Harga per suku kata berbeda-beda mengikuti jarak kota asal dengan kota tujuan. Besarannya sudah ditetapkan.
Penerima telegram biasanya merasa deg-degan, karena isinya pasti darurat. “Harap lekas datang kakek sakit keras” misalnya.
Sementara antar kantor berkembang yang diebut telex. Mirip dengan telegram tetapi ini sifatnya mengetik dengan penerima jarak jauh. Setiap pemakai telex dipastikan memiliki nomor telex seperti nomor telepon.

3. Faximile
Facsimile atau faksimili adalah perkembangan selanjutnya. Berbeda dengan telegram atau telex, faksimili sempat dinilai sebagai teknologi makar.
Kala itu, pengiriman data tertulis dengan menggunakan faksimili menjadi hal yang sulit disadap. Teknologi ini pula yang sempat dituduh ikut andil besar menjatuhkan pemerintahan komunis Polandia, Hungaria, Jerman Timur dan pemerintahan kiri di berbagai negara Eropa Timur.
Teknologi faksimili ini mudahnya adalah fotokopi jarak jauh. Pengirim akan meletakkan naskah tulisan pada mesin faksimili. Kemudian memutar nomor tujuan yang juga menyiapkan mesin serupa. Tersambung dan klik, naskah terfotokopi dan penerimanya langsung dapat melihat tulisan atau naskah yang dikirim.
Mulanya bagi mereka yang tidak memiliki mesin faksimili dapat mengirim melalui jasa di Telkom dan kemudian di wartel.
Kantor Pos Besar memberikan layanan yang lebih lengkap. Mereka yang tidak memiliki mesin faksimili dapat menerima dari mereka yang juga tidak memiliki mesin faksimili. Pengirim dapat berkirim naskah melalui jasa wasantara.
Naskah dikirim oleh petugas di Kantor Pos dan akan diterima oleh Kantor Pos Besar yang ada di daerah penerima. Hasil kiriman ini akan diteruskan ke alamat oleh petugas kurir Kantor Pos.

Lanjutnya? Kita sambung di kesempatan berikutnya. (**)

 

Sebelumnya

Pantai Teleng Ria Pacitan, Primadona Wisata Keluarga dengan Akses Mudah dan Fasilitas Lengkap

Selanjutnya

Pergerakan Penumpang di Bandara Adisutjipto Meningkat, Rute Halim Masih Mendominasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement